Blog Legenda Tauhid: Tasawuf
Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan

Terimakasih pada WC

0 komentar

Terimakasih pada WC

Alhamdulillah adada kholqih Alhamdulillah midadalli kalimatih,Alhamdulillah ziinati arsyi
Alhamdulillah ridho nafsih.

Itu kalimat yang senantiasa di ucapkan oleh hatiku( dzikir hati karena tidak boleh dalam wc dzikir lisan) tatkala apa-apa yang ada dalam tubuhku keluar.terutama di saat dalam WC

Kalimat yang kedua:

Terimakasih wahai WC ku
Patut berterimakasih pada tempat yang namanya WC.
Ya WC begitu besar jasanya.
wc luar biasa amanah atas perintah Allah, melindungi-menjaga semua kerahasian siapapun yang masuk.
WC senantiasa merahasiakan semua hal yang memalukan diri kita sendiri maupun orang lain.

® Jagalah kebersihan wc dan santiasa berterimakasih pada wc seusai buang hajat..!


Semua Tentang Fana'

0 komentar

1. Fana Khalaq - Segala pengharapan Murid dan rasa ketakutannya terhadap selain Allah akan menjadi lenyap.
2. Fana Hawa - Hati Murid hanya berkendakkan Zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan merasa tidak berkehendak kepada segala sesuatu yang selain Allah.
3. Fana Iradah - Segala keinginan dalam hati Murid menjadi tiada, seumpama orang yang mati.
 
4. Fana Fi’il - Murid mengalami Fana dalam perbuatan dan perlakuan, maka segala penglihatannya, pendengarannya, percakapannya, makan dan minumnya, berjalannya dan berfikirnya dia akan merasakan bahwa segalanya itu adalah merupakan perbuatan dan perlakuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata-mata.

Nomor 4 ini ada ta'aluq nya dengan hadist qudtsi berikut ini :

Apabila seorang hamba berusaha mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerusi amalan Nawafil sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikannya sebagai kekasihNya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menjadi pendengarannya yang dia dapat mendengar denganNya dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menjadi penglihatannya yang dia dapat melihat denganNya dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menjadi tangannya yang dia dapat memegang denganNya dan Allah
Subhanahu Wa Ta’ala akan menjadi kakinya yang dia dapat berjalan denganNya.

Fana Ta'aluq' pada sebab ada  3  : 
1. Fana' bi syekh
2. Fana' bi Rasul
3. Fana' fillah

Berikut ini beberapa ungkapan yang terkain dengan Fana'

A. Sembahyang orang yang cinta (mahabbah) ialah memfanakan diri sementara sembahyang orang awam ialah rukuk dan sujud.
B. Setengah mereka yang fana (lupa diri sendiri) dalam satu tajali zat dan kekal dalam keadaan itu selama-lamanya. Mereka adalah Majzub yang hakiki.
C. Sufi itu mulanya satu titik air dan menjadi lautan. Fananya diri itu meluaskan kupayaannya. Keupayaan setitik air menjadi keupayaan lautan.

D. Dalam keadaan fana, wujud Salik yang terhad itu dikuasai oleh wujud Allah yang Mutlak. Dengan itu Salik tidak mengetahui dirinya dan benda-benda lain. Inilah peringkatWilayah(Kewalian). Perbezaan antara Wali-wali itu ialah disebabkan oleh perbezaan tempoh masa keadaan ini. Ada yang merasai keadaan fana itu satu saat, satu jam, ada yang satu hari an seterusnya. Mereka yang dalam keadaan fana seumur hidupnya digelar majzub. Mereka masuk ke dalam satu suasana dimana menjadi mutlak.

E. Kewalian ialah melihat Allah melalui Allah. Kenabian ialah melihat Allah melalui makhluk. Dalam kewalian tidak ada bayang makhluk yang wujud. Dalam kenabian makhlik masih nampak di samping memerhati Allah. Kewalaian ialah peringakat fana dan kenabian ialah peringkat baqa
F. Tidak ada pandangan yang pernah melihat Tajalinya Zat. Jika ada pun ia mencapai Tajali ini, maka ianya binasa dan fana kerana Tajali Zat melarutkan semua cermin penzohiran. Firman Allah yang bermaksud :
Sesungguhnya Allah meliputi segala-galanya.(Surah Al-Fadhilah:54)
 
G. Tajali bererti menunjukkan sesuatu pada diriNya dalam beberapa dan berbagai bentuk. Umpama satu biji benih menunjukkan dirinya sebgai beberapa ladang dan satu unggun api menunjukkan dirinya sebagai beberapa unggun api.
H. Wujud alam ini fana (binasa) dalam wujud Allah.Dalilnya ialah Firman Allah dalam Surah An-Nur:35 yang bermaksud;

"Cahaya atas cahaya, Allah membimbing dengan cahayanya sesiapa yang dikehendakinya." dan "Allah adalah cahaya langit dan bumi."
 I. Muraqobah ialah memfanakan hamba akan afaalnya dan sifatnya dan zatnya dalam afaal Allah, sifat Allah dan zat Allah.
J. Al-Thomsu atau hilang iaitu hapus segala tanda-tanda sekelian pada sifat Allah. Maka iaitu satu bagai daripada fana.
  
Tanda seseorang sudah fana'
1. Tidak merasakan lelah
2. Tidak merasakan ngantuk
3. Tidak merasakan lapar
4. Tidak terbebani dengan masalah yang dihadapi
5. Lillah jika mendapatkan musibah 

Untuk mencapai fana kita harus membiasakan zikrullah otak/pikiran,pendengaran,penglihatan,ucapan serta gerak dalam tubuh kita, karena semua itu adalah kodrat iradad Allah juga adanya, dan untuk pencapaian fana sangatlah dituntut untuk mengenal diri terlebih dahulu, sebagaimana hadist "  Barang siapa mengenal akan dirinya maka kenal lah akan Tuhannya "
 


Definisi Fana' dan Baqo' menurut para Sufi

0 komentar

Dari Ja’far al-Khuldi — rahimahullah — yang berkata: Saya mendengar al-Junaid berkata ketika ditanya tentang fana’, “Apabila fana’ telah hilang dari sifat-sifatnya, maka akan menemukan baqa’ dengan kesempurnaannya.”
 
Ja’far al-Khuldi berkata: Saya pernah mendengar dari
al-Junaid — rahimahullah — yang mengatakan, “Seluruh diri Anda menganggap asing dari sifat-sifat Anda dan menggunakan diri Anda secara keseluruhan.”

 
Ibnu ‘Atha’ berkata, “Barangsiapa tidak bisa fana’ dari melihat dirinya dengan melihat al-Haq dan tidak bisa fana’ dari al-Haq dengan al-Haq serta tidak bisa gaib dalam kehadirannya dari kehadiran al-Haq, maka ia tidak akan bisa menyaksikan al-Haq.”
 
Asy-Syibli — rahimahullah — berkata, “Barangsiapa fana’ dari al-Haq dengan al-Haq demi kepentingan al-Haq dengan al-Haq maka ia akan fana’ dari ar-Rububiyyah, apalagi fana’ dari aI-’Ubudiyyah.”
 
Barangkali Ruwaim — rahimahullah — pernah berkata ketika ditanya tentang masalah fana’ dan baqa’, “Awal dari ilmu fana’ ialah ketika berpijak pada hakikat-hakikat baqa’. Ini dengan memprioritaskan Allah daripada yang lain, dan mencari semua kondisi spiritual yang ada pada dirinya sehingga Dia merupakan bagiannya, dan hilangnya apa yang selain Allah, sehingga ibadah mereka dengan sendirinya hilang hanya untuk Allah dan yang ada hanyalah ibadah mereka karena Allah dan dengan Allah. Adapun setelah itu tidak akan sanggup dipahami dengan akal dan tidak akan mampu diucapkan lewat lisan.”
Dan Allah telah berfirman:

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa.” (Q.s. ar-Rahman: 26).

 
Maka ciri orang yang fana ialah ketika bagiannya dari dunia dan akhirat telah hilang karena kekekalan mengingat Allah swt, kemudian hilang pula bagiannya dari mengingat Allah swt. ketika mengingat Allah swt. Kemudian ia tidak melihat pada mengingat Allah, sehingga yang ada hanyalah bagiannya dengan Allah.
Kemudian bagiannya dari Allah juga hilang karena melihat bagiannya, kemudian bagiannya juga hilang karena melihat bagiannya dengan fananya fana’ dan kekekalannya baqa’.



 Syekh Abu Nashr as-Sarraj — rahimahullah — berkata: Abu Ya’qub an-Nahrajuri ditanya tentangfana’ dan baqa’ yang benar, maka ia menjawab, “Fana’ yaitu tidak melihat tindakan seorang hamba terhadap Allah Azza wajalla. Sedangkan baqa’ adalah tetap melihat tindakan Allah swt. dalam koridor penghambaan.”
 
Abu Ya’qub — rahimahullah — juga pernah ditanya tentang ilmu fana’ dan baqa’ yang benar, lalu ia menjawab, “Tak selalu dibarengi dengan penghambaan dalam fana’ dan baqa’, dan menggunakan ilmu ridha. Dan barang siapa tidak dibarengi dengan penghambaan dalam fana’ dan baqa’ maka ia adalah orang yang sekadar mengaku.”
 
Syekh Abu Nashr as-Sarraj — rahimahullah — berkata, “Fana’ dan baqa’ adalah dua istilah, dimana keduanya merupakan sifat bagi seorang hamba menauhidkan Allah. Dimana ia hendak melangkah kejenjang yang lebih tinggi, dan tingkatan Tauhid umum menuju tingkatan khusus.
Sedangkan makna fana’ dan baqa’ pada tingkat awal ialah fana’ (hilang) nya kebodohan dengan baqa’ (tetap) nya ilmu, hilangnya maksiat dengan tetapnya ketaatan, hilangnya kelalaian dengan tetapnya mengingat Allah, hilangnya melihat gerak-gerik hamba dengan tetapnya pertolongan Allah swt. dalam ilmu yang telah ditentukan lebih dahulu.”

 
Para guru Sufu terdahulu telah membicarakan masalah fana’ dan baqa’.
Misalnya, Samnun — rahimahullah — yang pernah mengatakan, “Seorang hamba ketika dalam kondisi fana’, maka ia dibawa (mahmul). Sedangkan ketika ia dalam keadaan dibawa (haml) maka ia didatangi (maurud). Inilah sifat-sifat yang menunjukkan adannya sifat-sifat yang lain.” Ia mengatakan, “Tingkatan awal dan tahapan-tahapan fana’ adalah al-wujud dan al-musyahadat terhadap baqa’ (kekekalan).”

 
Abu Said al-Kharraz — rahimahullah — mengemukakan tentang makna firman Allah:
“Dan nikmat apa saja yang ada pada kalian, maka itu dari Allah.” (Q.s. an-Nahl: 53).

 
Maksudnya, Allah menghilangkan andil mereka dalam perbuatan yang mereka lakukan dan perbuatan mereka. Dan inilah awal dan kondisi spiritual fana’.


Hati yang di maksud para sufi

1 komentar

Hati yang dimaksud oleh para Sufi bukanlah organ jasmani dengan nama itu. Jantung jasmani adalah sepotong daging yang terletak di sebelah kiri tubuh di bawah tulang rusuk. Alasan pemakaian istilah hati untuk menggambarkan jantung spiritual adalah karena hubungannya dengan jantung jasmani.

Jantung jasmani berada dalam kondisi perubahan yang tetap, yang mengatur perubahan perubahan antara darah arteri atau darah yang bersih dan darah vena atau darah yang kotor. Hati spiritual juga berada dalam kondisi perubahan yang tetap, yang mengatur arus bolak balik antara pengaruh ruh yang bersih dan pengaruh nafsu yang kotor. Inilah tempat hati mendapatkan nama Arabnya, qalb, dari akar kata q-l-b, yang berarti memutar atau mengganti.
Jantung jasmani memberikan darah kepada pembuluh pembuluh arteri dan menerima darah kotor dari pembuluh vena; ini sangat penting untuk proses pemurnian tubuh manusia. Demikian juga, hati spiritual menerima perangai perangai yang kotor dari nafsu dan membersihkannya dengan bantuan ruh, yang akan mengubahnya menjadi perangai perangai karakter spiritual, untuk memelihara kehalusan jiwa seseorang. Pada dasarnya, hati merupakan titik tengah antara realita jiwa yang bersih dan karakter nafsu yang kotor.

Sebagaimana kehidupan jasmani dari setiap orang berhubungan dengan jantung jasmani, sehingga jika jantung itu rusak maka orang tersebut akan sakit, atau jika jantung itu berhenti bekerja maka orang tersebut akan mati, demikian juga kehidupan spiritual setiap individu berhubungan erat dengan hati spiritual, sehingga jika hati ini menjadi sakit karena pengaruh karakter karakter nafsu, orang menjadi bersikap buruk, dan jika hati ini menjadi dikendalikan sepenuhnya oleh nafsu, maka kehidupan spiritual dari individu akan berhenti.
Jantung jasmani merupakan sebuah tempat pertukaran antara pembuluh vena yang membawa darah kotor dan pembuluh arteri yang membawa darah bersih yang kaya dengan oksigen, yang merupakan udara bersih paru paru, pernapasan. Hati spiritual juga demikian, merupakan sebuah tempat pertukaran antara kekuatan kekuatan nafsu yang kotor dan kekuatan-kekuatan ruh yang bersih, pernapasan spiritual. Jantung jasmani disebut demikian karena lokasinya yang relatif terpusat dalam tubuh. Dengan cara yang sama, hati spiritual disebut demikian karena dalam proses penyempurnaan jiwa individu dia memainkan peranan pada titik tengah antara nafsu dan ruh.

Seperti jantung jasmani mempertahankan fungsi tubuh yang senantiasa berlangsung terus menerus melalui kerjanya yang terus menerus dan secara spontan, hati spiritual secara terus menerus mengatur temperamen dan perbuatan perbuatan psikologis. Jantung jasmani mengatur tubuh jasmani, sedangkan hati spiritual mengatur jiwa.

Hati spiritual disebut qalb karena peralihannya melalui tahap tahap dari beberapa kea daan dalam proses perkembangan menuju ke arah kesempurnaan. Keadaan keadaan yang dimaksud itu merupakan anugerah dan hal-hal yang dianugerahkan oleh Allah tidaklah terbatas jumlahnya, perubahan dan perkembangan yang dilakukan seseorang dalam jalannya menuju kepadaNya, dengan semua permutasi Yang Maha Indah dan Yang Maha Berkehendak, bervariasi secara tidak terbatas. (MH 97)
Hati disebut qalb karena merupakan bagian perwujudan dari aspek aspek Allah yang berbeda beda, yang menggambarkan suatu aspek yang berbeda pada setiap saat, yang beralih (munqalib) dari Sifat ke Sifat. Hati ini juga beralih antara aspek hati yang berhubungan dengan Allah dan aspek hati yang berhubungan dengan makhluk. Yaitu, dia menerima anugerah dari Allah dan menyampaikannya kepada makhluk. (SGR 4)


Hati adalah tempat
Perwujudan Tuhan;
Bagaimana orang dapat menyebut
sebuah hati sebagai rumah setan?

Pergi dan buanglah
benda benda jasmani itu
Yang kausebut sebagai hati
kepada anjing anjing!
(Nurud Din Isfarayini-KAM 137)

Tidak Semua Orang Memiliki Hati
Perlu dicatat bahwa di antara semua makhluk yang diciptakan, hanya manusia yang memiliki hati spiritual.
Namun demikian, dari sudut pandang perkembangan jiwa, sebagian besar manusia mengalami perkembangan tidak lebih dari maqam dari sifat materi (tab') atau nafsu. Hanya segelintir manusia yang telah mencapai tingkat perkembangan hati yang dapat dikatakan bahwa mereka memiliki sebuah hati.
Menurut Al Qur'an: "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar benar terdapat peringatan bagi orang orang yang mempunyai hati." (L: 37).

Wahai hati, duduklah dengan orang
yang mengenal hatinya;
Pergilah ke bawah pohon
yang memiliki bunga bunga segar.

Hati yang sebenarnya sedemikian rupa sehingga bahkan dalam keadaan malapetaka sekalipun Engkau benar benar tidak akan menemukan apa apa di dalamnya selain Allah. (Rumi)

Hati Yang Hidup dan Hati Yang Mati
Hati adalah sebuah medan peperangan antara tentara ruh atau karakter karakter spiritual serta berbagai temperamen yang terpuji, di satu sisi, dan tentara nafsu atau karakter karakter nafsu dan berbagai temperamen tercela, di sisi yang lain. Jika hati jatuh ke dalam pengendalian nafsu dan sifat sifatnya, maka hati menjadi mati, sedangkan jika hati terisi dengan sifat sifat spiritual dan kemanusiaan, hati akan hidup, dan seseorang yang memiliki hati demikian disebut shahib al qalb (yang memiliki hati) dan dikenal sebagai orang yang berhati (ahl al qalb).

Kebanyakan hati manusia berada dalam keadaan fluktuasi antara hati yang mati dan hati yang hidup, walaupun sebagian besar lebih cenderung ke arah hati yang mati, sementara hanya sedikit jumlahnya yang cenderung ke arah hati yang hidup.

Ketika seseorang bertanya kepada Junaid bilamana hati benar benar berisi, dia menjawab, "Apabila hatinya itu adalah hati yang sebenarnya.



Virus Ibadah

0 komentar

Virus atau Hal-hal yang dapat “merusak” perjalanan menuju Allah s.w.t. itu banyak sekali, diantaranya :
a)      KASAL (Malas), malas untuk mengerjakan ibadat kepada Allah s.w.t. padahal sebenarnya anda dapat dan sanggup  untuk melakukan ibadat tersebut.
b)     FUTUR (Bimbang/lemah pendirian), tidak memiliki tekad yang kuat karena terpengaruh oleh kehidupan duniawi.
c)      MALAL (Pembosan), cepat merasa jemu dan bosan untuk melaksanakan ibadah karena merasa terlalu sering dilakukan, padahal tujuan belum juga tercapai.
Timbulnya hal-hl tersebut di atas adalah disebabkan kurang kuatnya rasa keimanan, kurang mantapnya keyakinan, dan banyk terpengaruh oleh hawanafsunya sendiri.
Selanjutnya hala yang mengakibatkan “Gagalnya” untuk mencapai tujuan, antara lain SYIRIK KHOFI (syirik tersembunyi) atau dengan kata lain timbul suatu tanggapan dalam hatinya, bahwa golongannyalah yang paling benar yang paling diterima ibadahnya, golongan lain di luar golongannya itu semua salah dan menyalahkan semua hukum dan akidah yang tidak sesuai dengan golongannya, padahal mereka tidak berpegang pada satu mas’af pun, dan beranggapan bahwa semua amal ibadah yang dia lakukan adalah sepenuhnya dari kemampuannya sendiri, tidak dirasakannya  dan diyakininya, bahwa apa yang dilakukannya itu semua, pada Hakekatnya dari pada Allah s.w.t.
Segala sesuatu yang Allah ciptakan ini (Mahkluk) pada dasarnya/hakikatnya adalah seakan-akan alat belaka dari Allah, namun Mahasuci Allah daripada memerlukan alat.
Hal-hal yang tergolong dalam syirik-khofi antara lain adalah sebagai berikut :
  1. RIA’ (Memamerkan) Sengaja mempertontonkan, menampak-nampakkan ibadah atau amalnya kepada orang lain atau ada suatu maksud tertentu “yang lain daripada Allah”  misalnya beramal semata-mata mengharapkan Sorga.
  1. SUM’AH (Memperdengar-dengarkan) Sengaja menceritakan tentang amal ibadahnya kepada orang lain bahwa dia beramal dengan ihklas karena Allah dengan suatu maksud agar orang lain memberikan pujian dan sanjungan kepadanya.
  1. UJUB (Membanggakan diri) Rasa Hebat sendiri yang timbul dari dalam hatinya karena banyak amal ibadahnya, tidak dia rasakan bahwa semua itu adalah semata-mata karena karunia dan Rahmat Allah s.w.t.
ﺳﻘﻃ۱ۅله  ۅقوڧﻣﻊ۱ﻟﻌﺒﺎدة
( Suqut awwaluhu wuquf ma’al-ibadah)
“Gugur permulaannya karena terhenti pada ibadahnya semata-mata”


Cara terbang ke arsyi Allah

0 komentar

Dzikir berasal dari kata dzakara, artinya ingat.
Dzikrullah yaitu ingat kepada Allah SWT yang
dilakukan dengan menyebut atau mengingat,
mengenang, merasakan, menghayati. Biasanya
dilakukan setelah melaksanakan shalat. Dasarnya
adalah sbb: Maka apabila kamu selesai
mengerjakan shalat maka berdzikirlah kamu
kepada Allah di waktu berdiri, duduk dan di waktu
berbaring. (QS. An Nisaa’ : 103)
Dzikir yang bersifat khusus ini banyak macamnya,
diantaranya: Tasbih (Subhanallâh), Tahmid
(Alhamdulillâh), Tahlil (Lâ Ilâha Illallâh), Takbir
(Allâhu akbar), Tilawatil Qur’an, dan sebagainya.
Dzikir secara sederhana bisa dikategorikan
menjadi dua yaitu dzikir Jahri (nyata) dan Dzikir
Sirri (rahasia) Dan rahasiakanlah (sirri)
perkataanmu atau nyatakanlah (jahri);
sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang
bergejolak di dalam dada. (Al Mulk : 13)
Dzikir Jahri atau Dzikir Jahar adalah dzikir yang
diucapkan. Dzikir yang dilaksanakan setelah
mengerjakan shalat, untuk memohon perlindungan
Allah. Sedangkan bacaan dzikir yang kita ucapkan
terbatas pada ruang dan waktu, artinya terbatas
pada tempat tertentu saja karena apabila sudah
di dalam wc bacaan dzikir tidak mungkin
diucapkan, dan terbatas pada waktu artinya
hanya dalam jumlah bilangan tertentu saja,
karena tidak mungkin kita ucapkan bacaan dzikir
tersebut terus menerus selama 24 jam penuh.
Dzikir yang diucapkan setelah shalat fardhu
dengan suara dan gema kuat dimaksudkan
menghasilkan nur dzikir di dalam rongga bathin
sehingga hati hidup dengan nur Ilahi. Sebab hati
itu keras seperti batu bisa dipecahkan dengan
kekuatan yang besar pula.
Dzikir Sirri atau dzikir khafi adalah dzikir yang
tersembunyi karena ia diingatkan di dalam hati,
tidak menggunakan mulut, melainkan dzawq
(perasaan) dan syu`ûr (kesadaran) yang ada di
dalam qalbu. Karenanya dzikir ini menjadi
tersamar (khafiy) dan hanya pelaku serta Allah
SWT saja yang dapat mengetahuinya.
Dengan Dzikir Sirri kita berusaha menghadirkan
Allah di dalam hati terus menerus, 24 jam penuh,
tanpa terbatas ruang dan waktu. Dan sebutlah
(nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan
merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan
tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan
petang, dan janganlah kamu termasuk orang-
orang yang lalai. (Al A’raaf : 205)
Dalam Dzikir Sirri orang mengingat Allah,
merasakan kehadiran Allah, menyadari
keberadaan Allah. Di dalam qalbunya tumbuh
rasa cinta, rasa rindu kepada Allah, rasa dekat,
bersahabat, seakan melihat Allah. Ihsan akan
muncul ketika dalam ibadah kita merasa melihat
Allah, atau setidaknya merasa sedang dilihat oleh
Allah SWT. Inilah dzikir yang hakiki, sebab
hubungan manusia dengan Allah SWT tidak terjadi
dengan tubuh jasmaninya melainkan dengan
qalbunya.
…Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah
berhubungan dengan manusia melalui qalbunya…
(Al Anfaal : 24)
Maka dengan berdzikir mulut dilanjut dengan
dzikir qalbu maka akan muncul rasa rindu dan
dekat kepada Allah sekaligus manfaat lain yaitu
sel-sel kelenjar hormon bisa aktif yang akan
menimbulkan kehangatan dan daya tahan tubuh
terhadap berbagai penyakit.
Senantiasalah kita berdzikir sebanyak-banyaknya
dan dilakukan secara terus menerus, jikalau lupa,
ingat kembali, lupa, lalu ingatkan lagi, dan
seterusnya. “Hai orang-orang yang beriman,
berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir
yang sebanyak-banyaknya. (Al Ahzab : 41) ” …
Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa…”
(Al Kahfi : 24)
Dzikir Sirri atau dzikir Khofi atau dzikir ismu Dzat
dengan bacaan “ALLAH”, silsilahnya sampai
kepada Rasulullah SAW. melalui Sayidina Abu
Bakar Ash Shidiq RA . Sedang dzikir dengan
bacaan “LA ILAAHA ILLALLAH”, biasanya
dilakukan dzikir jahri atau Dzikir Nafi Itsbat, yang
silsilahnya sampai kepada Rasulullah SAW melalui
Sayidina Ali bin Abi Tholib karramallahu wajhah.
Kedua jenis dzikir dari kedua sahabat inilah yang
menjadi sumber utama pengamalan thoriqoh,
yang terus menerus bersambung sampai dengan
sekarang kepada kita semua.
Selain dzikir di atas, di Majelis Wirid KWA juga
dipraktekkan bersama beragam jenis doa yang
sangat bermanfaat untuk mendekatkan diri dan
menghadapkan diri (Tawajuh) kepada Allah.
Berikut contoh salah satu amalan doa dalam
Majelis Wirid KWA:
ILA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ‘ALA ALIHI WA
ASHABIHI WA JAMI’I IHWANIHI MINAL ANBIYAI
WAL-MURSALIN KHUSUSON ILA NABI IDRIS WA
NABI ILYAS WA NABI KHIDIR WA ILA JAMI’I
MALAIKAH WA AULIYAI KHUSUSON ILA SYEIKH
ABDUL QODIR JAILANI, WA ILA JAMI’I AULIYAI FI
DAIROTI HADZA, ILA JIDDINA WA JADDATINA,
ILA ABAINA WA UMMAHATINA,,WA JAMI’I
MUSLIMIN WAL MUSLIMAT JAMI’AHUM AL
FATIHAH…..
====YA GHIYATSAL MUSTAGHITSIN AGHITSNA
YA ALLAH YA LATHIFAN BIKHOLQIH YA ‘ALIMAN
BIKHOLQIH YA KHOBIRON BIKHOLQIH ULTHUF
BINA YA LATHIF YA ‘ALIM YA KHOBIR YA ALLAH
ROBBI INNI DHO’IFUN FAQOWWINI WA INNI
DZALILUN FA A’IZZUNI WA INNI FAQIRUN FA
AGHNINI WA INNI MARIDHUN FA ASYFINI.
ROBBANAA AATINAA FIDDUN YAA HASNA WAFIL
AAKHIROTI HASANAH WQINA ‘AA-DZAA
BANNAR===
(Wahai dzat yang menolong bagi orang-orang
yang memohon pertolongan, tolonglah kami.
Wahai dzat yang Maha Penyantun kepada
makhluk-Nya, wahai dzat yang Maha Mengetahui
dan Waspada, santunilah kami. Wahai Allah,
wahai dzat yang Maha Santun, Maha Mengetahui
dan Waspada. Wahai Tuhanku hamba dalam
keadaan lemah kuatkanlah hamba, hamba dalam
keadaan hina mulyakanlah hamba, hamba dalam
kedaan faqir maka kayakanlah hamba (berilah
hamba keluasan rizqi), hamba dalam keadaan
sakit sembuhkanlah hamba. Wahai Tuhanku
berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan
jagalah kami dari api neraka).


Who is Muhammad S.A.W

0 komentar

Who is Muhammad (SAW) anyway
Ikut-ikutan ah sama ribut2 nJilen-mPosten.
Siapa sih Muhammad (SAW-pen) sampai
kartunnya aja bikin orang Islam sedunia pada
ngambek Tulisan ini mencoba memberikan
persepsi lain atas Muhammad (SAW) dari
orang2 yang bukan pengikutnya. Tujuannya sih,
biar yang belum baca jadi baca, yang sudah
baca baca lagi, (pengikutnya) yang belum cinta
jadi cinta, yang sudah cinta jadi tambah cinta
melebihi cinta pada dirinya, yang sudah cintanya
kayak gitu yaa biar bisa nularin deh sama yang
lain.
ENCYCLOPEDIA BRITANNICA
"Sejumlah besar sumber awal menunjukkan
bahwa dia adalah seseorang yang jujur dan
berbudi baik yang dihormati dan ditaati orang-
orang yang sepertinya (jujur dan berbudi baik)
(Vol. 12)"
MAHATMA GANDHI
(Komentar mengenai karakter Muhammad di
YOUNG INDIA): Pernah saya bertanya-tanya
siapakah tokoh yang paling mempengaruhi
manusia... Saya lebih dari yakin bahwa bukan
pedanglah yang memberikan kebesaran pada
Islam pada masanya. Tapi ia datang dari
kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian
Muhammad; serta pengabdian luar biasa kepada
teman dan pengikutnya, tekadnya,
keberaniannya, serta keyakinannya pada Tuhan
dan tugasnya. Semua ini (dan bukan pedang )
menyingkirkan segala halangan. Ketika saya
menutup halaman terakhir volume 2 (biografi
Muhammad), saya sedih karena tiada lagi cerita
yang tersisa dari hidupnya yang agung.
Sir George Bernard Shaw (The Genuine Islam,'
Vol. 1, No. 8, 1936.) Jika ada agama yang
berpeluang menguasai Inggris bahkan Eropa -
beberapa ratus tahun dari sekarang, Islam-lah
agama tersebut." Saya senantiasa menghormati
agama Muhammad karena potensi yang
dimilikinya. Ini adalah satu-satunya agama yang
bagi saya memiliki kemampuan menyatukan dan
merubah peradaban. Saya sudah mempelajari
Muhammad sesosok pribadi agung yang jauh
dari kesan seorang anti-kristus, dia harus
dipanggil 'sang penyelamat kemanusiaan" Saya
yakin, apabila orang semacam Muhammad
memegang kekuasaan tunggal di dunia modern
ini, dia akan berhasil mengatasi segala
permasalahan sedemikian hingga membawa
kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan
dunia: Ramalanku, keyakinan yang dibawanya
akan diterima Eropa di masa datang dan
memang ia telah mulai diterima Eropa saat ini
Dia adalah manusia teragung yang pernah
menginjakkan kakinya di bumi ini. Dia membawa
sebuah agama, mendirikan sebuah bangsa,
meletakkan dasar-dasar moral, memulai sekian
banyak gerakan pembaruan sosial dan politik,
mendirikan sebuah masyarakat yang kuat dan
dinamis untuk melaksanakan dan mewakili
seluruh ajarannya, dan ia juga telah merevolusi
pikiran serta perilaku manusia untuk seluruh
masa yang akan datang. Dia adalah Muhammad
(SAW). Dia lahir di Arab tahun 570 masehi,
memulai misi mengajarkan agama kebenaran,
Islam (penyerahan diri pada Tuhan) pada usia
40 dan meninggalkan dunia ini pada usia 63.
Sepanjang masa kenabiannya yang pendek (23
tahun) dia telah merubah Jazirah Arab dari
paganisme dan pemuja makhluk menjadi para
pemuja Tuhan yang Esa, dari peperangan dan
perpecahan antar suku menjadi bangsa yang
bersatu, dari kaum pemabuk dan pengacau
menjadi kaum pemikir dan penyabar, dari kaum
tak berhukum dan anarkis menjadi kaum yang
teratur, dari kebobrokan ke keagungan moral.
Sejarah manusia tidak pernah mengenal
tranformasi sebuah masyarakat atau tempat
sedahsyat ini Edan bayangkan ini terjadi dalam
kurun waktu hanya sedikit di atas DUA DEKADE."
MICHAEL H. HART (THE 100: A RANKING OF
THE MOST INFLUENTIAL PERSONS IN HISTORY,
New York, 1978)
Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad
pada urutan teratas mungkin mengejutkan
semua pihak, tapi dialah satu-satunya orang
yang sukses baik dalam tataran sekular maupun
agama. (hal. 33). Lamar tine, seorang sejarawan
terkemuka menyatakan bahwa: Jika keagungan
sebuah tujuan, kecilnya fasilitas yang diberikan
untuk mencapai tujuan tersebut, serta
menakjubkannya hasil yang dicapai menjadi
tolok ukur kejeniusan seorang manusia;
siapakah yang berani membandingkan tokoh
hebat manapun dalam sejarah modern dengan
Muhammad Tokoh-tokoh itu membangun
pasukan, hukum dan kerajaan saja. Mereka
hanyalah menciptakan kekuatan-kekuatan
material yang hancur bahkan di depan mata
mereka sendiri. Muhammad bergerak tidak
hanya dengan tentara, hukum, kerajaan, rakyat
dan dinasti, tapi jutaan manusia di dua per tiga
wilayah dunia saat itu; lebih dari itu, ia telah
merubah altar-altar pemujaan, sesembahan,
agama, pikiran, kepercayaan serta jiwa...
Kesabarannya dalam kemenangan dan
ambisinya yang dipersembahkan untuk satu
tujuan tanpa sama sekali berhasrat membangun
kekuasaan, sembahyang-sembahyangnya,
dialognya dengan Tuhan, kematiannnya dan
kemenangan-kemenangan (umatnya) setelah
kematiannya; semuanya membawa keyakinan
umatnya hingga ia memiliki kekuatan untuk
mengembalikan sebuah dogma. Dogma yang
mengajarkan ketunggalan dan kegaiban
(immateriality) Tuhan yang mengajarkan siapa
sesungguhnya Tuhan. Dia singkirkan tuhan palsu
dengan kekuatan dan mengenalkan tuhan yang
sesungguhnya dengan kebijakan. Seorang filsuf
yang juga seorang orator, apostle (hawariyyun,
12 orang pengikut Yesus-pen.), prajurit, ahli
hukum, penakluk ide, pegembali dogma-dogma
rasional dari sebuah ajaran tanpa pengidolaan,
pendiri 20 kerajaan di bumi dan satu kerajaan
spiritual, ialah Muhammad. Dari semua standar
bagaimana kehebatan seorang manusia diukur,
mungkin kita patut bertanya: adakah orang yang
lebih agung dari dia"
(Lamar tine, HISTOIRE DE LA TURQUIE, Paris,
1854, Vol. II, pp 276-277) "Dunia telah
menyaksikan banyak pribadi-pribadi agung.
Namun, dari orang orang tersebut adalah orang
yang sukses pada satu atau dua bidang saja
misalnya agama atau militer. Hidup dan ajaran
orang-orang ini seringkali terselimuti kabut
waktu dan zaman. Begitu banyak spekulasi
tentang waktu dan tempat lahir mereka, cara
dan gaya hidup mereka, sifat dan detail ajaran
mereka, serta tingkat dan ukuran kesuksesan
mereka sehingga sulit bagi manusia untuk
merekonstruksi ajaran dan hidup tokoh-tokoh
ini. Tidak demikian dengan orang ini.
Muhammad (SAW) telah begitu tinggi
menggapai dalam berbagai bidang pikir dan
perilaku manusia dalam sebuah episode
cemerlang sejarah manusia. Setiap detil dari
kehidupan pribadi dan ucapan-ucapannya telah
secara akurat didokumentasikan dan dijaga
dengan teliti sampai saat ini. Keaslian ajarannya
begitu terjaga, tidak saja oleh karena
penelusuran yang dilakukan para pengikut
setianya tapi juga oleh para penentangnya.
Muhammad adalah seorang agamawan, reformis
sosial, teladan moral, administrator massa,
sahabat setia, teman yang menyenangkan, suami
yang penuh kasih dan seorang ayah yang
penyayang - semua menjadi satu. Tiada lagi
manusia dalam sejarah melebihi atau bahkan
menyamainya dalam setiap aspek kehidupan
tersebut - hanya dengan kepribadian seperti
dialah keagungan seperti ini dapat diraih."
K. S. RAMAKRISHNA RAO,
Professor Philosophy dalam bookletnya,
"Muhammad, The Prophet of Islam" Kepribadian
Muhammad, hhmm sangat sulit untuk
menggambarkannya dengan tepat. Saya pun
hanya bisa menangkap sekilas saja: betapa ia
adalah lukisan yang indah. Anda bisa lihat
Muhammad sang Nabi, Muhammad sang
pejuang, Muhammad sang pengusaha,
Muhammad sang negarawan, Muhammad sang
orator ulung, Muhammad sang pembaharu,
Muhammad sang pelindung anak yatim-piatu,
Muhammad sang pelindung hamba sahaya,
Muhammad sang pembela hak wanita,
Muhammad sang hakim, Muhamad sang pemuka
agama. Dalam setiap perannya tadi, ia adalah
seorang pahlawan. Saat ini, 14 abad kemudian,
kehidupan dan ajaran Muhammad tetap selamat,
tiada yang hilang atau berubah sedikit pun.
Ajaran yang menawarkan secercah harapan
abadi tentang obat atas segala penyakit
kemanusiaan yang ada dan telah ada sejak
masa hidupnya. Ini bukanlah klaim seorang
pengikutnya tapi juga sebuah simpulan tak
terelakkan dari sebuah analisis sejarah yang
kritis dan tidak bias.
PROF. (SNOUCK) HURGRONJE:
Liga bangsa-bangsa yang didirikan Nabi umat
Islam telah meletakkan dasar-dasar persatuan
internasional dan persaudaraan manusia di atas
pondasi yang universal yang menerangi bagi
bangsa lain. Buktinya, sampai saat ini tiada
satu bangsa pun di dunia yang mampu
menyamai Islam dalam capaiannya mewujudkan
ide persatuan bangsa-bangsa. Dunia telah
banyak mengenal konsep ketuhanan, telah
banyak individu yang hidup dan misinya lenyap
menjadi legenda. Sejarah menunjukkan tiada
satu pun legenda ini yang menyamai bahkan
sebagian dari apa yang Muhammad capai.
Seluruh jiwa raganya ia curahkan untuk satu
tujuan: menyatukan manusia dalam pengabdian
kapada Tuhan dalam aturan-aturan ketinggian
moral. Muhammad atau pengikutnya tidak
pernah dalam sejarah menyatakan bahwa ia
adalah putra Tuhan atau reinkarnasi Tuhan atau
seorang jelmaan Tuhan dia selalu sejak dahulu
sampai saat ini menganggap dirinya dan
dianggap oleh pengikutnya hanyalah sebagai
seorang pesuruh yang dipilih Tuhan.
THOMAS CARLYLE in his HEROES AND
HEROWORSHIP
Betapa menakjubkan) seorang manusia sendirian
dapat mengubah suku-suku yang saling
berperang dan kaum nomaden (Baduy) menjadi
sebuah bangsa yang paling maju dan paling
berperadaban hanya dalam waktu kurang dari
dua decade. "Kebohongan yang
dipropagandakan kaum Barat yang diselimutkan
kepada orang ini (Muhammad) hanyalah
mempermalukan diri kita sendiri. Sesosok jiwa
besar yang tenang, seorang yang mau tidak mau
harus dijunjung tinggi. Dia diciptakan untuk
menerangi dunia, begitulah perintah Sang
Pencipta Dunia.
EDWARD GIBBON and SIMON OCKLEY
speaking on the profession of ISLAM write:
ESaya percaya bahwa Tuhan adalah tunggal dan
Muhammad adalah pesuruh-NyaEadalah
pengakuan kebenaran Islam yang simpel dan
seragam. Tuhan tidak pernah dihinakan dengan
pujaan-pujaan kemakhlukan; penghormatan
terhadap Sang Nabi tidak pernah berubah
menjadi pengkultusan berlebihan; dan prinsip-
prinsip hidupnya telah memberinya
penghormatan dari pengikutnya dalam batas-
batas akal dan agama
(HISTORY OF THE SARACEN EMPIRES, London,
1870, p. 54).
Muhammad tidak lebih dari seorang manusia
biasa. Tapi ia adalah manusia dengan tugas
mulia untuk menyatukan manusia dalam
pengabdian terhadap satu dan hanya satu
Tuhan serta untuk mengajarkan hidup yang jujur
dan lurus sesuai perintah Tuhan. Dia selalu
menggambarkan dirinya sebagai hamba dan
pesuruh TuhanEdan demikianlah juga setiap
tindakannya.
SAROJINI NAIDU, penyair terkenal India (S.
Naidu, IDEALS OF ISLAM, vide Speeches &
Writings, Madras, 1918, p. 169):
Inilah agama pertama yang mengajarkan dan
mempraktekkan demokrasi; di setiap masjid,
ketika adzan dikumandangkan dan jemaah telah
berkumpul, demokrasi dalam Islam terwujud
lima kali sehari ketika seorang hamba dan
seorang raja berlutut berdampingan dan
mengakui: Allah Maha BesarE.. Saya terpukau
lagi dan lagi oleh kebersamaan Islam yang
secara naluriah membuat manusia menjadi
bersaudara.
DIWAN CHAND SHARMA: Muhammad adalah
sosok penuh kebaikan, pengaruhnya dirasakkan
dan tak pernah dilupakan orang-orang
terdekatnya. (D.C. Sharma, THE PROPHETS OF
THE EAST, Calcutta, 1935, pp. 12) James A.
Michener, "Islam: The Misunderstood Religion,"
in READER'S DIGEST (American edition), May
1955, pp. 68-70.
Muhammad, seorang inspirator yang mendirikan
Islam, dilahirkan pada tahun 570 masehi dalam
masyarakat Arab penyembah berhala. Yatim
semenjak kecil dia secara khusus memberikan
perhatian kepada fakir miskin, yatim piatu dan
janda, serta hamba sahaya dan kaum lemah. Di
usia 20 tahun, dia sudah menjadi seorang
pengusaha yang sukses, dan menjadi pengelola
bisnis seorang janda kaya. Ketika mencapai usia
25, sang majikan melamarnya. Meski usia
perempuan tersebut 15 tahun lebih tua
Muhammad menikahinya dan tetap setia
kepadanya sepanjang hayat sang istri. Seperti
halnya para nabi lain, Muhammad memulai
tugas kenabiannya dengan sembunyi2 dan ragu2
karena menyadari kelemahannya. Tapi
BacaEadalah perintah yang diperolehnya, -dan
meskipun sampai saat ini diyakini bahwa
Muhammad tidak bisa membaca dan menulis
Edan keluarlah dari mulutnya satu kalimat yang
akan segera mengubah dunia: Tiada tuhan
selain Tuhan. "Dalam setiap hal, Muhammad
adalah seorang yang mengedepankan akal.
Ketika putranya, Ibrahim, meninggal disertai
gerhana dan menimbulkan anggapan ummatnya
bahwa hal tersebut adalah wujud rasa
belasungkawa Tuhan kepadanya, Muhammad
berkata: Gerhana adalah sebuah kejadian alam
biasa, adalah suatu kebodohan mengkaitkannya
dengan kematian atau kelahiran seorang
manusia. "Sesaat setelah ia meninggal, sebagian
pengikutnya hendak memujanya sebagaimana
Tuhan dipuja, akan tetapi penerus
kepemimpinannya (Abu Bakar-pen.) menepis
keingingan ummatnya itu dengan salah satu
pidato relijius terindah sepanjang masa: Jika
ada diatara kalian yang menyembah
Muhammad, maka ketahuilah bahwa ia telah
meninggal. Tapi jika Tuhan-lah yang hendak
kalian sembah, ketahuilah bahwa Ia hidup
selamanya (Ayat terkait: Q.S. Al Imran, 144 -
pen.)
W. Montgomery Watt, MOHAMMAD AT MECCA,
Oxford, 1953, p. 52.
Kesiapannya menempuh tantangan atas
keyakinannya, ketinggian moral para
pengikutnya, serta pencapaiannya yang luar
biasa semuanya menunjukkan integritasnya.
Mengira Muhammad sebagai seorang penipu
hanyalah memberikan masalah dan bukan
jawaban. Lebih dari itu, tiada figur hebat yang
digambarkan begitu buruk di Barat selain
Muhammad Annie Besant,
THE LIFE AND TEACHINGS OF MUHAMMAD,
Madras, 1932, p. 4.
"Sangat mustahil bagi seseorang yang
memperlajari karakter Nabi Bangsa Arab, yang
mengetahui bagaimana ajarannya dan
bagaimana hidupnya untuk merasakan selain
hormat terhadap beliau, salah satu utusan-Nya.
Dan meskipun dalam semua yang saya
gambarkan banyak hal-hal yang terasa biasa,
namun setiap kali saya membaca ulang kisah-
kisahnya, setiap kali pula saya mersakan
kekaguman dan penghormatan kepada sang
Guru Bangsa Arab tersebut."
Bosworth Smith, MOHAMMAD AND
MOHAMMADANISM, London, 1874, p. 92.
Dia adalah perpaduan Caesar dan Paus; tapi dia
adalah sang Paus tanpa pretensinya dan
seorang caesar tanpa Legionnaire-nya: tanpa
tentara, tanpa pengawal, tanpa istana, tanpa
pengahasilan tetap; jika ada seorang manusia
yang pantas untuk berkata bahwa dia-lah wakil
Tuhan penguasa dunia, Muhammad lah orang
itu, karena dia memiliki kekuatan meski ia tak
memiliki segala instrument atau penyokongnya.
John William Draper, M.D., L.L.D., A History of
the Intellectual Development of Europe, London
1875, Vol.1, pp.329-330
Empat tahun setelah kematian Justinian, pada
569 AD, telah lahir di Mekkah Arabia seorang
manusia yang sangat besar pengaruhnya
terhadap ummat manusia Muhammad John
Austin, "Muhammad the Prophet of Allah," in
T.P. 's and Cassel's Weekly for 24th September
1927. Dalam kurun waktu hanya sedikit lebih
dari satu tahun, ia telah menjadi pemimpin di
Madinah. Kedua tangannya memegang sebuah
tuas yang siap mengguncang dunia.
Professor Jules Masserman Pasteur dan Salk
adalah pemimpin dalam satu hal
(intelektualitas-pen).
Gandhi dan Konfusius pada hal lain serta
Alexander, Caesar dan Hitler mungkin pemimpin
pada kategori kedua dan ketiga (reliji dan militer
pen.).
Jesus dan Buddha mungkin hanya pada kategori
kedua. Mungkin pemimpin terbesar sepanjang
masa adalah Muhammad, yang sukses pada
ketiga kategori tersebut. Dalam skala yang lebih
kecil Musa melakukan hal yang sama. ====


Merebutkan Allah

0 komentar

Sejarah memberikan catatan kepada kita bahwa
pertumpahan darah yang paling banyak terjadi di
dunia disebabkan karena memperebutkan Tuhan,
Agama dan Kebenaran. Keyakinan kuat atau
fanatisme terhadap agama satu sisi memberikan
hal yang positif, membuat manusia mengikuti
aturan sehingga dengan keteraturan itu
menyebabkan hubungan manusia dengan manusia
menjadi harmonis begitu juga hubungan manusia
dengan alam. Di sisi lain, ketaatan dalam agama
tanpa di iringi semangat toleransi dan
pengetahuan yang mendalam terhadap agamanya
dan agama lain akan memberikan ruang
kebencian yang ketika dijadikan alat politik oleh
sekompok orang akan menjadi racun berbahaya
dalam masyarakat.
Pertumpahan darah, hilangnya jutaan nyawa dan
harta benda yang timbul dari fanatisme agama
hampir semua bermuara kepada politik baik
permusuhan antara agama maupun permusuhan
di dalam penganut agama yang sama. 3 Karya
Karen Amstrong Holy War : The Crussade and
Their Impact on Today’s world, The Battle for
God : A history of Fundamentalism dan A History
of God: The 4.000-Year Quest of Judaism,
Christianity and Islam memberikan gambaran
kepada kita bahwa pertumpahan darah bagi
penganut agama sejarahnya setua sejarah
manusia itu sendiri.
Mungkin di dunia ini hanya Karen Amstrong yang
berani dan terpikir untuk menulis sejarah Tuhan,
sosok yang Tak Tersentuh, sesuatu yang Tak
Terfikirkan. Saya pertama sekali membaca buku A
History of God tahun 2000, disaat saya sedang
dimabuk Tasawuf dan yang membuat saya
tertarik untuk membacanya karena judulnya yang
menggoda. Buku Karen Amstrong tentang sejarah
Nabi Muhammad juga sangat enak dibaca,
berbeda dengan karya-karya sejenis yang sudah
pernah di tulis.
Setiap pemeluk agama manapun meyakini bahwa
Tuhan itu milik mereka dan manusia diluar
agama mereka tidak mendapat tempat di sisi
Tuhan. Satu sisi keyakinan itu diperlukan agar
manusia semangat dalam beribadah namun disisi
lain terkadang memberikan efek buruk bagi
pemeluknya dengan memaksa orang-orang diluar
agamanya untuk mengakui Tuhan yang
disembahnya. Melakukan tindakan pemaksaan
kepada orang diluar agamanya seolah-olah dia
telah mendapat mandat langsung dari Tuhan
merupakan efek dari yang saya sebutkan di atas.
Di dalam Islam sendiri, kemudian muncul
kelompok-kelompok fanatik yang dari gaya
mereka bertindak seolah-olah seluruh
tindakannya sudah disetujui Tuhan. Membakar
rumah ibadah agama lain, membunuh tokoh
agama dan tindakan-tindakan tercela lain yang
dibungkus dengan istilah keren berbau agama,
yaitu Nahi Mungkar. Tindakan Lebay ini bukan
hanya di dalam Islam, tapi juga dalam agama lain
karena setiap agama mempunyai kelompok garis
keras yang memahami agama dengan kaku. Jadi
bukan karena agamanya tapi karena penganut
agama tersebut yang memahami agama secara
keliru.
Memaksakan agama yang kita yakini kepada
orang yang berbeda agama bukan hanya tidak
alamiah tapi juga bertentangan dengan konsep
Tuhan yang universal dan Esa yang kita yakini.
Disinilah letak rancu pemahaman kita terhadap
Tuhan, satu sisi kita meyakini bahwa diseluruh
jagad raya hanya ada satu Tuhan, tapi disisi lain
kita memberika ruang seolah-olah ada Tuhan lain
yang harus dimusnahkan agar orang-orang yang
menyembah Tuhan lain tersebut tunduk kepada
Tuhan kita.


Sabar itu apa dan bagaimana ?

0 komentar

Definisi Sabar Secara Tekstual dan Kontekstual. Sebuah dinamika dalam kehidupan manusia, naik turunnya status social di masyarakat, kaya dan miskin, susah dan senang bukan berarti menjadi standar nilai di hadapan Allah SWT, tapi sebagai ujian apakah orang yang kaya senantiasa mendermawankan hartanya untuk di jalan Allah SWT atau tidak.

Begitu pula dengan orang miskin, apakah mereka selalu senantiasa sabar dan ikhlas dalam setiap menerima cobaan yang diberikan Allah SWT kepada dirinya.

Terkadang kita meyakini bahwa kesabaran mempunyai titik batas sehingga kalau sudah melebihi batasnya manusia boleh melakukan apapun.

Tapi bukan seperti ini tujuannya, semua yang telah kita kerjakan harus kembali kepada Allah SWT sebagai dasar atas segala perilaku yang kita kerjakan. Hal ini dapat memberikan nilai positif bagi diri kita sendiri, karena segala sesuatu yang kita kerjakan atas nama Allah SWT pasti yang dikerjakan akan mengarah kepada yang baik.

Sikap sabar juga merupakan sikap dasar dari ciri-ciri orang yang bertaqwa.

Definisi Sabar Secara Tekstual.

Asal kata sabar adalah al man’u berarti menahan dan al habsu berarti mencegah.

Jadi, sabar adalah menahan dan mencegah dari perbuatan yang mengarah kepada keburukan.Sabar juga berasal dari kata Shabara YashburuwShabaaran: yaitu ketundukan penerimaan apa-apa yang telah Allah berikan baik kesenangan atau kesedihan.

Segala sesuatu yang kita dapatkan pasti akan ada hikamah atau maksud yang diberikan Alllah SWT kepada hamba-Nya yang selalu senantiasa ikhtiar dan bertawaqal pada setiap kejadian yang diterimanya dengan lapan dada.Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman.

bertakwalah kepada Tuhanmu”. orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan.

dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang- orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Lain lagi menurut syeikh Ibnu Qoyyim Al- jauziyah, bahwa sabar merupakan budi pekerti yang bisa dibentuk oleh seseorang. Ia menahan nafsu, Menahan sedih, menahan jiwa dari kemarahan, menahan lidah dari merintih kesakitan, dan juga menahan anggota badan dari melakukan yang tidak pantas.

Sabar merupakan ketegaran hati terhadap takdir dan hukum-hukum syari’at. Definisi Sabar Secara Kontekstual. Terkadang kita meyakini bahwa kesabaran mempunyai titik batas sehingga kalau sudah melebihi batasnya manusia boleh melakukanwapapun.

Tapi bukan seperti ini tujuannya, semua yang telah kita kerjakan harus kembali kepada Allah SWT sebagai dasar atas segala perilaku yang kita kerjakan. Hal ini dapat memberikan nilai positif bagi diri kita sendiri, karena segala sesuatu yang kita kerjakan atas nama Allah SWT pasti yang dikerjakan akan mengarah kepada yang baik. Sikap sabar juga merupakan sikap dasar dari ciri-ciri orang yang bertaqwa.


Peta Tasawuf

0 komentar

Tasawuf dan sufisme dalam
pengembangan sastra Islam tampak jelas sejak awal perkembangan Islam di berbagai daerah.Bagi seorang sufi sastra bukan hanya sebagai
tujuan, melainkan sebagai sarana untukmengekspresikan perasaan-perasaan yang pada umumnya terfokus pada kecintaan kepada
Tuhan.Tidak terbatas itu saja, sastra bagi sufi juga merupakan media untuk mengekspresikan pikiran,
ide-ide, nasehat atau gagasan dalam bentuk puisi atau cerita penuh hikmah. Oleh karena itu tidak
mengherankan jika karya-karya sastra tersebut menjadi sumber kajian-kajian ilmiah di berbagai
bidang. Misalnya, William C Chittick mengkaji berbagai kajian filsafat dari karya-karya Ibnu Arabi, seperti theologi , ontologi dan epistimologi .
Sementara itu Sachio Murata membahas Kosmologi dan Psikologi Rohani. Javad Nurbakhsy secara spesifik mengkaji psikologi sufi,
khususnya berkaitan dengan kesadaran manusia. Di bidang sastra, Abdul Hadi secara komprehensif
menyusun antologi karya-karya para sufi yang memiliki nilai sastra sangat tinggi. Tulisan ini mencoba untuk mengeksplorasi konsep-konsep
psikologi Islam yang terkandung dalam karya-karya sastra para sufi.
Psikologi Islam merupakan sebuah
gerakan pemikiran baru di kalangan psikolog muslim yang
berusaha mengembangkan konsep-konsep psikologi yang berasal dari ajaran agama Islam dan masyarakat muslim. Gerakan ini sebenarnya
telah lama berlangsung, tetapi momentum yang dianggap mengawali secara tersistematis adalah
ketika Malik Badri menerbitkan buku the Dilema of Muslim Psychologist. Buku tersebut mendapat
sambutan yang sangat antusias di kalangan para psikolog muslim di seluruh belahan dunia Islam.
Di Indonesia sendiri geliat psikologi Islam dimulaiwsekitar tahun 1980-an ketika banyak bermunculan
kelompok diskusi, seminar, penulisan artikel dan buku psikologi Islami mulai diterbitkan. Sebagian
dari tokoh-tokoh psikologi yang banyak aktif mengembangkan psikologi Islam di Indonesia
pada fase-awal perkembangannya antara lain Hanna Djumhana Bastaman, Djamaludin Ancok dan Fuad Nashori . Selanjutnya bermunculan
pemikir-pemikir muda yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Saat ini telah terbentuk sebuah organisasi profesional para
psikolog yang berminat di bidang psikologi Islam, yaitu API (Asosiasi Psikologi Islami). Organisasi
ini sudah diakui secara resmi sebagai bagian dari orgnisai psikologi di Indonesia, HIMPSI(Himpunan Psikologi Indonesia).Sumber kajian dalam mengembangkan psikologi
Islam tidak terbatas pada penafsiran Al Qur’an dan Hadist yang mempunyai unsur psikologi,
tetapi juga karya-karya dan pemikiran para ulama, filsof dan termasuk juga para sufi. Tulisan
ini berusaha mengkaji beberapa konsep dalam
psikologi Islam yang berasal dari karya sastra
para sufi. Tidak hanya karya sastra sufi dari
Timur Tengah, termasuk juga para sufi dari
Indonesia. Ada tiga konsep dasar yang akan di
bahas, yaitu konsep psikologi perkembangan,
konsep psikologi kepribadian, dan konsep
psikoterapi.
Konsep Psikologi Perkembangan
Psikologi perkembangan merupakan salah satu
bidang psikologi yang mengkaji tentang proses
perkembangan manusia dengan menggunakan
prinsip life-span development (perkembangan
dalam rentang kehidupan manusia), yaitu mulai
dari kandungan, masa bayi, anak-anak, remaja,
dewasa dan lansia. Aspek-aspek perkembangan
yang dikaji meliputi dimensi fisiologis, kognitif,
afektif, sosial, moral, bahkan sampai pada
perkembangan spiritual.
Konsep perkembangan dalam psikologi Islam
memiliki konsep yang lebih luas dibandingkan
dengan psikologi modern. Tidak hanya terbatas
pada konsep ketika manusia hidup mulai dalam
kandungan sampai meninggal dunia, tetapi juga
mengkaji proses sebelum manusia ada di dunia
dan setelah mati. Salah satu konsep psikologi
perkembangan Islam yang bisa dikaji adalah dari
puisi Jalaludin Rumi, seorang sufi dan penyair
besar dari Turki. Rumi menulis:
Mula-mula dia muncul dalam alam benda-mati;
Kemudian masuk ke dunia tumbuh-tumbuhan
dan hidup bertahun-tahun sebagai tetumbuhan,
tak ingat lagi akan
Apa yang telah dia alami, lalu melangkah maju
Ke kehidupan hewan, dan sekali lagi
Tak ingat akan kehidupan tetumbuhan itu.
Kecuali ketika dirinya tergerak senang,
Pada tetumbuhan di musim bunga-binga
berkembang indah.
Seperti bayi-bayi yang mencari puting susu dan
tak tahu mengapa.
Sekali lagi Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana
sebagaimana engkau ketahui
Memindahkannya dari alam hewani
Ke tingkat Manusia; demikianlah dari satu alam
ke alam lainnya dia
Bergerak, ia menjadi pandai,
Cerdik dan bijak, sebagaimana dia kini.
Tak terkenang lagi akan keadaan sebelumnya,
Dan dari jiwanya yang sekarang pun dia akan
diubah pula.
Puisi di atas secara tegas menggambarkan
bagaimana pendapat Rumi tentang perkembangan
manusia. Menurut Rumi, manusia pada awalnya
merupakan benda mati yang tidak bernyawa.
Melalui proses perubahan yang terus menerus
manusia berpindah dari kondisi kejiwaan yang
satu ke kondisi yang lain. Ungkapan dalam puisi
di atas dapat diberi makna secara riel apa adanya
maupun makna secara simbolis. Makna secara
riel menunjukkan bahwa manusia awalnya
merupakan benda mati, kemudian berubah dalam
kehidupan tumbuhan, kemudian menuju pada
kehidupan binatang dan akhirnya memasuki
kehidupan manusia. Pemikiran seperti ini bukan
merupakan ide baru. Filsuf dan dokter muslim
ternama, Ibnu Sina, telah berusaha menyatukan
pemikiran filsuf Aristotles dari Yunani yang
menyatakan bahwa ada tiga macam jiwa, yaitu
jiwa tumbuhan, jiwa binatang, dan jiwa manusia
Jiwa tumbuhan tampak pada janin yang masih
berada dalam kandungan. Dia adalah tumbuhan
yang sangat tergantung pada kondisi lingkungan
dan tidak dapat bergerak sendiri. Dia dapat
bertahan hidup karena pemberian makanan dari
ibunya. Ketika sudah lahir ke dunia, bayi mulai
belajar bergerak sendiri. Dia mulai mengeksplorasi
dunia sekitarnya. Karena akalnya belum
berkembang, maka dia seperti binatang. Namun
ketika seorang anak mulai berkembang aspek
kognitifnya, maka dia berada dalam alam
manusia, yang berpikir dan memahami lingkungan
sekitarnya.
Kalau dalam psikologi modern proses
perkembangan hanya terbatas pada kondisi
psikologis (jiwa), maka menurut Rumi proses
perkembangan manusia tidak hanya berhenti
sampai di sini saja. Rumi mengatakan bahwa ,
“Dan dari jiwanya yang sekarang pun dia akan
diubah pula .” Ini menandakan bahwa proses
transformasi manusia masih akan berkembang
terus. Khususnya dimensi rohani / spiritualitas
manusia. Dalam puisi berikut Jalaludin Rumi
menggambarkan proses transformasi:
Aku mati sebagai mineral dan menjadi tumbuhan,
Aku mati sebagai tumbuhan dan muncul sebagai
hewan,
Aku mati sebagai hewan dan aku menjadi Insan.
Mengapa aku mesti takut? Bilakah aku menjadi
rendah karena kematian?
Namun sekali lagi aku akan mati sebagai Insan,
untuk membumbung
Bersama para Malaikat yang direstui; bahkan dari
tingkat malaikat pun
Aku harus wafat: Segala akan binasa kecuali
Tuhan.
Ketika jiwa malaikatku telah kukorbankan,
Aku akan menjadi sesuatu yang tak pernah
terperikan oleh pikiran.
Oh, biarkanlah aku tiada! Karena Ketiadaan
Membisikkan nada dalam telinga. ”Sesungguhnya
kepada-Nya-lah kita kembali.”
Puisi di atas menegaskan bahwa manusia akan
mengalami transformasi atau memasuki alam
malaikat. Dari sinipun akan mengalami perubahan
lagi menuju ke ketiadaan. Manusia dari tiada
menjadi ada dan menjadi tiada. Proses ini terjadi
melalui fase dan tahapan yang panjang, yang
penuh dengan rintangan. Menurut Mohammad
Shafii, puisi Rumi di atas tidak hanya
menunjukkan adanya proses perkembangan, tetapi
sekaligus merupakan gambaran dari wujud
evolusi manusia di bumi. Dalam konteks psikologi
Barat, pendekatan evolusi juga mulai
dikembangkan seperti yang dibahas oleh Dicky
Hastjaryo . Pendekatan evolusinistik ini sering
disebut sebagai bionomik kognitif, yang
menyatakan bahwa kognisi manusiaseperti
persepsi, memori, bahasa, berfikir itu harus
dipahami dalam konteks evolusi fisik dan sosial
manusia. Erick Fromm, salah seorang tokoh
Psikoanalisis modern, juga memiliki pandangan
evolusionistik. Dia mengemukakan: ”Manusia
telah muncul dari kerajaan binatang, dari
adaptasi dengan instink...dia telah melampui
kondisi alam, meskipun dia tak pernah
meninggalkannya; dia bagian dari itu..manusia
hanya bisa mengembangkan pikirannnya dengan
menemukan harmoni baru.”
Psikologi Islami mempunyai konsep yang lebih
jauh dari itu. Seperti diungkapkan dalam visi
Rumi, bahwa kondisi manusia akan mengalami
proses perubahan terus bahkan menjadi sesuatu
yang berbeda, “.. sesuatu yang tak pernah
terperikan oleh pikiran.” Dengan ungkapan
berbeda Mohammad Shafii menyatakan: “…
evolusi kemanusiaan tidak hanya berakhir sampai
pada bentuk manusia saat ini saja. Ada potensi
(manusia) untuk menjadi mahluk yang lebih
tinggi. Perspektif yang progresif dan memberikan
banyak harapan ini adalah sebuah kekuatan
dinamis…”
Psikologi Kepribadian
Teori psikologi kepribadian telah berkembang
pesat dalam psikologi modern dan memiliki teori
dan konsep yang cukup banyak. Namun teori
yang paling dekat dengan konsep kepribadian
dalam psikologi Islami adalah teori psikoanalisis
atau juga disebut psikodinamik. Teori yang
dikembangkan oleh Sigmund Freud ini merupakan
salah satu teori penting dalam awal
perkembangan psikologi modern. Teori ini
menyatakan bahwa struktur kepribadian manusia
terdiri dari tiga unsur, yaitu id, ego dan super ego.
Id merupakan dorongan dasar yang menjadi
penggerak dalam kehidupan manusia, yang terdiri
dari berbagai keinginan dan hawa nafsu. Ego ,
atau ’diri’ merupakan dimensi kesadaran rasional
yang merupakan jembatan manusia berhubungan
dengan dunia luar. Ego ini berkembang sejalan
dengan proses perkembangan pikiran (kognitif)
manusia. Sementara itu super ego merupakan
dimensi moralitas yang menjadi pemandu perilaku
manusia. Dalam kehidupan sehari-hari ego
senantiasa menghadapi pertentangan antara
dorongan dasar dari id dan nilai-nilai moral dari
super ego.
Kajian psikologi Islam mengenai struktur
kepribadian dasar manusia banyak berkaitan
dengan konsep nafsu, akal dan hati. Istilah-istilah
tersebut bisa dipadankan dengan id, ego, dan
super ego dalam konsep psikoanalisis. Nafsu
adalah id, akal adalah ego dan hati adalah super
ego.
Nafsu adalah aspek kebinatangan dalam diri
manusia. Para sufi menggambarkan hawa nafsu
sebagai binatang buas, seperti anjing pencuri,
rubah yang licik, kuda liar, bahkan ular atau naga.
Dorongan aspek kebinatangan dalam diri manusia
ini bersifat primitif. Dia seringkali menyusup
dalam setiap perilaku manusia, meski manusia
tersebut sering tidak disadari. Jalaludin Rumi
menggambarkan:
Hawa nafsumu adalah ibu semua berhala; berhala
benda benda adalah ular, berhala rohani adalah
naga
Menghancurkan berhala itu mudah, mudah sekali;
namun menganggap mudah mengalahkan nafsu
adalah tolol
O, anakku, jika bentuk-bentuk nafsu ingin kau
kenali bacalah tentang neraka dengan tujuh
pintunya
Dari hawa nafsu setiap saat bermunculan tipu
muslihat; dan dari setiap ti[pu muslihat seratus
Firaun dan bala tentaranya terjerumus.
Emha ainun Nadjib, seorang penyair sufistik
Indonesia kontemporer menggambarkan nafsu
sebagai keinginan yang tidak pernah terpuaskan.
Dalam syair lagu yang berjudul Tak Sudah-sudah ,
yang dinyanyikan oleh kelompok Kyai Kanjeng
yang dipimpinnya, Emha Ainun Nadjib berkata:
Ketika belum, kepingin sudah
Ketika sudah, kepingin tambah
Sesudah ditambahi, kepingin lagi
Kepingingn lagi...lagi...dan lagi...
Rasa kurang, tak berpenghabisan
Kepada dunia, tak pernah kenyang
Itulah api yang menghanguskan
Itulah nafsu, Lambang kebodohan
Sigmund Freud berpendapat bahwa dorongan
dasar yang paling dominan dalam diri manusia
adalah dorongan seksual dan dorongan agresif.
Dua dorongan inilah yang melatar belakangi
seluruh perilaku manusia. Meskipun tidak dalam
bentuk yang asli, dorongan seksualitas dapat
berubah bentuk (sublimasi) menjadi keinginan
untuk memiliki, keinginan untuk menguasai.
Barangkali inilah yang dikatakan oleh Rumi bahwa
hawa nafsu itu menciptakan tipu muslihat dengan
tujuan agar manusia mengikuti dorongan id dan
melupakan peringata super ego. Kalau Freud
menganggap bahwa banyak perilaku manusia
yang merupakan sublimasi dari dorongan id,
maka Rumi juga mengatakan hal yang mirip
seperti itu. Hanya saja Rumi menggunakan istilah
tipu muslihat. Nafsu sering menipu manusia.
Seringkali manusia melakukan suatu perbuatan
seakan demi menolong orang lain atau demi
kebaikan, tetapi sebenarnya ditunggangi oleh
hawa nafsu. Oleh karena itu manusia harus bisa
mengendalikan hawa nafsu yang menutupi
penglihatan sejati.
Meskipun tidak sesuai semuanya, konsep akal
dalam sufisme bisa disejajarkan dengan konsep
ego dalam psikoanalisis. Seperti akal, ego
berfungsi untuk mengendalikan dorongan id yang
tidak sesuai dengan realitas. Misalnya, id
membutuhkan dorongan seksual, maka ego tidak
mengijinkannya karena kondisi realitas tidak
memungkinan. Kalau id mendesak terus, maka
ego akan terus berusaha mengekangnya karena
ego mendapatkan pesan dari super ego bahwa hal
itu tidak boleh. Disinilah kemudian sering terjadi
pertentangan antara id dan ego. Rumi juga
menggambarkan pertarungan antara nafsu dan
akal dalam metafora:
Dua ekor rajawali dan elang dalam satu
sangkar:mereka saling mencakar...
Dalam setiap desah nafas kita, akal berjuang
melawan godaan nafsu. Keterpisahan dari Asal
Sumber menyebabkan mereka terpuruk
Jika desahan nafas keledai telah kalah, akal akan
menjadi Messiah
Sungguh akal dapat melihat setiap akibat, nafsu
tidak
Akal adalah cahaya yang mencari kebaikan,
Mengapa kegelapan nafsu dapat
mengalahkannya?
Sa’di, seorang sufi dari Persia, menggambarkan
bahwa orang yang dapat mengendalikan hawa
nafsu adalah orang yang mempunyai kekuatan
yang sebenarnya.
orang-orang yang mengendalikan tali kekang
nafsunya dari yang diharamkan berarti
keberaniaannya telah melalui tokoh-tokoh
perkasa seperti Rustam dan Samson. Budak hawa
nafsu adalah musuh yang paling mengerikan
bagimu .
Sa’di juga menggambarkan diri manusia seperti
sebuah kota yang mempunyai unsur kebaikan dan
kejahatan yang selalu bertarung.
Jiwa raga kita bagaiman kota yang mengandung
kebaikan dan kejahatan. Kau adalah rajanya dan
akal adalah menterimu yang bijaksana
...nafsu dan menyia-nyiakan waktu adalah
pencuri dan pencopet
Bila raja mengasihi orang jahat, bagaimana orang
bijaksana bisa merasa tenteram?
Nafsu jahat, iri hati, kebencian bersatu padu
dalam dirimu seperti darah dalam pembuluhnya.
Jika musuh-musuhmu ini memperoleh kekuatan,
mereka akan melawan perintah dan nasehatmu.
Tak akan mereka melawan bila meliaht betapa
kerasnya akal.
Para perampok dan bajingan tak akan berkeliaran
jika patroli polisi memadai
Ketika nafsu menguasai akal atau id mendominasi
ego, maka orang tersebut tidak dapat berpikir dan
bertindak secara rasional. Dia akan
mengembangkan berbagai bentuk mekanisme
pertahanan diri yang kurang sehat untuk
membela diri sendiri. Mekanisme ini timbul ketika
ego merasa terancam. Tujuannya tidak lain
adalah supaya ego merasa aman. Beberapa
mekanisme pertahanan diri antara lain
mekanisme represi, yaitu menekan berbagai hal
yang tidak disukai atau keinginan yang tidak
tersampaikan, ke dalam alam ketidak-sadaran.
Mekanisme penolakan, yaitu menolak mengakui
suatu kenyataan yang tidak sesuai dengan
harapan. Dalam mekanisme proyeksi, seseorang
melihat sesuatu yang ada di luar dirinya atau
pada orang lain, padahal semua itu ada pada
dirinya sendiri. Jalaludin Rumi menggambarkan
adanya kecenderungan mekanisme proyeksi
tersebut dalam puisi di bawah ini:
O pembaca, berapa banyak kejahatan yang kau
lihat dalam diri orang lain yang tak lain adalah
pantulan dari sifat-sifatmu yang terdapat dalam
diri mereka
Dalam diri mereka tampaklah semua dari dirimu:
kemunafikan, kejahatan dan kesombongan
....
Bila kau telah sampai ke lubuk perigi sifat-sifatmu
sendiri, maka kau akan mengetahui bahwa dosa
apapun terdapat dalam dirimu sendiri.
Mekanisme pertahanan diri yang sehat sangat
dibutuhkan agar seseorang tidak mengalami
keruntuhan pribadi ketika dirinya menghadapi
persoalan. Tetapi ketika mekanisme pertahanan
diri itu terlalu berlebihan, maka orang menjadi
terasing dan semakin jauh dari dirinya. Dia tidak
akan bisa melihat kejelekan dan kelemahan diri
karena semua itu dinisbahkan kepada orang lain.
Maka sebagian besar Sufi sangat menekankan
pentingnya seseorang untuk mengenal dirinya
sendiri, karena orang yang telah mengenal diri
sendiri maka dia akan mengenal Allah. Sunan
Bonang, salah satu sufi dalam wali songo
memberi nasehat kepada muridnya:
Pedoman hidup sejati
Ialah mengenal hakikat diri
Karena itu, Wujil, kenali dirimu
Kenali dirimu yang sejati
Ingkari benda
Agar nafsumu tidur terlena
Dia yang mengenal diri
Nafsunya akan terkendali
Dan terlindung dari jalan
Sesat dan kebingungan
Kenal diri, tahu kelemahan diri
Selalu awas terhadap tindak tanduknya
Bila kau mengenal dirimu
Kau akan mengenal Tuhanmu
Kemampuan untuk mengenal diri sendiri seperti
yang dikemukakan para sufi di atas juga
ditekankan dalam psikologi modern. Misalnya,
dalam setiap training psikologis yang
dilaksanakan, seorang trainer akan mengawali
dengan permainan ‘ who am I ?’ dengan
menggunakan teknik Jauhari window . Namun
pada umumnya pemahaman diri yang
dikembangkan psikologi modern hanya terbatas
pada aspek sosial-psikologis, belum menyentuh
sisi metafisikal dan transcendental. Akibatnya
sering muncul istilah ‘ psikologi untuk anda’ .
Artinya orang belajar psikologi untuk mempelajari
orang lain, semsntara pengetahuan tentang
dirinya diabaikan. Psikologi Islam semestinya
dapat mengisi kekurangan tersebut.
Selain pengetahuan tentang diri yang sangat
penting, psikologi modern juga perlu memahami
konsep tentang ’hati’ dalam psikologi Islam.
Istilah ini tidak merujuk pada hati secara fisik
atau liver , tetapi hati nurani atau qolbu. Konsep
hati memang ada kemiripan dengan konsep super
ego dalam konsep psikoanalisa. Pada tahap
tertentu memang hati nurani berisi nilai-nilai
moral yang terinternalisasi dalam diri seseorang.
Dalam pemikiran para sufi, makna hati jauh lebih
luas dari itu. Hati inilah yang merupakan pusat
dari segala sesuatu yang terjadi dalam diri
manusia. Dengan mengacu kepada sabda Nabi
Muhammad saw, para Sufi mengatakan bahwa
jika hati baik, maka baik lah seluruh tubuh
manusia. Jika hati jelek maka jelek-lah seluruh
diri manusia. Konsep ini sangat berbeda dengan
konsep psikologi modren, khususnya psikologi
kognitif, yang menganggap bahwa segala sesuatu
dalam diri manusia tergantung bagaimana proses
berpikirnya. Orang-orang yang mengalami
gangguan psikologis dalam pandangan psikologi
kognitif, disebabkan oleh kesalahan atau
kekeliruan dalam proses berpikir. Oleh karena itu
terapi kognitif sangat banyak digunakan dalam
psikologi modern saat ini. Konsep tentang hati
dalam psikologi Islam merupakan sebuah
alternatif pemikiran yang sangat penting untuk
dipertimbangkan.
Keluasan konsep hati dibandingkan dengan
konsep super ego, adalah karena dalam
pandangan para sufi, di dalam hati inilah ruh
manusia bersemayam, dan melalui hati inilah
manusia dapat mencapai pengalaman langsung
berhubungan dengan Allah.
Muhammad Iqbal, seorang penyair sufistik dari
Pakistan menulis:
tempat matahari terbit,
adalah lubuk terdalam hati kita
Sementara itu Jalaludin Rumi, berkata;
Jadi, pasukan manusia berasal dari dunia ruh:
akal adalah menteri dan hati adalah sang raja
Suatu ketika hati ingat negeri ruh. Seluruh
pasukan kembali dan memasuki dunia keabadian
Dengan demikian dapat dipahami bahwa
meskipun kosep nafsu dalam beberapa puisi sufi
mirip dengan konsep id dalam psikologi modern,
konsep ego mirip dengan konsep akal dan konsep
ego dapat disejajarkan dengan konsep hati, tetapi
semua konsep tersebut memiliki makna yang
lebih luas. Dengan demikian konsep kepribadian
dari psikologi Islam menjangkau dimensi yang
tidak atau belum terjangkau oleh psikologi
modern.
Psikoterapi
Salah satu cabang psikologi yang terus
berkembang sejak munculnya psikologi modern
adalah bidang psikoterapi. Teori psikoanalisis
yang dikembangkan Sigmund Freud tidak hanya
membahas konsep kepribadian manusia, tetapi
juga beberapa teknik psikoterapi, yang sekarang
dimasukkan dalam kategori terapi aliran
psikodinamik, yaitu terapi ini yang menekankan
aspek ketidaksadaran. Terapi aliran humanistik
menekankan aspek hubungan yang baik dengan
sesama manusia. Sementara itu aliran psikoterapi
perilakuan (behavioristik) menekankan aspek
proses belajar. Dikatakan bahwa berbagai bentuk
gangguan jiwa disebabkan adanya kesalahan
dalam proses belajar, sehingga untuk
mengubahnya, orang harus melakukan proses
‘belajar kembali’ ( re-learning ). Teknik
behaviorisme klasik saat ini telah berkembang
menjadi terapi kognitif, yang menyatakan bahwa
berbagai gangguan psikologis adalah disebabkan
karena kesalahan berpikir. Misalnya, seorang
yang mengalami gangguan depresi, ternyata
karena dia terlalu banyak melihat sisi negatif dari
semua peristiwa yang dialami dan mengabaikan
sisi positif. Oleh karena itu untuk menghilangkan
gangguan tersebut dia harus belajar memahami
pengalaman-pengalaman tersebut dengan
menggunakan frame work yang lain.
Sejumlah puisi para sufi memiliki unsur terapis
yang sangat dalam, yang mampu merubah diri
manusia menjadi lebih baik. Ketika orang
menghadapi berbagai masalah, puisi-puisi
tersebut dapat mejadi terapi yang efektif.
Misalnya Jalaludin Rumi memberi nasehat pada
orang yang sedang menghadapi berbagai
permasalahan hidup.
Menjadi manusia adalah menjadi wisma tamu.
Setiap pagi datang dengan tamu yang baru.
Kegembiraan, kesedihan, atau sifat buruk
sedikit pengetahuan diri hadir sebentar
sebagai tamu yang singgah tanpa perjanjian.
Sambut, dan jamulah mereka semuanya!
Biarpun tamumu hanya sekerumunan nestapa
yang melanda rumahmu dengan kasar
dan mengangkut segala isinya,
tetaplah temui setiap tamu dengan mulia.
Bisa jadi ia sedang mengosongkanmu
demi akan datangnya banyak kebahagiaan baru.
Niat buruk, rendah diri, dengki,
sambutlah mereka di pintu dengan tertawa,
dan ajak mereka masuk.
Bersyukurlah
atas apa pun yang diturunkan untukmu,
karena setiap tamu adalah utusan
dari sisi-Nya, sebagai penunjuk jalanmu.
Puisi di atas menggambarkan bagaimana orang
bersikap menghadapi berbagai persoalan
kehidupan: kesedihan, duka nestapa, keruwetan,
atau bahkan kegembiraan dan kesenangan. Rumi
menasehati supaya semua itu diterima dengn
senang hati. Bahkan perlu disyukuri, karena
semua membawa pesan dan hikmah tersendiri.
Penerimaan, bahkan mensyukuri kesulitan yang
dialami, merupakan salah satu teknik psikoterapi
yang banyak disarankan para ahli. Dari perspektif
terapi kognitif, merubah pikiran negatif menjadi
pikiran yang positif dan rasional merupakan
teknik yang banyak diterapkan untuk mengatasi
depresi. Dalam terapi humanistik, menerima
emosi negatif merupakan jalan yang paling baik
untuk mengatasi dampak yang timbul. Bahkan
dalam terapi aliran psikologi positif sekarang
banyak dikembangkan teknik kebersyukuran
( gratitude therapy ). Orang dilatih untuk
mensyukuri dan melihat sisi positif dari semua hal
yang dialami. Dalam puisi yang berjudul Hikmah
Kesengsaraan, Rumi juga memberikan metode
yang sama dengan melihat dampak jangka
panjang dari penderitaan yang dialami.
Lihatlah buncis dalam periuk, betapa ia meloncat-
loncat selama menjadi sasaran api.
Ketika direbus, ia selalu timbul ke permukaan,
merintih terus-menerus tiada henti,
”Mengapa engkau letakkan api di bawahku?
Engkau membeliku: Mengapa kini kau siksa aku
seperti ini?
Sang isteri memukulnya dnegan penyedok.
”Sekarang,” katanya, ”Jadi benar-benar
matanglah kau dan jangan meloncat lari dari
yang menyalakan api.
Aku merebusmu, namun bukan karena kau
membangkitkan kebencian-ku; sebaliknya, inilah
yang membuatmu menjadi lebih lezat
Dan menjadi gizi serta bercampur dengan jiwa
yang hidup: kesengsaraan bukanlah penghinaan.
Selain aspek psikoterapi secara umum yang dapat
ditemukan dalam puisi Jalaludin Rumi di atas,
konsep psikoterapi Islam dapat ditemukan dalam
lirik puisi yang digubah oleh Sunan Bonang, yang
sangat popular di masyarakat Indonesia, yaitu
dalam lagu Tombo Ati (Obat hati):
Tombo ati iku limo perkorone
Kaping pisan moco Qur’an lan maknane
Kaping pindho sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat weteng iro ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani
Obat hati ada lima perkara
Yang pertama membaca al Qur’an dan
memahami artinya
Yang kedua sholat malam laksanakanlah
Yang ketiga berkumpullah dengan orang-orang
sholeh
Yang keempat perut anda harus dikosongkan
Yang kelima dzikir malam kerjakanlah
Salah satunya siapa yang bisa melaksanakan
Semoga Allah memberkahi
Kajian-kajian ilmiah ternyata banyak memberikan
dukungan pada teknik terapi yang disarankan
oleh Sunan Bonang di atas. Yang pertama,
membaca Al Qur’an merupakan salah satu terapi
religius yang penting. Muhammad Sholeh
mengutip tulisan dari Malik Badri yang
melaporkan hasil penelitian di Florida, Amerika
Serikat. Penelitian itu berhasil membuktikan
bahwa orang yang membaca atau orang yang
mendengarkan bacaan Al Qur’an, ternyata
menunjukkan perubahan emosi seperti penurunan
depresi dan kesedihan, sebaliknya terjadi
peningkatan rasa ketenangan. Selain itu juga
terjadi perubahan-perubahan fisiologis seperti
detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan
kulit yang berpengaruh pada kondisi tubuh
seseorang
Selain membaca Al-Qur'an, membaca puisi
religius juga dapat menjadi terapi efektif. Saloom
mengemukakan bahwa beberapa psikoterapis di
Iran mengajak kepada pasien mereka untuk
membaca puisi karya para sufi, antara lain Rumi,
Sa’di, Hafez, dan Omar Kayyam, khususnya puisi
yang mengandung unsur motivasi dan harapan.
Mereka mengklaim hasil yang positif dari terapi
tersebut.
Aspek terapi sholat telah banyak dibahas oleh
para ahli. Misalnya Sentot Haryanto
mengungkapkan bahwa shalat memiliki aspek
terapi relaksasi dan aspek meditasi yang dapat
menenangkan perasaan. Shalat juga berfungsi
sebagai media katarsis untuk menungkapkan
berbagai persoalan yang mengganggu pikiran.
Selain itu juga memiliki pengaruh sebagai terapi
autosugesti yang dapat mempengaruhi diri secara
positif dan terapi. Sementara itu M.A. Subandi
mengungkapkan berbagai pengalaman yang
ditemui oleh orang-orang yang secara intensif
melaksanakan dzikir, antara lain kesembuhan dari
penyakit fisik maupun dari gangguan psikologis.
Penutup
Artikel ini telah menunjukkan bahwa konsep-
konsep ilmiah dalam psikologi tidak hanya dapat
dikembangkan berdasarkan hasil penelitian
empirik. Berbagai tulisan para tokoh atau para
filsuf dapat menjadi rujukan yang berharga.
Termasuk juga karya sastra para sufi, khususnya
puisi. Karya sastra para sufi, baik yang klasik
maupun modern, mulai dari Persia, Pakistan
sampai Indonesia memiliki unsur psikologis yang
sangat berharga untuk pengembangan psikologi
Islam dan sebagai alternatif pemikiran bagi
psikologi (Barat) modern. Penelusuran lebih jauh
perlu dilakukan untuk mengembangkan satu
bentuk teori atau konsep psikologi
Tulisan ini juga dapat menjadi sebuah model
penelitian kualitatif dalam psikologi (Islam)
dengan menggunakan karya sastra sebagai
sumber data yang utama. Ketika dipadukan
dengan penelitian kuantitatif yang menjadi
mainstream dalam psikologi, akan dapat
menghasilkan psikologi yang lebih utuh. Wallahu a'lam


Apakah Amal kita dapat menipu kita ??

0 komentar

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salm atas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Tujuan diciptakan manusia untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata. ibadah ini dikerjakan sampai nyawa berpisah dari badan. Dalam pelaksanaannya dituntun yang terbaik, ahsanu amala. Yakni dengan benar-benar menjaga keikhlasan dan benar dalam pelaksanaan. Setelah itu ia berharap kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar diterima.

Namun jangan kita lengah, karena syetan tetap akan menggoda kita supaya ibadah tersebut rusak. Salah satunya adalah dengan menanamkan rasa bangga diri, kekaguman dan bangga dengan amal tersebut. Merasa bahwa ia telah menunaikan hak Allah dengan sempurna. Kesombongan boleh jadi ikut tertanam, sehingga ia melihat dirinya yang paling baik sementara ibadah orang lain banyak kekurangan.
Sikap orang shalih penghuni surga tidak demikian. Mereka sungguh-sungguh dalam ibadah kepada dan takut kalau-kalau ibadahnya tidak diterima. Bahkan, lebih dari itu, ia beranggapan amalnya tidak pantas diterima oleh Allah. Banyak cacat dan kekurangan dalam ibadah yang mereka tegakkan sehingga istighfar senantiasa terucap dari lisan mereka. Allah Taala berfirman tentang mereka,
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mukminun: 60)

Aisyah Radliyallaahu ‘Anha berkata, Aku telah bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam tentang ayat ini, apakah mereka orang-orang yang minum khamer, pezina, dan pencuri? Beliau menjawab, Tidak, wahai putri al-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menunaikan shalat dan shadaqah namun mereka takut kalau amalnya tidak diterima. (HR. Muslim, kitab al Imarah, bab Man Qatala li al-Riya wa al-Sumah Istahaqqa al-Naar, no. 1905)

Allah menyebutkan beberapa sifat penghuni surga dari orang-orang muttaqin,
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).“ (QS. Al-Dzaariyat: 15-18)
Ibnu Katsir menyebutkan penafsiran sebagian ulama terhadap ayat terakhir, “Mereka shalat malam dan mengakhirkan (melanjutkannya,-red) istighfar sampaia waktu sahur (menjelang shubuh).” Jadi mereka itu adalah orang-orang yang mengisi hidupnya dengan kebaikan. Mereka banyak amal dengan harta dan fisik mereka. Tapi dipenghujung malam, selepas mengerjakan shalat malam yang panjang, mereka memohon ampun atas dosa dan kesalahan.

Imam Ibnul Qayyim berkata, Puas dengan ketaatan yang telah dilakukan adalah di antara tanda kegelapan hati dan ketololan. Keraguan dan kekhawatiran dalam hati bahwa amalnya tidak diterima harus disertai dengan mengucapkan istighfar setelah melakukan ketaatan. Hal ini karena dirinya menyadari bahwa ia telah banyak melakukan dosa-dosa dan banyak meninggalkan perintah-Nya.”
Allah telah memerintahkan kepada para hujjaj untuk mengucapkan istighfar setelah mereka rampung dari melaksanakan ibadah haji. Hal ini sebagai penyempurna dan kemuliaan. Allah Taala berfirman:
“Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 198-199)

Syaikh al-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Beginilah seharusnya yang dilakukan hamba, setiap selesai dari melaksanakan ibadah dia beristighfar (meminta ampun) kepada Allah atas kealpaan dan bersyukur kepada Allah atas taufiq-Nya. Tidak seperti orang yang melihat dirinya telah menyempurnakan ibadah dan berbangga di hadapan Tuhannya.”
Dalam surat lain Allah menjelaskan,
“(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17)
Imam al-Hasan menjelaskan ayat ini, bahwa mereka adalah orang-orang yang lama dalam menjalankan shalat sampai menjelang waktu sahur (akhir malam) kemudian mereka duduk dengan mengucapkan istighfar (meminta ampunan) kepada Allah.

Dalam hadits shahih dijelaskan bahwa ketika Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam selesai mengucapkan salam dari shalatnya, maka beliau mengucapkan istighfar tiga kali. (HR. Muslim dari Tsauban)
Jangan Bersandar Pada Amal
Sebab dari ketertipuan ini adalah sikap bersandar kepada amal secara berlebih. Ini akan melahirkan kepuasan, kebanggaan, dan akhlak buruk kepada Allah Taala. Orang yang melakukan amal ibadah tidak tahu apakah amalnya diterima atau tidak. Mereka tidak tahu betapa besar dosa dan maksiatnya, juga mereka tidak tahu apakah amalnya bernilai keikhlasan atau tidak. Oleh karena itu, mereka dianjurkan untuk meminta rahmat Allah dan selalu mengucapkan istighfar karena Allah Mahapengumpun dan Mahapenyayang.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallah ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Sungguh amal seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam surga.” Mereka bertanya, “tidak pula engkau ya Rasulallah?” Beliau menjawab, “Tidak pula saya. Hanya saja Allah meliputiku dengan karunia dan rahmat-Nya. Karenanya berlakulah benar (beramal sesuai dengan sunnah) dan berlakulah sedang (tidak berlebihan dalam ibadah dan tidak kendor atau lemah).” (HR. Bukhari dan Muslim, lafadz milik al-Bukhari)

Sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga kecuali dengan rahmat Allah. Dan di antara rahmat-Nya adalah Dia memberikan taufiq untuk beramal dan hidayah untuk taat kepada-Nya. Karenanya, dia wajib bersyukur kepada Allah dan merendah diri kepada Allah.
Tidak layak dia bersandar kepada amalnya untuk menggapai keselamatan dan mendapatkan derajat tinggi di surga. Karena tidaklah dia sanggup beramal kecuali dengan taufiq Allah, meninggalkan maksiat dengan perlindungan Allah, dan semua itu berkat rahmat dan karunia-Nya.
Seorang hamba tidak pantas membanggakan amal ibadahnya yang seolah-olah bisa terlaksana karena pilihan dan usahanya semata, apalagi ada perasaan telah memberikan kebaikan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan amal ibadah hamba-hamba-Nya. Dia Mahakaya, tidak butuh kepada makhluk-Nya. Wallahu Ta’ala A’lam.