Sering kali
dalam
hidup ada
saat-saat
tertentu
ketika kita
harus
membuat
keputusan
penting.
Keputusan yang akan menentukan arah hidup kita
selanjutnya. Saat-saat menentukan dalam hidup
itu adalah ketika kita di persimpangan jalan,
ketika kita harus membuat keputusan penting,
mungkin dalam bidang karir, cinta, keluarga, atau
yang lainnya.
Dan sering kali kita membuat keputusan pada
saat penting hanya berdasarkan logika atau rasio
saja, tanpa mempertimbangkan perasaan dalam
hati. Kita menempatkan logika di atas rasa.
Karena kita berpikir bahwa keputusan terbaik
tentunya keputusan yang dibuat dengan
pertimbangan matang yang didasarkan hanya
pada rasio semata.
Dan begitulah kita sering menjalani hidup kita,
membuat keputusan demi keputusan hanya
dengan berpatokan pada logika pikiran saja. Dan
ini sering terjadi terhadap keputusan penting
dalam hidup kita. Kita memutuskan tanpa
melibatkan rasa, tanpa berusaha mendengarkan
suara kecil dari tempat paling dalam diri kita.
Lalu tanpa kita sadari kita hanya semakin dekat
dengan logika dan sebaliknya semakin jauh dari
rasa. Dan jalan yang kita lalui adalah jalan
berpijakan logika dan rasio.
Carlos Casteneda mengatakan, sebuah jalan
tanpa hati (baca: rasa) adalah jalan yang tidak
menyenangkan. Kita harus menguatkan diri kita
terus menerus, tanpa kita sadari kita semakin
lemah dari dalam. Kita harus terus-menerus
melawan musuh dari dalam diri dari hari ke hari.
Kita terus melakukannya hingga suatu hari kita
lelah, dan rasanya hendak berhenti saja,
breakdown , dan bingung dengan apa yang sedang
terjadi.
Dalam keputusasaan tersebut, ada 2 kemungkinan
yang terjadi. Kita terus memaksakan diri
melangkah di jalan yang sama hingga kita hidup
kita hancur. Atau kita berhenti sejenak, mulai
mencoba mendengarkan suara kecil dari dalam
diri, memahami dirinya, dan memutuskan
mengambil jalan yang sama dengannya.
Hati kita selalu mengetahui yang terbaik untuk
kita. Yang sering terjadi, kita tidak mau
meluangkan waktu untuk mendengarkan
keinginan hati kita yang paling dalam. Sehingga
kita lebih sering menjalani hidup hanya dengan
logika tanpa melibatkan hati. Hidup yang
demikian tidak memberikan kedamaian, hanya
memberikan kesengsaraan. Seolah-olah ada dua
orang dengan keinginan berbeda menapaki jalan
dengan arah berlawanan. Dan ketika akhirnya kita
menyadari bahwa kita telah mengambil jalan
tanpa hati, jalan tersebut telah hampir
menghancurkan hidup kita.
Hati tidak pernah berdusta. Kita hanya perlu
mendengarkannya, mengerti dirinya, dan menjadi
sahabat terbaiknya. Kita lupa perjalanan terbaik
adalah perjalanan dengan dilandasi hati. Jalan
dengan hati selalu membuat diri kita kuat,
meningkatkan kualitas hidup kita, dan membuat
kita terus mengalami pertumbuhan diri. Jalan
dengan hati selalu membawa kebahagiaan hakiki.
Mengambil jalan dengan hati juga selalu
memberikan imbalan yang paling besar. Karena di
akhir setiap perjalanan, yang penting adalah hati.
Jika hati kita bahagia, kita bahagia. Jika hati kita
sedih, kita sedih. Jika hati kita menang, kita
menang. Jika hati kita kalah, kita kalah.
Saya ingin mengutip kata-kata Carlos Castenada:
“For me there is only the traveling on paths that
have heart, on any path that may have heart.
There I travel, and the only worthwhile challenge
is to traverse its full length. And there I travel,
looking, looking, looking breathlessly.”
Sekarang, apakah jalan yang kita tapaki saat ini
memiliki hati? Kita sendiri yang tahu jawabannya.
Lebih Menarik Lagi:


