Blog Legenda Tauhid: Tauhid
Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan

Nikmat paling agung itu apa?

0 komentar

Bernapas adalah kegiatan yang kita lakukan setiap hari, manusia bisa bertahan tidak makan dan minum selama satu atau dua hari, namun tidak seorangpun yang mampu bertahan hidup tanpa bernapas selama itu. Rata rata manusia hanya mampu menahan napas selama 30-60 detik.

Orang yang sudah terlatih seperti penyelam, penyanyi, olahragawan memang ada yang mampu bertahan antara dua sampai tiga menit, namun untuk itu tentu membutuhkan latihan yang tekun dan lama .

Napas adalah karunia Allah paling besar bagi manusia, berhenti bernapas berarti berhenti hidup. Udara yang dihirup dari alam bebas memberi energi kehidupan pada setiap sel tubuh manusia. Allah memberikan udara berlimpah untuk kehidupan manusia dan mahluk lainnya , namun sedikit sekali manusia yang memnsyukuri pemberian yang berlimpah itu. Manusia merasa bernapas bukanlah hal yang istimewa, karena itu mereka lakukan secara rutin terus menerus setiap hari. Mereka baru menyadari pentingnya bernapas ketika mengalami kesulitan untuk menghirup udara yang bersih.

Seorang guru ditanya oleh muridnya:” Guru , apakah sesuatu yang paling utama bagi kehidupan kita manusia ini? “ . Gurunya menjawab:” Mari ikut aku kesungai, nanti aku jelaskan”.
Sesampainya disungai mereka berdua mandi disungai itu.

Tiba tiba sang Guru menekan kepala muridnya kedalam air , hingga sang murid menggelepar panik berusaha membebaskan diri. Berulang –ulang sang Guru melakukan hal ini , sehingga sang murid menjadi letih. Sang Guru bertanya :”
Apa yang kau rasakan ketika aku menenggelamkan kepalamu ke dalam air?” .

Sang murid menjawab :” saya ingin bernapas ya Guru”. Sang Guru menjawab:” Nah itulah hal utama yang penting bagi kehidupan kita”.

Selama ini kita lupa bersyukur pada Allah yang telah memberikan udara berlimpah untuk kehidupan kita dengan mudah , tanpa harus bekerja keras sebagaimana kalau kita ingin mendapatkan makanan atau buah-buahan.

Untuk mendapatkan makanan dan buah-buahan kita harus bekerja keras, bertani atau membelinya dengan harga yang mahal.

Namun untuk mendapatkan udara kita bisa memperolehnya dengan mudah dari alam bebas tanpa harus membayar atau bekerja keras.

Kita baru menyadari nikmatnya napas ketika mengalami masalah dengan pernapasan, seperti tenggelam, terhimpit diruang yang sempit dan pengap, berada ditengah kerumunan orang yang saling berdesakan, sakit asma , dan hal lain hingga memerlukan bantuan tabung oxigen

Mari kita syukuri nikmat napas yang diberikan Allah pada kita dengan mengiringi setiap tarikan dan hembusan napas dengan dzikir mengingat Allah.


Sama tidak sama,berbeda tidak sama

0 komentar

Yuk berfikir yang benar dan temukan kebenaran

1. Barangsiapa hatinya senang karena melihat sesuatu yang berbeda dengan dirinya,maka itu tandanya hatinya belum sembuh total

2. Barangsiapa hatinya bangga karena merasa dirinya beda daripada yang lain maka dia sedang berpenyakit

3. Barangsiapa merasa dirinya paling benar yang lain salah dan sesat maka dia tidak sadar kalau dia sudah di laknat oleh Allah dengan kematian pandangan,pendengaran dan hati

4. Apakah semuanya tidak sama Atau semuanya sama ?

5. Kalau sekalian alam serta isinya ini sama, dimana kesamaannya?

6. Jika sekalian alam serta isinya ini tidak sama, dimana letak ketidak samaan itu ?

7. Kalau sekalian alam dan isinya ini sama dan tidak sama maka di mana samanya dan di mana ketidak samaannya ??

8. Yuk berfikir yang benar dan temukan kebenaran,
silahkan diskusi di dalam Blog Legenda Tauhid ini..jika tidak menemukan jawaban setelah diskusi baru kita cari guru Tauhid yang hakiki


Question and is not important.

0 komentar

Question and is not important. Who are you ? Where were you ? Descendants are you? Social starta are you? Positions are you? What religion are you?
You what party? You are supporting candidates who?
All these questions UNIMPORTANT
The most IMPORTANT is You Got the Lord or not. ??


Belief is Tawhid

0 komentar

belief is Tawhid

Among belief is Tawhid Expert
They are confident and believe in Af, al or manifestation of God's action in the universe.

As Af, al or manifestation of that God no beginning and no end.

This means that each time there is creation or renewal, even weirder and more severe

Including with regard to technology.
So whoever of you who do not accept any changes and new embodiment

then know that faith and Tawheed you still a big question.
As you brother who do not receive the GO-JEK and others. Wallahu ta, ala knows best.


Pertanyaan Penting dan tidak penting

0 komentar

Siapa kamu ? Dari mana kamu ? Keturunan apa kamu ? Starta sosial apa kamu ? Jabatan apa kamu ? Agama apa kamu ?
Kamu partai apa?Kamu Pendukung calon bupati siapa ?
Semua pertanyaan ini TIDAK PENTING
Yang paling PENTING adalah Kamu Punya TUHAN atau tidak.??


Tujuh Keajaiban Dunia Versi Siswanya Allah SWT

0 komentar

Seorang guru memberikan tugas kepada siswanya untuk menuliskan 7
Keajaiban Dunia.
Tepat sebelum kelas usai siang itu, semua siswa diminta untuk
mengumpulkan tugas mereka.
Seorang gadis kecil yang paling pendiam di kelas itu, mengumpulkan
tugasnya paling akhir dengan ragu-ragu. Tidak ada seorangpun yang
memperhatikan hal itu…
Malamnya sang guru memeriksa tugas itu.
Sebagian besar siswa menulis demikian,
Tujuh Keajaiban Dunia:
1. Piramida
2. TajMahal
3. Tembok Besar Cina
4. Menara Pisa
5. Kuil Angkor
6. Menara Eiffel
7. Kuil Parthenon
Lembar demi lembar memuat hal yang hampir sama. 
Beberapa
perbedaan hanya terdapat pada urutan penulisan daftar tersebut.
Tapi guru itu terus memeriksa sampai lembar yang paling akhir…
Tapi saat memeriksa lembar yang paling akhir itu, sang guru terdiam.
Lembar terakhir itu milik si gadis kecil pendiam…
Isinya seperti ini :
Tujuh Keajaiban Dunia:
1. Bisa Melihat
2. Bisa Mendengar
3. Bisa Menyentuh
4. Bisa diSayangi
5. Bisa Merasakan
6. Bisa Tertawa, dan
7. Bisa Mencintai…
Setelah duduk diam beberapa saat, sang guru menutup lembaran
tugas siswanya.
Kemudian menundukkan kepalanya berdoa...
Mengucap syukur untuk gadis kecil pendiam di kelasnya yang telah
mengajarkannya sebuah pelajaran hebat, yaitu:
Tidak perlu mencari sampai ke ujung bumi untuk menemukan keajaiban.
Keajaiban itu ada di sekeliling kita untuk kita miliki dan tak lupa
untuk kita syukuri...
Coba renungkan
Ketika kita hidup di gunung, merindukan pantai. Ketika kita hidup di pantai,
merindukan gunung.
Kalau kemarau kita bertanya kapan hujan? 
Di musim hujan kita bertanya kapan kemarau?
Diam di rumah, berkeinginan untuk keluar. 
Setelah keluar berkeinginan untuk pulang.
Waktu sunyi mencari keramaian. 
Waktu ramai ingin cari ketenangan.
Ketika bujang mengeluh keinginan untuk menikah. 
Sudah berkeluarga
mengeluh belum miliki anak. 
Setelah ada anak, mengeluh biaya hidup.
Ternyata, sesuatu nampak indah karena belum kita miliki..
Bilakah kebahagiaan akan diperoleh kalau kita sentiasa memikirkan
apa yang belum ada, tapi mengabaikan apa yang sudah kita miliki..
Jadilah pribadi yang selalu bersyukur dengan rahmat dan nikmat yang sudah kita miliki..
Mungkinkah selembar daun yang kecil dapat menutup bumi yang luas ini? 
Sedangkan menutup telapak tangan saja pun sudah begitu sukar..
Tapi, kalau daun kecil ini melekat di mata kita, maka tertutuplah bumi
dengan daun..
Begitu juga bila hati ditutupi fikiran buruk sekecil apapun, maka kita akan melihat keburukan di mana-mana, bumi ini sekalipun akan
nampak buruk..
Jadi, janganlah menutup mata kita, walaupun hanya dengan daun yang
kecil.
Janganlah menutup hati kita dengan sebuah fikiran buruk, walaupun
cuma seujung kuku.
Syukuri apa yang sudah kita miliki, sebagai modal untuk memuliakan-Nya.
Karena hidup adalah, waktu yang diberikan dan amanah yang
dipertanggungjawabkan..
Bersyukurlah atas napas yang masih kita miliki..
Bersyukur atas keluarga yang kita miliki..
Bersyukur atas pekerjaan yang kita miliki..
Bersyukur atas kesehatan yang kita miliki..
Bersyukur atas rahmat dan nikmat yang kita miliki..
Bersyukur dan senantiasa bersyukur di dalam segala hal..
Semoga kita mendapat manfaat dan senantiasa bersyukur.
Alhamdulillah, . . . .
bersyukur atas napas yg masih diberikan olehNya hari ini.


Jangan Salahkan Allah SWT

0 komentar

Iqro bismirobbika ladzi kholaq
Artinya : Baca lah dengan nama Robb mu
Perhatikan baik-baik Perintah Allah dalam Ayat ini !
- Allah tidak berfirman Baca lah dengan ilmu nahwu shorof 
- Allah tidak berfirman Baca lah dengan Ilmu Tafsir
Allah tidak berfirman Baca lah dengan ilmu fiqih dan syariat
- Allah tidak berfirman Baca lah dengan Ilmu ekonomi,matematika,fisika,biologi,geografi dan lain-lain

Tetapi firman Allah Jelas dan Tegas yaitu, Baca lah dengan Nama Tuhanmu.
Fahami baik-baik agar Anda tidak hanya sampai pada ilmu nahwu shorof.
tidak hanya sampai pada ilmu tafsir,fiqih,syariat
tidak hanya sampai pada ilmu ekonomi,matematika,fisika,biologi,dan lain-lain


Manusia, Percaya dan Agama

0 komentar

Tulisan  Blog Legenda Tauhid copy dari seora sahabat Kompasina, sebab isi artikel ini sesuai dengan Blog Legenda Tauhid. berikut Judul artikelnya :

Apakah Manusia yang Percaya Tuhan
Membutuhkan Agama?

Konsep ketuhanan telah menjadi bahan diskusi
yang hampir tidak berkesudahan. Setiap
peradaban, kelompok masyarakat maupun
kelompok kepercayaan tertentu dapat
memaknai arti Tuhan menurut interpretasi
mereka masing - masing sesuai keadaan
jaman, lingkungan dan tingkat pengetahuan
mereka. Perbedaan interpretasi tersebut tentu
saja juga melahirkan perbedaan dalam
penamaan Tuhan itu sendiri.
Walaupun terdapat sejumlah perbedaan dalam
memaknai konsep ketuhanan tersebut, namun
secara umum konsep ketuhanan yang berlaku
universal adalah bahwa yang disebut dan
diyakini sebagai Tuhan, Allah, God atau
apapun penamaannya adalah Dzat yang
memiliki kuasa, kekuasaan dan atau
menundukkan terhadap yang lain selain dirt -
Nya, terlepas dari apakah Dzat tersebut yang
menciptakan, memelihara dan atau yang
membinasakan kehidupan.
Manusia yang percaya akan adanya Tuhan
memiliki makna bahwa manusia tersebut
percaya akan adanya kekuatan yang
menguasai dirinya, hidupnya, lingkungannya
dan semestanya. Kekuatan tersebut bisa
hadir dalam berbagai bentuk baik yang
berwujud maupun tidak berwujud. Satu hal
yang pasti, kekuatan tersebut memiliki kuasa
dan keberadaan di luar kemampuan manusia
tersebut. Percaya pada Tuhan juga berarti
takut akan kekuatan dan kekuasaan - Nya.
Dengan keadaan tersebut maka manusia
dengan kesadarannya sendiri akan mematuhi
perintah Tuhan dan takut akan kemarahan-
Nya.
Dalam rangka untuk menyenangkan Tuhan dan
menghindari amarah-Nya, maka manusia
berusaha untuk menjalankan perintah - Nya
dan menjauhi larangan-Nya. Manusia
kemudian bersikap, bertingkah laku dan
melakukan hal-hal seremonial yang mereka
yakini sebagai perintah-Nya. Cara bersikap,
bertingkah laku dan hal-hal seremonial diatas
diwadahi dalam bentuk konsep agama.
Agama secara etimologi berasal dari dua kata,
yaitu kata A yang berarti tidak dan kata gama
yang berarti pergi. Secara umum agama
diartikan sebagai hal yang tetap, tidak pergi,
tidak berubah dan diwariskan. Dalam salah
satu agama yaitu Islam, agama atau Din
artinya menguasai, menundukkan, patuh,
hutang, balasan, kebiasaan. Agama dijadikan
manusia sebagai wadah dan atau alat untuk
mencapai ridho Tuhan. Agama sendiri memiliki
unsur kepercayaan kepada Tuhan, rasul, kitab
suci, hari kemudian, adanya penyerahan diri
dan adanya rentetan sejarah. Melalui wahana
agama inilah manusia yang percaya akan
adanya Tuhan beserta kekuasaan dan
Kekuatan - Nya, berusaha untuk menyembah,
menyenangkan dan menghindari amarah-Nya.
Dari rangkaian tulisan diatas dapat kita
katakan bahwa manusia yang percaya akan
keberadaan Tuhan beserta kekuasaan dan
Kekuatan - Nya berusaha untuk menyembah
Tuhan melalui sikap, tingkah laku dan atau hal-
hal seremonial yang diatur didalami agama
sebagai wahana. Dengan kata lain manusia
yang percaya Tuhan akan membutuhkan dan
menjalankan agama apapun bentuk agama itu

Oleh : Sultan Syahrir


Shalatnya dua tubuh

0 komentar

Perumpamaan orang yang menunaikan shalat
tanpa kehadiran
hati (kalbu) adalah seperti orang yang
menghadiahkan seratus
kotak kosong kepada raja. Tentu orang itu
pantas dihukum.
Sedangkan orang yang shalat dengan kehadiran
hati adalah
seperti orang yang menghadiahkan permata
senilai seribu dinar
kepada raja.
Jika engkau masuk dalam shalat, sebenarnya
engkau sedang
bermunajat (berdoa) kepada Allah SWT dan
berbicara kepada
Rasulullah SAW. Sebab, engkau mengucapkan,
"Assalamu 'alaika
ayyuhan-nabiyu wa rahmatullah wa barakatuh
(Salam sejahtera
berikut rahmat dan berkah Allah semoga
dicurahkan
kepadamu)."
Bagi orang Arab, ucapan "ayyuhal-rajul" (Wahai
fulan) hanya
ditujukan kepada orang yang hadir bersamanya.
Sungguh berbeda orang yang shalat disertai
kehadiran hati
dari orang yang shalat dengan hati yang lalai.
Allah tidak
menerima doa orang yang hatinya lalai. Nabi
SAW bersabda,
"Allah tidak mengabulkan doa yang bersumber
dari hati yang
lalai dan lupa." (H.R. At-Tirmidzi)


Mengapa harus Ridha ?

1 komentar

Ulama sepakat bahwa ridaha itu hukumnya sunnah muakad. ridha itu puncak tawakkal dan kedudukan yang mulia. Ridha itu kedudukan serta keadaan yang diperoleh tanpa sebab,bisa juga memperolehnya dengan melaksanakan sebab atau usaha.tergantung kedudukan ilmu-faham dan makrifatullah.

Rasulullah bersabda : Manqola ana asyhadu anla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammad darrosulullah, rodhitubillahi rabba wal islamu diina, wa bi muhammadin nabiyyawwa rosuula, taatsarol iman fi qolbih.

Artinya : Barangsiapa yang beritiqad dan ridaho dalam hatinya ,dan lisannya mengucapkan Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan selain Allah dan aku bersaksi bahwa islam itu agama yang lurus, serta di ridhoi oleh Allah, dan Nabi muhammad itu rasul dan utusan Allah, maka orang tersebut akan merasakan nikamatnya iman.hadis muttafaqqun alaih.

 Dari hadis ini dapat disimpulkan 3 macam ridha.

1. Ridho pada Allah sebagai pemelihara dan raja dunia akhirat,.Yang memberi manfaat maupun mahdhorot.
2.Ridha pada Islam. bahwa islam itu agama yang yang paling lurus-benar-selamat. dan jalan satu-satunya yang menyelamatkan;

3. Ridho bahwa nabi muhamad itu satu-satunya nabi. penutup para nabi dan raja syafaat di dunia dan akhirat, serta sepakat dengan apapun yang beliau bawah dan ajarkan kepada ummat manusia.

Mengapa harus melakukan 3 macam ridho ini, dan apa buahnya kalau melaksanakan 3 macam ridho ini ??

Ini jawabanya :

1,Karena hamba itu hanya memasrahkan segala urusannya pada Allah sang raja empunya maslah.
2.Karena apaun yang di kehendaki Allah pasti baik. adapun segala kontradiksi yang terjadi di dunia ini hanya sebatas pandangan kita yang terhijab.

3. Karena orang yang ikhlas menyembah tidak boleh dan tidak akan bantah atas kehendakNya Allah.
4. Karena hamba ialah pihak yang mencintai.konsekuensinya yang mencintai adalah ridha dengan apapun yang di lakukan oleh kekasih.

5. Karena tahu persis adanya baik dan buruk itu atas mau atau kehendaknya Allah.
6. Karena hamba itu suka bodoh dan suka mendzolimi diri sendiri..QS.Al baqarah : 216
7. Karena hamba adalah seorang muslim, di mana muslim artinya orang yang sudah berserah diri pada Allah

8. Karena orang yang mengenal Allah. orang yang mengenal Allah pasti tidak menemukan sedikitpun kekurang dan keagunggan Dzat-sifat-asma-dan af'al nya Allah.
9.Karena tahu bahwa, jikalau hamba ridho pada Allah maka Allahpun akan ridaho. dan apabilah hamba marah maka Allah akan murka pada hambaNya, seperti pada iblis dan adam, walaupun adam di ampuni setelah beliau minta ampun pada Allah.

10.Karena ridha pada Allah - rasulullah dan agama islam, dapat membuahkan berbagai kemanisan dan kenikmatan, yaitu karunia-nikmat-beban jadi ringan- kegembiraan dan lain - lainnya

11.Karena bisa jadi di penuhi dengan kesenagan-kegembiraan dan nikamat - nikmat itu menjadi sebab seorang hamba tidak mendapatkan ridhanya Allah ( naudzubillah ). Bisa jadi juga takdirnya Allah menimpa seorang hamba sehinga sesak nafas kehidupannya, namun  hanya dengan cara itu Allah mau menyempurnakan Allh sabar-ridha- tawakkal- tafwidz dan lain- lain.

WALLAHU A'LAM




Sekilas tentang ilmu kalam

0 komentar

Ilmu Kalam adalah salah satu bentuk ilmu
keislaman Kajian dalam ilmu kalam terfokus pasa
aspek ketuhanan (devesivasinya) atau bentuk
karena itu disebut teologi dialetika, dan rasional.
Secara harfiah kata kalam artinya pembicaraan
tetapi bukan dalam arti pembicaraan sehari-hari
(omongan) melainkan pembicaraan yang bernalar
dan logika (akal).
Ilmu Kalam adalah Ilmu yang membicarakan
bagaimana menetapkan kepercayaan-kepercayaan
keagamaan (agama islam) dengan bukti-bukti
yang yakin. Ilmu Kalam adalah Ilmu yang
membahas soal-soal keimanan yang sering juga
disebut Ilmu Aqaid atau Ilmu Ushuluddin.
1. Rasionalitas
2. Logis
Beberapa ulama memberikan pendapat yang
berbeda-beda sesuai dengan argument mereka
masing-masing tentang definisi Ilmu Kalam :
Menurut Al-‘iji Ilmu Kalam adalah Ilmu yang
memberi kemampuan untuk menetapkan aqidah
agama (Islam) dengan mengajukan argument
untuk melenyapkan keraguan-keraguan.
Menurut Ibnu Khaldun Ilmu Kalam adalah Ilmu
yang mengandung argument-argument rasional
untuk membela Aqidah-aqidah Imanya dan
mengandung penolakan terhadap golongan bid’ah
(perbuatan-perbuatan baru tanpa contoh) yang
didalam aqidah menyimpang dari mazhab salah
dan ahli sunnah.
Menurut Fu’at Al-Ahwani Ilmu Kalam adalah
memperkuat aqidah agama dengan ajaran-ajaran
yang rasional.


Analisa seorang blogger barat tentang Tauhid

0 komentar


Kata monoteisme berasal dari bahasa Yunani monos , yang berarti satu , dan theos , yang berarti dewa . Dengan demikian , tauhid adalah keyakinan akan keberadaan dewa tunggal . Monoteisme biasanya kontras dengan politeisme , yang merupakan kepercayaan banyak dewa , dan ateisme , yang merupakan tidak adanya kepercayaan pada tuhan .
Karena monoteisme didirikan pada gagasan bahwa hanya ada satu Tuhan, itu adalah umum bagi orang percaya untuk juga berpikir bahwa Tuhan menciptakan semua ini kenyataan dan benar-benar mandiri , tanpa ketergantungan pada makhluk lainnya . Ini adalah apa yang kita temukan dalam sistem agama monoteistik terbesar : Yahudi, Kristen , Islam , dan Sikh .
Kebanyakan sistem monoteistik cenderung eksklusif di alam - apa artinya ini adalah bahwa mereka tidak hanya percaya dan menyembah dewa tunggal , tetapi mereka juga menyangkal keberadaan para dewa dari setiap agama-agama lainnya . Kadang-kadang kita dapat menemukan agama monoteistik mengobati dugaan allah lain sebagai sekedar aspek atau inkarnasi dari satu , dewa tertinggi mereka, ini , bagaimanapun, adalah relatif jarang terjadi dan terjadi lebih selama transisi antara politeisme dan monoteisme ketika para dewa tua perlu dijelaskan .
Sebagai konsekuensi dari eksklusivitas ini , agama-agama monoteistik secara historis ditampilkan toleransi beragama kurang dari agama-agama politeistik . Yang terakhir telah mampu menggabungkan para dewa dan keyakinan agama lain dengan relatif mudah , mantan hanya dapat melakukannya tanpa mengakuinya dan sementara menyangkal setiap realitas atau validitas keyakinan orang lain ' .
Bentuk monoteisme yang tradisional yang paling umum di Barat ( dan yang terlalu sering bingung dengan teisme secara umum ) adalah kepercayaan pada tuhan personal yang menekankan bahwa tuhan ini adalah pikiran sadar yang imanen di alam , manusia , dan nilai-nilai yang telah dibuat. Hal ini sangat disayangkan , karena gagal untuk mengakui keberadaan berbagai besar tidak hanya dalam monoteisme umumnya , tetapi juga di dalam monoteisme di Barat .
Di satu ekstrim kita memiliki monoteisme mutlak Islam di mana Allah digambarkan sebagai dibeda-bedakan , abadi , tiada bandingnya , tidak diperanakkan , dan sama sekali tidak antropomorfik ( memang, antropomorfisme - menghubungkan kualitas manusia kepada Allah - dianggap menghujat Islam ) . Di ujung lain kita memiliki kekristenan yang menyatakan Allah sangat antropomorfik yang tiga orang dalam satu . Seperti dipraktekkan , agama monoteistik menyembah jenis yang sangat berbeda dari dewa : hanya tentang satu-satunya hal yang mereka memiliki kesamaan adalah fokus pada dewa tunggal .
Asal tauhid tidak jelas . Sistem monoteistik pertama yang tercatat muncul di Mesir selama pemerintahan Akhenaten , tapi itu tidak bertahan lama kematiannya . Beberapa menyarankan bahwa Musa , kalau dia ada , membawa monoteisme Ibrani kuno , namun ada kemungkinan bahwa ia masih henotheistic atau memadukan tauhid . Beberapa orang Kristen evangelis menganggap Mormonisme sebagai contoh modern monolatry karena Mormonisme mengajarkan adanya banyak dewa dari banyak dunia , namun memuja hanya satu dari planet ini .
Berbagai teolog dan filsuf melalui waktu telah percaya bahwa monoteisme " berevolusi " dari politeisme , dengan alasan bahwa agama politeistik yang lebih primitif dan agama monoteistik yang lebih maju - budaya , etis , dan filosofis . Walaupun mungkin benar bahwa kepercayaan politeistik lebih tua dari keyakinan monoteistik , pandangan ini sangat sarat nilai dan tidak dapat segera mengurai dari sikap fanatisme budaya dan agama .


Ta'aluq or koleration some properties.

0 komentar

Ta'aluq some properties

A. Ta'alluq Nature - Nature Ma'ani
Ta'alluq the language is; dependent,
related, unrelated or unconnected achieved.
Ta'alluq menururt terms in the study of science
monotheism, especially Ma'ani properties are
about the nature of an occupation after nature
it stands on the matter. There are several kinds of
ta'alluq, namely:

1.Ta 'alluq Qudrat nature and Iradat
Ta'alluq both, to the things that are allowed but not required or
that mumkin only, not ta'alluq to things;
mandatory and not also to the things that
impossible. If both of these properties ta'alluq to
are mandatory, there will be tahsîl al results.
Namely, that there had been held.
If ta'alluq to which it must exist,
it will exchange the mandatory nature of the
allowed but not required. If both of these properties hold the
impossible there, it will exchange the
impossible, be allowed but not required. This might not
occur. Therefore, both of these properties, only
berta'alluq are allowed but not required to, as ta'alluq
ta'tsir (giving ex / effect), with
details of that, with regard to the nature Qudrat
conduct and negate something,
whereas properties related to Iradat
determine and require something
according to his choice.

2. Ta'alluq same nature 'and bashar
Ta'alluq both of these properties, to all who
entities (existing), ie things that are mandatory and
are allowed but not required, not ta'alluq to things impossible,
impossible because it does not exist
his form. Name ta'alluq these two attributes are;
ta'alluq inkisyâf, meaning open for God
Exalted all the entities. It's just inkisyâf
same ', in contrast to inkisyâf bashar, because
inkisyâf same 'means exposed or
disclosure of all the entities through the same '
Allah Ta'ala, while inkisyâf bashar is,
disclosure of all the entities through bashar
Allah Ta'ala. Strictly speaking, all that is tangible,
voice and sounds, are known by God
Ta'ala, through the same 'and his bashar, in
mandatory in the legal sense is not allowed but not required in law
sense.

3. Ta'alluq nature of 'science and Kalam
Both of these properties, the legal sense ta'alluq
three, namely ta'alluq to mandatory,
the thing and the thing that is allowed but not required
impossible. That is, 'the science of Allah Ta'ala
knowing all the things that are required, it is
impossible and it is allowed but not required. Nothing
closed or escape of 'knowledge. Ta'alluq properties
This is called ta'alluq inkisyâf well, while
Kalam properties, called ta'alluqnya with
ta'alluq dalalah, means showing or
menfirmankan all mandatory, it is impossible
and absence allowed but not required.

4. The nature of life
This trait is not ta'alluq to one of
three legal sense, because these properties, only
be a legitimate requirement for the establishment of the properties
Ma'ani that six was the substance.

B. Ta'alluq Ma'ani properties one by one:

1. Ta'alluq nature Qudrat
Namely, the nature of the relationship or connection with
creation or change something
desired by Allah Ta'ala. Target
ta'alluqnya is all that is allowed but not required or any
that mumkin, namely:

a. All mumkin that there is no
While the former or the influence ta'alluq Qudrat
to mumkin that does not exist, is:
1) Establish the mumkin that, in a state
"No" for the desired time

2) Changing the mumkin it, of no
be there.

b. All existing mumkin.
While the former or the influence ta'alluq Qudrat
to the existing mumkin, are:
1) A steady the mumkin that, in a state
"No", during the desired time

2) Changing the mumkin that, from a
condition to the other conditions

3) The return of the mumkin it, be not
there is
From the description above, it keta'alluqan Qudrat
to all who mumkin, can be divided
into three groups, namely

1.1. Ta'aluq group sulûhi qadim (worth in
azali)
That is, the feasibility ta'alluq Qudrat Allah Ta'ala,
to all who mumkin at azali and
feasibility is qadim, because it Qudrat
is qadim. Therefore, so-called
ta'alluq sulûhi, with ta'alluq sulûhi qadim.

1.2 Group ta'alluq tanjîzi hadith
That is, Allah Ta'ala is ta'alluq Qudrat
mumkin directly to everything, so
mumkin everything had changed,
which is to be there or back into not
exist or change from one state into
other circumstances. Therefore, this ta'alluq
ta'alluq tanjîzi called hadith.

1.3 Group ta'alluq qabdlah
That is, any form of change in all
which mumkin, are in qabdlah
(Grip) Qudrat Allah Ta'ala, in the sense
that, does not there is a change in
something mumkin, except with ta'alluq
tanjîzi Qudrat to something mumkin.
Finally, ta'alluq Qudrat Allah Almighty to
mumkin everything, there are seven kinds, namely: ad.

1.1 Ta'alluq sulûhi qadim, namely feasibility
ta'alluq Qudrat on azali, to all who
mumkin.

ad. 1.2 Ta'alluq qabdlah to mumkin
ma'dum (no), which ta'alluq Qudrat
to mumkin, before which it mumkin
created.

ad. 1.3 Ta'alluq tanjîzi to the mumkin
ma'dum, namely ta'alluq Qudrat to the
mumkin ma'dum, to be created, so that
There he became.

ad. 1.4 Ta'alluq qabdlah to manifest mumkin
(Which already exists), ie, mumkin already
manifest it, no change. Except
with ta'alluq Qudrat in tanjizi have
apply to him, so changed.

ad. 1.5 Ta'alluq tanjîzi to mumkin entities,
ie ta'alluq Qudrat to the mumkin
entities, to be converted into re not
there.

ad. 1.6 Ta'alluq qabdlah to the mumkin
has been eliminated, which is already mumkin
dispensed, are in qabdah Qudrat,
before later resurrected from the grave.

ad. 1.7 Ta'alluq tanjîzi to the mumkin
has been eliminated, ie ta'alluq Qudrat God
Exalted to the mumkin has been eliminated,
to be raised back in the day
retaliation, namely; doomsday.

2. Ta'alluq nature Iradat
Namely, the provision of Allah Ta'ala on the
mumkin, with berkeadaan from one of two
circumstances to the contrary. For example, the A, when
birth may be high and may be
short. The specificity for the A, born as
short people, including assignment of ta'alluq
Iradat.

After that ta'alluq Qudrat tanjîzi

A man creates truly become shorter.
Similarly, the terms of skin color,
region and the first lineage
determined by the nature Iradat. Henceforth
created by Qudrat. Therefore, ta'alluq
Iradat, divided into two groups, namely:

2.1. Ta'alluq group sulûhi qadim
That is, the feasibility ta'alluq Iradat to all
which mumkin, to specialize the
The mumkin, in order to have the condition
before that it mumkin certain entities.
Feasibility ta'alluq Iradat to everything
mumkin is qadim, because it is qadim,
then ta'alluq sulûhi for Iradat, is qadim
too.

2.2. Ta'alluq group tanjizi qadim
That is, Allah Ta'ala specialization in
directly against a who mumkin,
berkeadaan with a particular situation,
before the mumkin was created.
Such specificity is also qadim,
because Allah Ta'ala are
(Determine) a condition to which
mumkin with his Iradat qadim, then
ta'alluq tanjîzi for Iradat also be qadim.
With this description, it can be seen that, all
the presence mumkin when berkeadaan with

a state is, an incarnation
ta'alluq Iradat of the tanjîzi. So that
sebahagian scholars of Tawheed, termed
that; ta'alluq tanjîzi for Qudrat is, "
Qada '"and manifestations mumkin to nature
accordance with ta'alluq tanjîzi real Iradat,
called the "Qadr".
According Iradat Ahlussunnah:
Iradat (will / decree of Allah) is not necessarily
in line with the orders and ridhoNya. Therefor
There are four kinds:

1. Sometimes God's will, he sent and
diridhoiNya. Such faith is known
God's faith, for example, Abu Bakr Siddiq.

2. Sometimes pleases, not
governed and not diridhoiNya. Like
polytheists Abu Bakr.

3. Sometimes pleases, is not governed
and not diridhoiNya. Such as those polytheists
people who know God, will not believe.
For example, Pharaoh, Qarun and those
adulterous
Sometimes governed, but not
pleases. Berimannya like Pharaoh,
Qarun and others.

3. Ta'alluq same nature '
The scholars mutakallimin, different opinions
about the same object ta'alluq nature '(which
dita'alluqi by the same '). In a proportion of their
stated, that, as' just ta'alluq
to which heard it, namely; voice and
sound. This opinion is very logical, therefore
this difference of opinion, then
Similarly they also disagreed with what
heard by the prophet Moses, first.
Settled some scholars assert, that has
heard by the prophet Moses, is the word nafsi,
while the other states are kalam
lafzhiy.

Furthermore, the same nature 'is, has three terms
ta'alluq, namely:

a. Ta'alluq sulûhi qadim ie, the same ta'alluq '
with us, before we were created.

b. Ta'alluq tanjîzi qadim ie, ta'alluq with
Substance Allah Ta'ala

c. Ta'alluq tanjîzi hadith that is, the same ta'alluq '
to us, after we created.

4. Ta'alluq nature bashar
Namely, ta'alluq to which entities (existing),
either in the form of a substance, as well as the nature of a
mumkin. Assad also has the ta'alluq
same with the same ta'alluq '.

5. Ta'alluq nature of science
The nature of science, only two terms ta'alluq,
namely:

a. Ta'alluq sulûhi qadim
Namely, feasibility or appropriateness nature of science
ta'alluq to
everything; (obligatory, impossible and allowed but not required), with
various circumstances without intermediaries, without
There mumkin at azali and feasibility
levels of knowledge, (delusions, suspicion, Zhan and
sure) and without preceded by ignorance
(Ignorant). Therefore, science is qadim.
Then feasibility ta'alluq science to every-
Sundry is; qadim, then ta'alluq is called,
with ta'alluq sulûhi qadim.

b. Ta'alluq tanjîzi qadim
Namely, ta'alluq knowledge of God to all and sundry
directly, with the conditions that have been
mentioned. Allah Ta'ala is impossible science
omniscient over everything, preceded by
ignorance (ignorant). Therefore, ta'alluq
tanjîzi science was also qadim God, the meaning of
words, Allah Ta'ala is never an've no idea; on
one day; past, present or
that will come. Because of his knowledge covering
every time and place

6. Ta'alluq nature Kalam
Before explaining the nature ta'alluq Kalam,
will first explain the various
Kalam, namely:
a. Kalam Nafsi
b. Kalam Lafzhiy

Kalam Nafsi is, Kalam is not
have the letter and have no sound
or sound. Humans also have Kalam
nafsi namely the soul, and the idea of ​​conscience or
feelings that have not expressed or not
pronounced, when it has not become a tool
communication.

Kalam is Lafzhiy;-wording wording that
Kalam likens nafsi, the wording is
spoken or embodiment of Kalam nafsi,
the same with him and not similar to
existence, because Kalam has Lafzhiy
lettered and sounds.

Understanding both the Kalam, the Al-Qur'an
in the sense nafsiy Kalam is; nature of God
Exalted is qadim. While the Qur'an in
Lafzhiy Kalam meaning that exist within the Manuscripts
is hadith. This is delivered Gabriel
Muhammad SAW, written and composed.

This Qur'an, unclean touched without
sacred, and the Qur'an as well, which is often read
and no reward. So he ta'alluq to
obligatory, impossible and allowed but not required, as ta'alluq
dalalah. Ta'alluq the obligatory, impossible
and allowed but not required ta'alluq tanjîzi called qadim.

While ta'alluq Kalam properties to the
allowed but not required, there are three kinds, namely:

a. Ta'alluq tanjîzi qadim, namely ta'alluq Kalam,
the case allowed but not required in terms of the presence or absence.

b. Ta'alluq tanjîzi hadith, namely ta'alluq Kalam,
are allowed but not required to respect the legal terms
also allowed but not required, to be handgrip.

c. Ta'alluq sulûhi qadim, namely ta'alluq Kalam
the thing is allowed but not required, in terms of whether or not
presence, as well as from a legal perspective kejaizannya
(Skill) as ta'alluq eligibility.

Thus ta'alluq Ma'ani properties, which have
described one by one, except for the nature of life.

Nature This does not have ta'alluq, because it only
be a legitimate requirement for Ma'ani properties, which
another to stand (still there) on the substance of God
Exalted.


Tahapan Manusia hadir di alam insan

0 komentar

Manusia, nama sebutan yang penuh mistis dan misterius. kenapa ? tiada lain kecuali Manusia itu jam,un minkulli jam,in. Artinya kumpulan dari segala kumpulan, himpunan dari segala himpunan, yaitu himpunan dari semua alam.

yakni Ahda, wahda, ahadiyah, wahidiyah, alam Ruh, alam mitsal, alam ajsam, alam insan. biasa di sebut 7 martabat.

namun muqadimah ini dalam prespektif ilmu tauhid. sedangkan yang mau di bahas oleh Blog Perpustakaan Tauhid adalah dalam prespektif syariat.

Adapun tahapan - tahapan Manusia hadir di alam Insan menurut Al qur,an adalah sebagai berikut :

1. Tahap ghaib (tak terlihat), yang terjadi pada
zaman primordial atau azali, dan hanya
diketahui melalui pengetahuan wahyu. Pada
tahap ini, berulang kali disbeutkan bahwa
manusia diciptakan dari tiada, dari
substansi organik yang rendah dengan
sebutan tanah liat ( tin ), debu dan lumpur
( turab ) dan dari tanah liat gelap, yang
dibentuk oleh Tuhan melalui tangan-Nya
sendiri. Dan setelah berbentuk sempurna,
Tuhan meniupkan kepadanya ruh-Nya,
sebagaimana dalam Qs. Shaad ayat72. Ruh
Ketuhanan inilah, dijadikan dalam “bentuk
yang paling sempurna” kedalam organisme
manusia yang telah siap. Dalam arti, Tuhan
memindahkan unsur-Nya kedalam susunan
fisik bentuk manusia yang lebih sederhana
dan menjadikan manusia makhluk yang
paling mulia dari makhluk-makhluk Tuhan
lainnya. Ini, barangkali, satu alasan
mengapa Tuhan memerintahkan malaikat
agar bersujud kepada manusia pertama,
Adam.

2.Tahap proses biologis alami, yang manusia
sendiri dapat mengatahuinya melalui
pengalaman atau pengetahuan ilmiah.
Sperma disimpan dalam rahim yang kokoh,
kemudian diubah menjadi segumpal darah
yang kemudian dibungkus dengan tulang
dan daging.
Terdapat banyak sekali al-Qur’an yang
menerangkan tentang manusia seperti mengenai
proses penciptaan manusia dan hal-hal lain yang
berhubungan dengan manusia. Sebutan-sebutan
manusia dalam al-Qur’an pun terdapat
bermacam-macam yang tentunya terdapat
maksud yang menjelaskan konsep manusia itu
sendiri. Sebutan-sebutan tersebut diantaranya;
Basyar , Insan, an-Naas , Nafs , Fu’ad , Aql, Qalb ,
Ruh, Bani Adam, dan Abd Allah.

1. A. Al-Basyr ( ﺍﻟﺒﺸﺮ)
Kata basyar berakar dengan huruf-huruf ba’ ( ﺑﺎﺀ),
syin ( ﺷﻴﻦ), dan ra’ ( ﺭﺍﺀ), yang bermakna pokok
‘tampaknya sesuatu dengan baik dan indah’. Kata
kerja basyara ( ﺑﺸﺮ ) yang berarti ‘bergembira’,
‘menggembirakan’, dan ‘menguliti’ (misalnya
buah); dapat pula berarti ‘memerhatikan’ dan
‘mengurus sesuatu’. Al-Qur’an menggunakan
kata basyar sebanyak 37 kali, yakni 36 kali
didalam bentuk mufrod dan sekali didalam bentuk
mutsanna untuk menunjuk manusia dari sudut
lahiriahnya serta persamaannya dengan manusia
seluruhnya. Pengertian ini ditemukan didalam QS.
Al-Kahfi [18]: 110, tepatnya ketika Nabi
Muhammad saw. diperintahkan untuk
menyampaikan, ‘ ﺍِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻧَﺎْ ﺑَﺸَﺮٌ ﻣِﺜًﻠُﻜُﻢْ ﻳُﻮْﺣَﻰ
ﺇِﻟﻰَّ’ (Sesungguhnya aku ini hanya seorang
manusia [basyar] seperti kamu, yang diberi wahyu
kepadaku).
Selain itu, kata basyar dalam QS. Ar-rum [30]:20
yang mengisyaratkan bahwa proses kejadian
manusia sebagai basyar melalui tahap-tahap
sehingga mencapai kedewasaan. Kata
‘’bertebaran’ dalam ayat tersebut, M. Quraish
Shihab mengartikannya disini dengan berkembang
biak akibat hubungan seksual dan bertebaran
mencari rezeki. Hal ini tidak dilakukan manusia
kecuali oleh mereka yang memiliki kedewasaan
dan tanggungg jawab. Abd Muin Salim
menjelaskan bahwa ayat diatas menunjukkan
adanya perkembangan kehidupan manusia karena
didalamnya terdapat kata min ( ﻣﻦ ) yang
bermakna ‘mulai dari’ dan kata tsumma ( ﺛﻢ ) yang
bermakna ‘perurutan dan perselangan waktu’.
Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa kejadian
manusia diawali dari tanah dan secara
berangsur-angsur mencapai kesempurnaan ketika
mereka telah menjadi dewasa.
Dalam QS. Ali-Imran [3]: 47 ,: ‘ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﺭَﺏِّ ﺍِﻧَّﻰ ﻳَﻜُﻮْﻥُ ﻟِﻲ
ﻭَﻟَﺪٌ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻤْﺴَﺴْﻨِﻲْ ﺑَﺸَﺮٌ (Ya Tuhanku, betapa mungkin
aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah
disentuh oleh seorang manusia laki-laki [basyar ]’)
. Dalam ayat ini, Maryam mengungkapkan
keheranannya betapa mungkin ia dapat
memperoleh anak padahal ia belum pernah
‘disentuh’ oleh basyar , yakni dewasa yang
mampu melakukan hubungan seksual.
Disamping itu, ditemukan pula kata basyiruhunna
( ﺑَﺸِﻴْﺮُﻭﻫُﻦَّ), yang juga berakar dari kata basyara
( ﺑﺸﺮ ) dengan arti ‘hubungan seksual’. Kata
basyiruhunna disebutkan dua kali didalam satu
ayat, yakni al-Baqarah [2]: 187. [1]
Dalam konsep basyar, manusia adalah makhluk
biologis. Sebagai makhluk biologis berarti
manusia terdiri atas unsur materi, sehingga
menampilkan manusia dalam bentuk fisik material
(Hasan Langgulung dalam Jalaluddin, 2002: 19).
Dalam konsep al-Basyr, manusia merupakan
makhluk jasmaniah yang secara umum terikat
kepada kaidah-kaidah umum dari kehidupan
makhluk biologis seperti berkembang biak,
mengalami pertumbuhan dan perkembangan
dalam mencapai tingkat kematangan dan
kedewasaan (dorongan mengembangkan diri),
memerlukan makanan dan minuman untuk hidup,
memerlukan pasangan hidup untuk melanjutkan
keturunannya (dorongan seksual), dorongan
mempertahankan diri, sebagai dorongan primer
makhluk biologis. [2]
Adapun penjelasan al-Qur’an tentang proses dan
fase perkembangan manusia sebagai makhluk
biologis adalah: [3]

1. Prenatal (sebelum lahir), proses penciptaan
manusia berawal dari pembuahan
(pertemuan sel dengan sperma) didalam
rahim, pembentukan fisik janin (QS. Al-
Mu’minun: 12-14).

2. Post natal (sesudah lahir) proses
perkembangan dari bayi, remaja, dewasa
dan usia lanjut (QS. Al-Ghafir: 67)
Selain itu, sebagai makhluk biologis, manusia pun
mengalami proses akhirnya secara fisik, yaitu
mati. Segala pemenuhan kebutuhan manusia
telah diatur oleh Penciptanya karena manusia
juga sebagai makhluk ciptaan. Sang Pencipta
memberikan tata cara dan ketentuan agar
manusia dapat menjalankan peran dalam
hidupnya secara benar, sesuai dengan hakikat
penciptaannya. Oleh karena itu, diharapkan
manusia akan selalu berada dalam kondisi
kehiudupan yang selamat.
Al-Qur’an mengatur peran manusia selaku
makhluk biologis ciptaan Allah. Dengan adanya
hukum tata aturan didalamnya, pertumbuhan dan
perkembangan, serta dorongan biologisnya akan
berjalan secara harmonis dan terarah. Mengenai
kebutuhan makan dan minum, dibuat tata aturan
agar manusia dapat memenuhi kriteria halal
(absah) dan baik (bergizi) agar sesuai dengan
kebutuhannya (QS. An-an-Nahl:65-69), mengenai
air (QS. An-Nahl:65), susu (QS. An-Nahl:66),
buah-buahan (QS.an-Nahl:67) dan air madu (QS.
An-Nahl:69). Sedangkan untuk menyalurkan
dorongan seksual, dibuat aturan pernikahan (QS.
Ar-Ruum:21). Demikian pula untuk menjaga
keturunan, diatur tanggung jawab orang tua
terhadap anak dan usaha untuk memeliharanya
agar terhindar dari azab neraka (QS. At-
Tahrim:6). Sebaliknya diatur pula tata krama
anak terhadap orang tua (QS. Al-Isra’: 23-25). [4]
Dengan demikian, dalam konsep al-Basyr ini,
manusia memiliki peran sebagaimana manusia
sebagai makhluk biologis. Manusia dibedakan
dari makhluk biologis lainnya seperti hewan, yang
pemenuhan kebutuhan primernya dikuasai
dorongan instingtif. Oleh karena itu, segala
pemenuhan kebutuhan biologis manusia diatur
dalam syariat agama Allah.
1. B. Al-Insan ( ﺍﻹِﻧْﺴَﺎ ﻥُ )
Al-Insan terbentuk dari kata nasiya yang berarti
lupa (M. Quraish Shihab dalam Jalaluddin, 2003:
21). Al-Insan terulang 65 kali dalam al-Qur’an.
Kata al-insan mengacu kepada potensi yang
dianugerahkan Allah kepada manusia berupa
potensi untuk bertumbuh dan berkembang secara
fisik (QS.al-Mu’minun: 12-14) dan juga potensi
untuk bertumbuh dan berkembang secara mental
spiritual. Perkembangan tersebut antara lain,
meliputi kemampuan untuk berbicara (QS.ar-
Rahman:4), menguasai ilmu pengetahuan melalui
proses tertentu dengan mengajarkan manusia
dengan kalam (baca tulis) dan segala apa yang
tidak diketahuinya (QS. Al-‘Alaq: 4-5),
kemampuan untuk mengenal Tuhan atas dasar
perjanjian awal dialam ruh, dalam bentuk
kesaksian (QS. Al-A’rof:172). Dari potensi
manusia ini (yang positif) memberi peluang
manusia untuk mengembangkan kualitas sumber
daya insaninya.
Selain memiliki potensi yang positif, manusia juga
memiliki potensi yang mendorongnya kearah
tindakan, sikap serta perilaku negatif dan
merugikan. Potensi tersebut yakni bentuk
kecenderungan manusia untuk berlaku zalim dan
mengingari nikmat (QS. Ibrahim:34), tidak
berterima kasih dan putus asa (QS. Huud: 9),
sombong bila telah berkecukupan, hingga mereka
sanggup mengatakan: “Sesungguhnya Allah
miskin dan kami kaya” (QS. Al-Imran :181).
Perilaku manusia seperti ini cenderung
menjadikan manusia lupa diri dan melupakan
harkat serta martabat dirinya sebagai makhluk
ciptaan. Menurut M. Quraish Shihab, setidaknya
ada tiga kecenderungan fitrah manusia yaitu:
benar, baik dan indah. Mencari yang indah,
melahirkan seni; mencari yang baik, menimbulkan
etika dan mencari yang benar menghasilkan ilmu.
(Quraish Shihab dalam Jalaluddin, 2002: 23).
Oleh karena itu, konsep al-Insan mengacu kepada
bagaimana manusia dapat memerankan dirinya
sebagai sosok pribadi yang mampu untuk
mengembangkan dirinya, agar menjadi sosok
llmuan yang seniman, serta berakhlak mulia
secara utuh. Konsep al-Insan diarahkan pada
upaya mendorong manusia untuk berekreasi dan
berinovasi. Dengan demikian, manusia dapat
menghasilkan sejumlah kegiatan berupa pemikiran
(ilmu pengetahuan), kesenian ataupun benda-
benda ciptaan. Kemudian melalui kemampuan
berinovasi, manusia mampu merekayasa temuan-
temuan baru dalam berbagai bidang. [5]

1. C. An-Naas ( ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ)
Dalam al-Qur’an kata Al-Nas umumnya
dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai
makhluk sosial. Dalam QS. Al-Hujurat: 13,
manusia diciptakan sebagai makhluk
bermasyarakat, yang berawal dari pasangan laki-
laki dan wanita, kemudian berkembang menjadi
suku dan bangsa, untuk saling kenal-mengenal.
Sebagai makhluk sosial, manusia secara fitrah
senang hidup berkelompok, sejak dari bentuk
satuan yang terkecil (keluarga) hingga kepalig
besar dan kompleks, yaitu bangsa dan umat
manusia.
Kehidupan sosial memang diprioritaskan dalam
ajaran islam, bahwa konsep al-Nas terulang
sekitar 24 kali dalam al-Qur’an. Kemampuan
untuk memerankan diri dalam kehidupan sosial,
sehingga dapat mendatangkan manfaat,
sebagaimana Nabi menyatakan: sebaik-baik
manusia, adalah mereka yang banyak memberi
manfaat bagi sesama manusia ( khair al-Nas
anfa’ li al-Nas ). Dengan demikian konsep al-Nas
mengacu kepada peran dan tanggung jawab
manusia sebagi makhluk sosial dalam statusnya
sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.
Sebagai makhluk ciptaan Allah bagaimanapun
manusia dituntut untuk beriman kepada
Penciptanya ( ﺍَﻣَﻨُﻮْﺍ ). Kemudian dalam kehidupan
sosial mereka dituntut untuk berbuat kebaikan
( ﻋﻤِﻠُﻮْﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ). Adapun terdapat tiga kerangka
pokok peran manusia yang digariskan
Penciptanya (lihat QS.al-Imran:110); 1) mengajak
masyarakat berbuat baik (setelah dirinya terlebih
dahulu melakukan kebaikan, 2) mencegah
masyarakat berbuat kemungkaran (sebelum
perbuatan mungkar terjadi), dan 3) atas dasar
iman kepada Allah. Jika ketiganya dapat
dilakukan manusia secara konsisten dan
berkesinambungan serta dapat dijadikan tradisi
dalam kehidupan sosial, maka kelompok
masyarakat tersebut sebagaimana yang dijanjikan
Allah, akan berpeluang mencapai peringkat
terbaik, yaitu predikat khair ummat ( ﺧَﻴْﺮَ ﺍُﻣَّﺔٍ ).
Preringkat ini telah dicapai oleh Nabi dan para
sahabat pada periode awal perkembangan
masyarakat Islam, khususnya diperiode Madinah
dalam suatu Baldat Thayyibat wa Rabb Ghafur
(negara yang aman tentram dibawah naungan
pengampunan Tuhan.[6]

1. D. Ruh
Perbedaan mengenai istilah dikarenakan
pembendaharaan bahasa yang memiliki berbagai
sumber, begitu pula mengenai kata ruh .biasanya
kata ruh sering kali disandingkan dengan jasmani,
kedua kata ini merupakan aspek-aspek yang
tidak bisa dipisahkan.
Ruh dalam al-Qur’an:
Kata ruh berasal dari kata ﺭﻭﺡ sehingga timbul
kata raha (keberangkatan) , rih (angina) , rahya-n
(kesenangan) , ruh (semangat. Daya.Hidup).
Makna kata-kata yang berkaitan dengan ruh bisa
dilihat dalam firman Allah Swt : Qs saba’ 34: 12
Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang
perjalanannya di waktu pagi sama dengan
perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu
sore sama dengan perjalanan sebulan (pula)
[1235] dan Kami alirkan cairan tembaga baginya.
Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di
hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan
izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di
antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan
kepadanya azab neraka yang apinya menyala-
nyala.
Dalam ayat di atas dipetik dua kata yakni rih
yang berarti angina dan rawah yang dalam ayat
tersebut dimaknai sebagai perjalanan sore.
Selain penjelasan dari ayat di atas dari kata ruh
timbul istilah roh kudus ( ruh al-Quds) yang
menggandeng kata al-ruh dan al-quds, istilah ini
terdapat dalam Qs. al-Baqarah : 87
Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al
Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah
menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan
rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti
kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam
dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus
[69] . Apakah setiap datang kepadamu seorang
rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak
sesuai dengan keinginanmu lalu kamu
menyombong; maka beberapa orang (diantara
mereka) kamu dustakan dan beberapa orang
(yang lain) kamu bunuh?
Ayat diatas menyebutkan istilah ruh al-quds “dan
kami memperkuatanya dengan ruh al-quds”,
menurut departemen Agama menjelaskan bahwa
kalimat itu dikaitkan dengan kejadian Nabi Isa
yang luar biasa yakni beliau lahir tanpa bapak
dengan tiupan ruh al-quds oleh Jibril kepada
Mariam.
Mengenai hakikat ruh, kita bisa menemui
jawabannya melalui firman Allah Swt dalam Qsal-
Isra:85:
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku,
dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit”.
Departemen Agama memaknai kata ruh disini
sebagai roh manusia.
Kata ruh atau roh dalam al-qur’an yang memiliki
predikat kudus atau suci, roh adalah malaikat
yakni malaikat Jibril. Selain itu ruh juga berarti
sesuatu yang menyebabkan manusia itu hidup,
dalam hal ini ruh ditiupkan pertama kali oleh
Allah dalam bentukan yang disebut dengan
badan. Dalam hal ini kata ruh memiliki dua
pendapat yakni kata ruh yang pertama berarti ia
sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sedangkan yang
kedua ruh ini sebagai ruh Allah sendiri.
Ruh juga bisa dipandang sebagai wahyu misalnya
mengenai Nabi Isa a.s .[7]

1. E. Nafs
Di dalam Al-Qur’an kata Nafs beserta segala
bentuknya diulang sebanyak 313 kali sedangkan
kata nafs yang berdiri sendiri disebutkan
sebanyak 72 kali.
Secara bahasa kata nafs berasal dari kata nafasa
yang berarti bernafas, artinya nafas keluar dari
rongga, namun seiring perkembangan zaman kata
nafs ini sering kali diartikan sebagai melahirkan,
bernafas, jiwa, ruh, darah, manusia, diri dan
hakikat. meskipun memiliki beragam arti namun
tidak menghilangkan makna arti aslinya. Misalnya
ungkapan seseorang digambarkan dengan
ungkapan bahwa Allah menghilangkan kesulitan
dari seseorang digambarkan dengan ungkapan
naffasa Allah kurbatahu , karena kesulitan
seseorang itu hilang bagaikan embusan nafasnya.
Kata an-nafs juga diartikan darah dengan
argumentasi bahwa apabila darah sudah tidak
beredar lagi di badan dengan sendirinya
nafasnnya hilang. Demikian juga ketika nafas
diartikan sebagai jiwa atau ruh, itu dikarenakan
bila jiwa sebagai daya penggerak hilang dengan
sendirinya nafas juga hilang.
Dalam ayat-ayat Al-Qur’an kata nafs atau anfus
menunjukan bermacam-macam pengertian,
diantaranya:

1. Hati, yaitu salah satu komponen terpenting
di dalam diri manusia sebagai day
penggerak emosi dan rasa, seperti di dalam
Qs. Al-isra: 25 Rubbukum a’lamu bima fi
nufusikum (Tuhanmu lebih mengeahui apa
yang ada di dalam hatimu).

2. Jenis atau species , dalam QS At-Taubah:
128 laqad ja’akum rasulun min anfusikum
(sesungguhnya telah datang kepadamu
seorang rasul dari kalanganmu sendiri).

3. Nafsu,
Secara umum kata nafs jika dikaitkan dengan
pembahasan manusia, ia lebih menunjukan
kepada sisi dalam manusia yang berpotensi baik
dan buruk. Terdapat beberapa perbedaan
pandangan mengenai nafs menurut Al-Qur’an dan
terminologi Sufi.Menurut Al-Qusyairi di dalam
risalahnya menyatakan bahwa nafs dalam
pengertian kaum Sufi adalah sesuatu yang
melahirkann sifat tercela dan prilaku buruk. Selain
hal ini mengenai nafs diperoleh isyarat lain
bahwasannya nafs merupakan wadah, firman
Allah Qs. A-Rad: 11 yang mengatakan bahwa
(Allah tiddak mengubah nasib suatu kaum sampai
mereka mengubah apa yang terdapat di dalam
diri mereka). Maksudnya yaitu apa yang ada di
dalam nafs di dalm konteks ayat ini, adalah ide
dan kemauan yang sangat keras.

1. F. Fu’ad
Kata fu’ad berasal dari kata fa’aa yang berarti
mengenai atau menimpa karena panas yang
membakar. Sering kali kata fu’ad digunakan
untuk menyebut “hati” dari makhluk hidup,
pengertian kata fu’ad yang seperti ini dikaitkan
dengan kata tafa’ud yang berarti ‘menyala’ atau
“bergelora” kenapa demikian, dikarenakan panas
merupakan sumber energi yang dapat
memberikan perasaan segar dan dapat pula
menghanguskan benda-benda lain di sekitarnya.
Begitu pula mengenai hati manusia bisa
membangkitkan semangat dan bisa pula
melemahkannya.
Kata fu’ad di dalam al-Qur’an disebutkan
sebanyak lima kali yakni di dalam Qs. Al-Isra :
37, Qs. Al-Qashash: 10, Qs. An-Najm: 11, Qs. Al-
Furqan: 32, Qs. Al-Hud: 120. Di dalam beberapa
surah seperti Qs. Al-Isra: 36, Qs An-Nahl: 78
penyebutan kata fu’ad sering kali diiringi dengan
penyebutan kata as-sama, al-bashar atau al-
abshar , itu menunjukan begitu erat kaitannya
antara hati manusia dengan pendengaran serta
penglihatan mereka sehingga apa yang didengar
dan dilihat dapat mempengaruhi gelora hatinya.
[8]

1. G. Qalb
Kata qalb bermakna membalik karena qalb itu
berpotensi untuk tidak konsisten, maka sering kali
ia berbolak-balik, sekali senang sekali susah.
Dalam Al-Qur’an juga menggambarkan qalb
sepertin itu, sesuai dengan firman Allah Swt Qs.
Qaf :37:
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-
benar terdapat peringatan bagi orang orang yang
mempunyai akal atau yang menggunakan
pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.
Qs. Ali Imran : 151
Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang
kafir rasa takut, disebabkan mereka
mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang
Allah sendiri tidak menurunkan keterangan
tentang itu.Tempat kembali mereka ialah neraka;
dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-
orang yang zalim.
Berdasarkan ayat-ayat di atas menjelaskan
bahwa kalbu merupakan suatu wadah dari
pengajaran, kasih saying, takut dan keimanan,
sehingga bisa diartikan kalbu itu mampu
menampung hal-hal yang disadari oleh pemilikya.
Perbedaan mengenai kalbu dan nafs yakni kalau
nafs itu menampung apa yang berada di bawah
sadar atau sesuatu yang tidak dinginkan,
sedangkan kalbu ia menampung sesuatu yang
disadari oleh pemiliknya. Dari sini dapat dipahami
mengapa yang dituntut untuk
dipertanggungjawabkan hanya isi kalbu bukan isi
nafs.
Qs. Al-Baqarah: 225
Allah tidak menghukum kamu disebabkan
sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk
bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu
disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk
bersumpah) oleh hatimu.Dan Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyantun.
Qs. Al-Isra: 25
Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam
hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka
sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-
orang yang bertaubat.
Dalam beberapa ayat, kata qalb yang merupakan
wadah itu terkadang difahami sebagai alat seperti
dalam firman-Nya:
Mereka mempunyai kalbu tetapi tidak digunakan
untuk memahami (Qs. AL-A’raf: 179).
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka
Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia,
mereka mempunyai hati, tetapi tidak
dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat
Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda
kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga
(tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar
(ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang
ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.Mereka
itulah orang-orang yang lalai.

1. H. Aql
Mengenai kata aql yang bersifat individual tidak
ditemukan dalam al-qur’an, yang ada hanya
bentuk kata kerjanya, masa kini dan lampau
saja.Dalam segi bahasa pada mulanya berarti tali
pengikat, penghalang, dalam Al-Qur’an kata aql
digunakan bagi sesuatu yang mengikat atau
menghalangi seseorang terjerumusdalam
kesalahan dan dosa. Yang dimaksud sesuatu itu
Al-Qur’an tidak menjelaskannya seca eksplisit,
namun dari konteks ayat-ayat yang
menggunakan akar kata aql dapat dipahami
sebagai berikut:

1. Daya untuk memahami dan
menggambarkan sesuatu
Qs.Al-Ankabut: 43
Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat
untuk manusia; dan tiada yang memahaminya
kecuali orang-orang yang berilmu

1. Dorongan moral
Qs. Al-An’am: 151
Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang
diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu:
janganlah kamu mempersekutukan sesuatu
dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua
orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh
anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami
akan memberi rezki kepadamu dan kepada
mereka, dan janganlah kamu mendekati
perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak
di antaranya maupun yang tersembunyi, dan
janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan
Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu
(sebab) yang benar [518] “. Demikian itu yang
diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami
(nya).

1. Daya untuk mengambil pelajaran dan
kesimpulan serta hikmah.
Qs. Al-Mulk: 10
Dan mereka berkata: “Sekiranya kami
mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu)
niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-
penghuni neraka yang menyala-nyala”.

1. I. Konsep Bani Adam ( ﺑﻨﻰ ﺃﺩﻡ )
Manusia sebagai Bani Adam, termaktub di tujuh
tempat dalam al-Qur’an. Dalam konteks ayat-
ayat yang mengandung konsep Bani Adam,
manusia diingatkan agar tidak tergoda oleh
Syaitan sebagai mana dalam (QS.Al-A’raf:
26-27), seperti pencegahan dari berlebih-lebihan
baik itu makan dan minum dan tata cara yang
berpakaian yang pantas saat beribadah (QS.Al-
A’raf: 31), bertaqwa dan mengadakan perbaikan
( QS. Al-A’raf: 35). Bani Adam dalam (QS: Al-
A’raf: 172), menjelaskan tentang kesaksian
manusia terhadap Tuhannya , dan terakhir
peringatan agar manusia tidak terpedaya hingga
menyembah setan, dengan mewanti-wanti
manusia mengenai status setan sebagai musuh
yang nyata yang tertera (QS. Yasin: 60).
Penjelasan ayat-ayat diatas mengisyaratkan
bahwa, manusia selaku Bani Adam dikaitkan
dengan gambaran peran Adam as. aat awal
diciptakan para malaikat seakan menghawatirkan
kehadiran makhluk ini. Mereka memperkirakan
dengan penciptaanya, manusia akan menjadi
biang kerusakan dan pertumpahan darah.
Kemudian terbukti bahwa Adam As. dan istrinya
Siti Hawa karena kekeliruan akhirnya terjebak
oleh hasutan setan hingga oleh Allah, Keduanya
dikeluarkan dari surge dsebagi hukuman atas
kelalaian yang mereka perbuat. sebagaimana
dikisahkan dalam (QS. Al-Baqarah: 35-36).
Tampaknya manusia selaku Bani Adam memang
termasuk makhluk bermasalah. memiliki peluang
untuk digoda setan.
Dalam penjelasan Al-Gharib al-ishfahany, bani
berarti keturunan (dari darah daging ) yang
dilahirkan ( Al-Ishfahani.tt 20-21). Menurut
penafsir RI mengartikannya segagai “Umat
manusia”(panitia penafsir, 1971: 224,) catatan
kaki No 530).
Jadi “Khalifah” untuk itu selalu diperingatkan oleh
Allah agar manusia selalu waspada dan sebagai
preventif (peringatan dini) bagi dirinya. Selain Itu
Bani Adam, dalam bentuk menyeluruh mengacuh
kepada penghormatan kepada nilai-nilai
kemanusiaan. meskipun dari berbagai latar
belakang sosio-kultural, agama, bangsa dan
bahasanya harus dihargai dan dimuliakan.Dan
pada hakekatnya kita adalah bersaudara dari
nenek moyang sama. Yaitu Nabi Adam as.

1. J. Abd Allah ( ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ )
Al-Qur’an juga menamakan manusia dengan Abd
Allah yang berarti abdi atau hamba Allah.
Menurut Prof Quraish Shihab, seluruh makhluk
memiliki potensi berperasaan dan berkehendak
adalah Abd Allah dalam arti dimiliki Allah.
Kepemilikan Allah terhadapa makhluk tersebut
merupakan kepemilikan mutlak dan sempurna.
Dengan demikian Abd Allah tersebut tidak dapat
berdiri sendiri dalam kehidupan dan seluruh
aktifitasnya dalam kehidupan itu.
Al-Ishfahani memaknai kata Abd juga berarti
ibadah,sebagai pernyataan kerendahan diri.
Kemudian ibadah itu sendiri hanya diperuntukkan
kepada Allah semata (QS. Yusuf: 40)yang
menunjukkan sikap kerendahan diri paling puncak
dan sempurna dari seorang hamba. [9]
Kesimpulan yang dapat kita ambil sebagai hikmah
ialah bahwa ternyata manusia mempunyai
kedudukan yang tinggi dimata Allah. Dikatakan
demikian karena memang Allah memberikan
banyak petunjuk kepada manusia dalam Firman-
Nya. Banyak sekali dapat kita temukan konsep
manusia dalam al-Qur’an. Untuk itu, kita sebagai
manusia tentunya haruslah tetap bersyukur
menjadi hamba-Nya, selalu mengingat Allah dan
teruslah mengkaji al-Qur’an yang tentunya
bermanfaat bagi manusia yakni kita sendiri.

Sumbernya tidak blog perpustakaan tauhid cantumkan, namun dalam artikel ini di sertai sumbernya.

Wallahu a,lam bi shawab.

Maktubatan fi Dinas pendidikan
kabupaten kotabaru-kalimantan selatan


Allah itu Dekat, Mesra atau manunggal dengan Manusia ?

0 komentar

Firman Allah : Innallah ma'asshabirin. Artinya : Sungguh Allah bersama orang - orang yang sabar. Firman Allah lagi : Wallahu ma'akum ainama kuntum. Artinya Sungguh Allah bersama kalian, dimana saja kalian berada. Allah berfirman lagi : Wa ana aqrabu min hablil warid. Dan Aku lebih dekat dari urat leher. Firman Allah lainnya : Wa maa ramaita idzramaita walakinnallaha ramaa. Artinya. Sama sekali kamu tidak melempar, tetapi yang melempar itu Allah. Allah berfirman lagi : Faainamaa tuwalli fatsamma wajhullah. Dimana dan kemana saja kamu hadapkan wajahmu, niscaya disitu kamu mendapi wajah Allah. Baiklah ayat-ayatnya cukup. Sekarang kita analisa kata-kata yang termaktup dari beberapa ayat di atas. Kata pertama adalah BERSAMA, kebersamaan bisa terjadi tatkala ada kesamaan fisik,orentasi,fisi,misi,tujuan dan lain-lain. Namun dalam kebersamaan yang di maksud dalam ayat ini adalah bagaikan dua bola mata,mana mungkin bola mata memandang bergantian ?. Bagaikan dua orang dalam rumah, lalu berkata ali dan ahmad bersama di dalam rumah. Dengan kata lain, bersama berarti bagaikan api dan bara, tak dapat di pisahkan. Kebersamaan Allah dengan hambaNya berarti manunggal, wahda.esa, sejoli, sehati, serasa, serahasia, TANPA kammttashil Dzat Nya, kammuttashil sifat Nya, maupun kammunfashil Dzat-Nya dan kammunfashil sifat-Nya. Akan tetapi manifestasi Af'al atau perbuatan-Nya kammuttashil wajib,( Perbuatan Allah pasti bertemu dengan segala sesuatu yang ada. # catatan : tentang sesuatu bisa anda baca di artikel saya dalam blog ini dengan Judul syai'un sesuatu. Kembali ke pembahasan. Jadi semua alam dan isinya adalah perbuatan Allah. Firman Allah : wallahu khalaqaktm wa maa ta'malun. Artinya dan Allah lah yang adakan kalian serta perbuatan kalian dari tidak ada. Nex on dulu ya, bahas 1 ayat saja keriting nih tangan saya ha ha ha


Prespektif Sosiologi Tentang Tauhid

0 komentar

Perspektif Sosiologi Tentang Tauhid
Menurut pandangan sosiolog
menyembah kepada satu
atau beberapa sesembahan
dengan menganggapnya
sebagai Pencipta alam
semesta, merupakan
keyakinan manusia yang
paling mendasar dan kuno,
akar kenyakinan ini berasal
dari dalam diri manusia
yang paling dasar yang tidak
akan pernah mengalami
perubahan. Kecenderungan
terhadap suatu yang maha
sempurna yang dianggap
sebagai Penguasa manusia
dan alam semesta, telah
melebur dengan jiwa
manusia dan mengakar
dengan sangat kokoh.
Kecenderungan seperti ini
akan tetap langgeng selama
dunia tetap ada dan
manusia masih tetap tinggal
di dalamnya, ia tidak dapat
disamakan dengan adat
istiadat masyarakat yang
selalu saja berbeda antara
satu daerah dengan daerah
lainnya, adat dan pola
kehidupan masyarakat tidak
mengakar pada jiwa manusia
dan bukan bagian dari
eksistensinya, karena itulah
ia akan selalu mengalami
perubahan.
Sosiolog kontemporer Will
Durant mengatakan: Para
pemuka agama sama sekali
tidak menciptakan sebuah
ideologi, akan tetapi seperti
halnya seorang politikus
yang memanfaatkan
dorongan naluriah manusia
untuk memenuhi
kehendaknya, para
agamawan pun juga
demikian, mereka
memanfaatkan nurani
manusia demi tujuan-tujuan
yang hendak mereka
capai,.keyakinan beragama
bukan ciptaan kuil-kuil dan
tempat-tempat ibadah akan
tetapi fitrah manusialah
yang telah melahirkannya.
Setelah menukil ucapan
seorang Eskimo yang
mengatakan saya tidak
mengetahui perkara ini saat
ditanya siapakah yang telah
menciptakan langit dan
bumi?, Will Durant
menuliskan: Bagimana pun,
apa yang kami sebutkan ini
merupakan kasus yang jarang
terjadi, sudah menjadi fakta
bahwa keyakinan beragama
sejak dahulu telah dimiliki
mayoritas manusia, bahkan
menurut para filsuf perkara
ini termaksud salah satu inti
permasalahan sejarah dan
psikologi.
Setelah itu Will Durant
melanjutkan pembahasannya
yang panjang mengenai
faktor kelekatan keyakinan
beragama pada jiwa manusia
yang dengan bagaimana pun
ia tidak akan sirna dalam
hati nurani manusia. Pada
pembahasan berikutnya kami
akan menyebutkan sebagian
faktor yang disebutkan
olehnya.
Hasil kajian di atas
menyatakan bahwa agama
berakar dari fitrah yang
merupakan bagian dari jiwa
manusia yang posisinya tidak
dapat disamakan dengan
perkara lainnya. Untuk lebih
jelasnya, sebaiknya kita kaji
terlebih dahulu perkara yang
fitri dan sehingga kita dapat
membedakannya dengan
perkara biasa lainnya.
Perbedaan Perkara Fitri Dan
Non-Fitri
Salah satu barometer yang
dapat kita gunakan untuk
membedakan antara suatu
yang fitrah atau yang bukan
fitri ialah; bahwa segala
bentuk pemikiran dan
tindakan yang muncul dari
diri manusia dikarenakan
faktor tertentu seperti faktor
geografi, ekonomi atau
politik, merupakan perkara
biasa (bukan fitri) yang
bersumber dari kondisi
tertentu bukan dari fitrah
manusia.
Sebagai contoh, penduduk
yang tinggal di kawasan
kutub dikarenakan kondisi
geografis, mereka terpaksa
menggunakan pakaian yang
hangat dan tebal, lain
halnya dengan masyarakat
yang tinggal di kawasan
katulistiwa, mereka
diharuskan memakai pakain
yang tipis dan ringan. Apa
yang mereka lakukan ini,
merupakan tuntutan kondisi
lingkungan hidup mereka
dan sama sekali tidak ada
kaitannya dengan fitrah.
Demikian pula dengan pola
dan model berpakaian, adat
istiadat, upacara, ritual dan
lain sebagainya, muncul
dikarenakan faktor tertentu
dan sama sekali tidak
berakar dari fitrah. Karena
jika cara berpakaian dan
model upacara merupakan
perkara yang fitri, maka di
seluruh daerah ia akan
memiliki pola yang sama,
perbedaan ras dan iklim
tidak akan menjadikannya
beragam, sehingga tidak
akan ada lagi designer barat
yang merancang bermacam
model pakaian dan berbagai
jenis boneka dan masyarakat
asia pun tidak akan lagi
tergila-gila menggandrungi
mode-mode terbaru.
Sebaliknya, segala bentuk
pemikiran dan tindakan yang
muncul dari nurani manusia
dan bukan dikarenakan
faktor geografi, ekonomi dan
politik, maka pemikiran dan
tindakan seperti ini
merupakan tabiat manusia
yang disebut dengan fitrah
pada manusia- atau insting
pada binatang-.
Oleh karenanya segala
aktifitas yang dilakukan
lebah seperti mengisap
cairan bunga, membuat
sarang-sarang yang
berbentuk persegi enam,
bertelur dan menjaga anak-
anaknya, seluruhnya muncul
dari insting yang dimilikinya
dan sama sekali tidak
dipengaruri foktor-faktor luar
seperti yang disebutkan di
atas, karena kebiasaan ini
dimiliki oleh seluruh lebah
kapan pun dan di mana pun
ia berada. Hal ini merupakan
sebuah bukti bahwa
pekerjaan yang dilakukan
lebah bersumber dari insting
yang merupakan bagian dari
keberadannya, dan demikian
juga dengan aktifias yang
biasa dilakukan oleh hewan
lainnya.
Pada diri manusia juga
terdapat kecenderungan-
kecenderungan mendalam
yang keberadaannya tidak
dipengaruhi faktor-faktor luar
dan dimiliki oleh setiap
orang di mana dan kapan
pun ia berada. Sebagai
contoh, setiap individu
manusia pada usia tertentu
memiliki kecenderungan
khusus kepada
permasalahan seksual,
keindahan, kekayaan,
kedudukan, keturunan,
keadilan, serta
ketidaksenangan akan
penindasan, kekejaman dan
segala bentuk diskriminasi,
dan tanpa disadari mereka
pun terdorong untuk
melukiskan perasaan yang
dialaminya itu dalam bentuk
prilaku dan tindakan.
Dapat dikatakan bahwa
kejujuran, amanat dan
kemuliaan yang dimiliki
orang-orang pedalaman
melebihi orang-orang yang
tinggal di perkotaan, seperti
yang dikatakan Kolbes
mengenai suku Hottentot:
Mereka menganggap sumpah
yang mereka ucapkan
sebagai suatu yang sakral,
tindakan-tindakan yang
dilakukan oleh orang-orang
Eropa dengan cara khianat
dan merusak sama sekali
tidak dapat ditemukan pada
diri mereka. Sangat
disayangkan melalui media-
media informasi dan
telekomunikasi canggih
ciptaan Barat, keahlian
menipu dan berkhianat telah
diajarkan kepada masyarakat
suku Hottentot sehingga
terkikislah kejujuran yang
pernah menjadi pujaan
mereka
Dengan mengkaji contoh-
contoh di atas, dapat
disimpulkan bahwa perkara-
perkara fitri memiliki kriteria
yang berbeda dengan
perkara biasa lainnya,
diantara kriteria tersebut:
1. Setiap pemikiran dan
tindakan yang berakar dari
fitrah manusia selalu bersifat
universal dan tidak seorang
pun yang tidak memilikinya.
2. Perkara-perkara fitri
muncul berkat bimbingan
naluri manusia dan sama
sekali tidak membutuhkan
latihan dan pengajaran.
3. Segala model pemikiran
dan tindakan yang berakar
dari fitrah, kemunculannya
tidak dipengaruhi faktor-
faktor dari luar seperti faktor
geografis, ekonomi dan
politik.
4. Praktek-praktek yang
dilakukan guna meredam
dorongan fitrah, selamanya
tidak akan dapat
melenyapkannya, maksimal ia
hanya mampu membendung
pertumbuhannya.
Adapun perkara-perkara yang
bukan fitri memiliki kriteria
yang berlawanan dengan
empat kriteria di atas.
Sekarang mari kita lihat
apakah kecenderungan
beragama dan keyakinan
kepada Tuhan memiliki
kriteria-kriteria tersebut atau
tidak? Dengan sedikit
menganalisa, kita akan dapat
membuktikan bahwa
kecenderungan ini memiliki
empat kriteria diatas.
selebihnya kita akan
mengkaji poin-poin berikut
ini:
1. Dorongan Menyembah
Tuhan yang Universal
Usaha mengenal Tuhan serta
melangkah kepada suatu
yang metafisik tidak hanya
dilakukan oleh masyarakat
belahan dunia tertentu, akan
tetapi berdasarkan bukti
sejarah -yang berhasil
dikumpulkan dari berbagai
golongan masyarakat baik
yang hidup di perdalaman
maupun di perkotaan-,
menyatakan bahwa keyakinan
kepada Tuhan sebagai
Pencipta alam semesta
merupakan ideologi yang di
anut oleh berbagai kaum
dan bangsa. Penggalian dan
penyelidikan yang di lakukan
para arkeolog guna
menyingkap pola kehidupan,
budaya, model pemikiran
masyarakat terdahulu, selalu
saja terpusat pada kuil-kuil
besar, patung-patung dan
berhala-berhala yang
berhasil mereka temukan,
semua ini menjadi bukti
bahwa masyarakat saat itu
menjadikan berhalaberhala
sebagai sesembahan mereka,
atau paling tidak mereka
menganggap berhala-berhala
tersebut merupakan
penjelmaan yang indah dari
sesuatu yang mereka
sembah..
Seorang ilmuan terkenal
Mesir Farid Wajdi
menuliskan: Hasil penelitian
dan penggalian di berbagai
kawasan, menceritakan akan
keyakinan dan tradisi
masyarakat masa lalu yang
menyembah berhala, hal ini
menandakan bahwa
keyakinan akan Sang
Pencipta muncul bersamaan
dengan keberadaan manusia
Sebagian ilmuan barat
seperti Schopenhauer
memandang kecenderungan
beragama merupakan suatu
yang sangat mendasar dalam
diri menusia sehingga ia
menjadikannya sebagai batas
pemisah antara manusia dan
makhluk lainnya dan
mengatakan manusia adalah
hewan yang metafisik [15] .
Memang benar, sepanjang
sejarah manusia, tidak
pernah ditemukan satu masa
dan satu wilayah pun yang
masyarakatnya tidak
menyakini sesuatu yang
metafisik. Hal ini tidak lain
dikarenakan kecenderungan
beragama merupakan bagian
yang tidak dapat dipisahkan
dari eksistensi manusia dan
akan selalu tetap
bersamanya. John.R.Ears
rektor Universitas Kolombia
mengenai keyakinan
beragama mengatakan: Kita
tidak akan pernah
menemukan tradisi dan
budaya satu bangsa mana
pun, kecuali di dalamnya
terdapat unsur keagamaan.
Keyakinan beragama selalu
mewarnai setiap lembaran
sejarah peradaban manusia
dan akarnya terus menjulur
hingga pada kehidupan yang
tidak tercatat di dalam kitab-
kitab sejarah.
Saat ini, kecenderungan
serta keyakian beragama di
mata masyarakat modern
merupakan fenomena yang
alami, dimana pada setiap
belahan dunia memiliki
manifestasi yang berbeda.
Saat ini permukaan bumi
dipenuhi oleh kuil-kuil,
gereja-gereja, masjid-masjid
dan wihara-wihara. Suara
teriakan Allahu Akbar setiap
harinya terdengar dari
pucuk-pucuk menara masjid
dan lonceng gereja selalu
berdentang di setiap
Minggu. Seandainya kita
menaiki pesawat dan
memperhatikan permukaan
berbagai belahan benua dari
atas, maka kita akan
menyaksikan berbagai
macam arsitektur dan
bangunan yang menjadi
menafestasi dari
kecederungan beragama ini,
tidak terkecuali baik di
kawasan negeri yang terkaya
di muka bumi ini maupun
yang termiskin.
Apakah kecenderungan dan
keyakinan yang universal ini
yang dimiliki oleh seluruh
bangsa di seluruh masa,
tidak menunjukan akan
kefitrahannya?
Terlepas dari itu, setiap
individu manusia meskipun
ia tidak pernah mengenal
pandangan orang-orang
beragama maupun ucapan
orang-orang materealis,
namun disaat ia terjebak
dalam masalah yang serius,
secara tidak disadari hati
nuraninya yang mendalam
akan merasakan satu
keberadaan yang abadi dan
kuasa yang mampu
memenuhi kebutuhannya
dan mengeluarkannya dari
problema yang
menghimpitnya, dengan
sendirinya ia akan
mengingat-Nya dan
memohon pertolongan dari-
Nya.
Perasaan yang muncul tanpa
ikhtiar ini (merasakan
kehadiran Tuhan), tidak
dihasilkan dari proses
berfikir, argumen serta
filsafat ketuhanan yang
rasional dan ilmiah, dan ia
pun bukan sebuah konklusi
dari satu kajian, analisa atau
dialog, akan tetapi perasaan
ini merupakan refleksi dari
fitrah manusia yang
merupakan anugrah Ilahi.
Semenjak pertama manusia
diciptakan Dia telah
menitiskannya (fitrah) dalam
ruh dan jiwa manusia
dengan sedemikian rupa
sehingga disaat ia
mengalami kesulitan, secara
spontan ia akan merasakan
kehadiran-Nya dan tanpa
disadari ia pun akan
meminta pertolongan dari-
Nya, meskipun ia tidak
mengetahui bagaimana Dia
akan menolongnya dan
menenangkan hatinya,
namun ia akan terus
memohon kepada-Nya, mirip
seperti seorang bayi yang
mencari ibunya meskipun ia
tidak mengetahui siapa
ibunya.
2. Fitrah Mengantarkan
Seseorang Kepada Tuhannya
Sebagaimana perasaan
manusia lainnya, merasakan
kehadiran tuhan juga akan
muncul dalam diri seseorang
tanpa melalui proses belajar
dan mengkaji. Setiap
individu manusia disaat
mengijak usia tertentu,
dengan sedirinya ia akan
memiliki sederet
kecenderungan seperti
mencintai kedudukan,
jabatan, kekayaan, keindahan
dan masalah seksual, dimana
kecenderungan-
kecenderungan ini muncul
dalam diri mereka tanpa
melalui proses belajar
terlebih dahulu, demikian
pula halnya dengan
kehadiran Tuhan yang
dirasakan seseorang, ia akan
merasupi hati semua orang
di setiap lembaran hidupnya
namun ia akan lebih tampak
dan matang saat seseorang
memasuki usia baligh.
Kesadaran beragama yang
muncul secara spontan dan
tanpa proses study ini,
selain mengindikasikan akan
kefitrahannya ia pun
membuktikan bahwa pada
kondisi tertentu -
sebagaimana kenderungan
lainnya- kecenderungan ini
akan bereaksi dan bangkit
secara spontan. Namun
patut diinggat, jika
kecenderungan ini tidak
diarahkan dengan benar
maka ia dapat menimbulkan
beragam penyimpangan.
Contohnya, kecenderungan
beragama yang kita miliki,
seandainya tidak ada arahan
yang benar dari para Nabi,
Agamawan dan Filsuf
Rabbani maka ia dapat
membawa kita untuk
menyembah berhala,
malaikat, ruh-ruh dan
berbagai praktek syirik
lainnya.
Maksud ungkapan diatas -
bahwa kecenderungan
naluriah tidak butuh proses
belajar-, ialah dalam
pertumbuhan dan
kemunculannya, namun ia
tetap memerlukan seorang
pembimbing yang dapat
mengarahkannya agar
terhindar dari segala macam
penyimpangan dan
kesesatan.
Penyembahan terhadap
berhala dan segala parktek
kemusyrikan merupakan
akibat dari kecenderungan
beragama yang tidak
terarahkan, seandainya
kecenderungan ini dibarengi
dengan pikiran dan akal
yang jernih dan mendapat
bimbingan para Nabi, maka
ia tidak akan pernah
memposisikan sesuatu yang
tidak berdaya sebagai Tuhan
yang Maha Kuasa.
3. Kecenderungan Beragama
adalah Panggillan Batin
Manusia
Setelah dikaji bahwa
kecenderungan beragama
selalu ada dalam diri
manusia di setiap ruang dan
masa, maka dapat kita
katakan bahwa
kecenderungan ini
merupakan panggilan batin
yang dimotori oleh fitrah
manusia. Seandainya
kecenderungan ini dilahirkan
lantaran faktor geograsif,
ekonomi, dan politik maka ia
hanya akan muncul pada
komponen masyarakat yang
hidup di daerah atau masa
tertentu yang memiliki
kondisi geografi ekonomi dan
politik yang sama, padahal
kenyataannya tidaklah
demikian. Namun jangan
disalah fahami, kefitrahan
sebuah kecenderungan tidak
mengindikasikan bahwa ia
akan selalu berekspresi di
setiap kondisi dan selalu
menjadi idola seseorang,
justru betapa banyak
kecenderungan akan
kedudukan dan kekayaan
yang telah meneggelamkan
sejumlah sifat-sifat mulia
seseorang yang juga
merupakan fitrah manusia.
Fitrah manusia sama sakali
tidak terbatas pada
kecenderungan bergama
saja, akan tetapi selain
kecenderungan tersebut,
manusia pun memiliki
sederet kecenderungan
lainnya, saat seseorang
hanya memfokuskan
perhatian kepada satu
kecenderungan saja, maka ia
akan melupakan
kecenderungan lainnya.
Silahkan Anda perhatikan!
Mengkaji dan menganalisa
satu permasalahan,
merupakan bagian dari
tabiat dan naluri manusia.
Setiap individu secara
naluriah menyukai
pembahasan dan kajian
ilmiah di berbagai bidang.
Akan tetapi sudah
merupakan konsensus bahwa
kecenderungan batin ini
tidak akan tumbuh subur
dan bereaksi pada setiap
kondisi dan situasi.
Kecenderungan mengkaji dan
menganalisa yang dimiliki
seseorang akan berkembang
pesat dalam pusat-pusat
pendidikan dan pengkajian
serta di tengah-tengah rekan
terpelajar, namun sebaliknya
di dalam lingkungan yang
tidak kondusif
pertumbuhannya akan
lamban dan melemah, dan
jika kondisi ini terus
berlanjut maka
keberadannya pun dapat
terlupakan. Sama halnya
dengan dorongan untuk
beristeri dan menikah atau
kecenderungan akan harta
dan jabatan juga bersumber
dari fitrah manusia, namun
pada setiap kondisi kadar
pertumbuhannya tidak akan
sama, di saat kondisi yang
ada lebih mendorong
seorang untuk memenuhi
kebutuhan ekonominya, bisa
jadi kecenderungan
menikahnya akan terlupakan,
dan demikian pula
sebaliknya.
Kecenderungan beragama
pun juga demikian,
menyembah dunia serta
tenggelam dalam
kemaksiatan dan kesenangan
akan menjadikan seseorang
melupakan kecenderungan
spiritualnya, mirip seperti
seorang yang melupakan
kecenderungan seksualnya
saat ia sangat merasakan
lapar dan haus, namun
ketika ia telah memuaskan
dahaga serta laparnya dan
faktor yang membuatnya
lupa pun telah terangkat,
dengan sendirinya
kecenderungan seksualnya
pun akan kembali bereaksi.
Di antara kecenderungan-
kecenderungan spiritual dan
dorongan-dorongan hawa
nafsu manusia selalu saja
terjadi perseteruan, disaat
dorongan hawa nafsu telah
menguasai jiwa dan ruh
seseorang maka tidak ada
lagi ruang tersisa untuk
kecenderungan spiritualnya.
Musibah dan kesulitan yang
dialami manusia merupakan
ledakan yang dapat
menyadarkan seseorang dari
kehidupan materi yang
melelapkan, ia mampu
membersihkan setiap bercak
hitam yang mengotori hati
seseorang serta dapat
membentuk kondisi yang
kondusif guna pertumbuhan
fitrah dan kecenderungan
spiritual yang dimiliknya.
Oleh karenanya seorang yang
lalai, secara tidak disadari ia
akan mengingat Tuhan dan
memohon kepada-Nya saat ia
menghadapi problema dan
masalah yang serius.
Tidak dapat dipungkiri,
memang kebanyakan
manusia hanya akan
mengingat Tuhan saat jiwa
mereka terancam dan
tertekan, namun hal ini
tidak menafikan bahwa
selain mereka pun ada
sejumlah orang-orang
tertentu yang selalu
mengingat Tuhan meskipun
mereka berada dalam
kemudahan, hati-hati mereka
telah bergantung dan
memiliki ikatan dengan alam
abadi (akherat). Hal ini
sangat sulit difahami oleh
orang-orang biasa yang tidak
memiliki jiwa spiritual yang
tinggi, menurut ucapan
Albert Einstein: Saya sulit
menerangkan kondisi
spiritual yang ada dalam
jiwa seseorang kepada
pribadi yang sama sekali
tidak pernah merasakannya.
Dalam kondisi seperti ini,
seseorang dengan mudah
dapat mengetahui impian
dan cita-cita orang lain dan
merasakan kebesaran
sesuatu yang hanya tampak
di alam metafisik.
Seorang yang tenggelam
dalam kesenangan dan
melupakan Tuhannya, mirip
seperti anak kecil yang
sedang asyik bermain yang
lupa terhadap orang tuanya
yang sejak pertama selalu
mengawasinya, namun ketika
sang anak mengalami
kesulitan atau merasakan
ketakutan, secara spontan ia
akan mencari orang tuannya
dan meminta pertolongan
darinya.
Saat manusia hidup dalam
kemewahan, segala
kesibukan akan mencegahnya
untuk mengingat perkara
agama, namun jika terjadi
sesuatu yang meluluhkan
kehidupannya yang tidak
mampu dihindarinya, di
dalam jiwanya akan tarjadi
pergolakan yang akan
mengantarkannya pada satu
Penguasa mutlak yang
sempurna.
Oleh karenanya disaat
seseorang merasa akan
mengalami musibah,
bahteranya akan tenggelam
atau pesawat yang
dinaikinya akan terjatuh,
maka baik yang mukmin atau
yang atheis sekalipun secara
spontan akan mengingat
Tuhan dan memohon
pertolongan dari-Nya.
Sungguh rasa takut dan
pedih yang mencekam akan
menyingkap tabir-tabir hitam
dari nurani kita dan
membangkitkan naluri
religius kita yang sudah lama
terkubur.
4. Kecenderungan Beragama
Mustahil Dilenyapkan
Di antara kaum dan umat
tertentu selalu terdapat
orang-orang yang dengan
menjalani latihan dan
meditasi yang sulit, mereka
mampu membendung
sejumlah dorongan fitrah
yang dimilikinya. Contohnya,
para pendeta Nasrani dan
petapa India, dengan
menjalani ritual dan
pelatihan mereka mampu
mengurangi dorongan
seksual mereka sehingga
nyaris tidak memililiki gairah
ke arahnya, namun jika
orang-orang semacam ini
berada dalam kondisi dan
situasi tertentu, dorongan
seksual yang mereka miliki
pun akan kembali bangkit
dan mulai bereaksi.
Berdasarkan ini, kefitrahan
sesuatu tidak
mengharuskannya untuk
selalu bereaksi pada setiap
kondisi, namun ia akan
bereaksi jika tidak ada
penghalang yang
menghadang ruang geraknya.
Mencari dan merasakan
kehadiran Tuhan memang
merupakan naluri dan fitrah
manusia, namun bukan
berarti pertumbuhannya
tidak dapat terpengaruhi
oleh faktor luar, justru
pertumbuhan kecenderungan
semacam ini sebagaimana
kecenderungan yang lainnya-
memerlukan kondisi dan
situasi yang kondusif
sehingga dapat membantu
perkembangannya.
Tidak diragukan lagi bahwa
beragam propaganda dapat
berpengaruh melemahkan
dorongan batin seseorang,
namun walau bagaimana
pun ia tidak akan dapat
melenyapkan akarnya.
Meskipun dewasa ini orang-
orang barisan kiri (komunis)
telah menguasai sepertiga
penduduk dunia dan para
pembesar materialis dengan
berbagai sarana dan tipu
muslihat selalu berusaha
untuk melenyapkan
kecenderungan spiritual dari
hati masyarakat yang berada
dibawah jajahan mereka,
namun hingga sekarang
mereka belum mencapai
suatu yang berarti dan
belum berhasil
mengosongkan hati mereka
dari kecenderungan
tersebut.
meskipun kekuasaan
Komunis semenjak Revolusi
telah menguasai penduduk
Rusia selama lima puluh
empat tahun, namun sampai
saat ini kecenderungan
beragama dan dorongan
religius masih tetap
bersemayam dalam hati
mereka, oleh karenanya
akhir-akhir ini pemerintah
Rusia memberikan
kebebasan bersyarat kepada
umat Kristiani dan umat
Islam untuk mengadakan
ritual-ritual dan upacara-
upacara keagamaan.
Tauhid Fitri Menurut
Pandangan Ayat dan Riwayat
Rahasia besar fitrah manusia
yang baru berhasil di ungkap
para ilmuan besar dewasa
ini pada dasarnya telah
disinggung dalam al-Quran
yang diturunkan kepada
Nabi umat Islam semanjak
empat belas abad lalu,
dimana dalam sebuah ayat
Allah Swt berfirman:
Maka hadapkanlah wajahmu
kepada agama secara lurus,
fitrah Allah dimana Ia
menciptakan manusia
berdasarkan fitrah itu. Tidak
ada perubahan dalam
ciptaan Allah. Itulah agama
yang benar, tetapi kebanykan
manusia tidak
mengetahuinya (ar-Rum: 30)
Yang dimaksud dengan
agama yang lurus dalam ayat
ini -yang berdasarkannya
manusia diciptakan- adalah
agama tauhid, dengan
demikian ayat ini
menyatakan secara gamblang
bahwa segala penyelewengan
dan pengingkaran terhadap
tauhid merupakan suatu
yang bertentangan dengan
fitrah manusia dan praktek
tersebut tidak akan memiliki
basis yang kuat dalam diri
manusia.
Saat menafsirkan ayat ini
Imam Shadiq As bersabda:
mereka diciptakan
berdasarkan Tauhid [18] .
Seorang pemuda yang telah
lelah dan dibingungkan
dengan segala argumen
filsafat dan rasional datang
ke hadapan Imam Shadiq as
dan memohon kepada beliau
untuk menuntunnya
menemukan Tuhannya. Imam
Shadiq as dengan membawa
contoh yang berakar dari
ayat [19] berkehendak
membangkitkan fitrah
pemuda itu, seraya
bersabda: Apakah engkau
pernah berpergian
menyebrangi lautan dan
menaiki bahtera?
Pemuda tersebut menjawab:
Ya saya pernah
melakukannya.
Imam kembali bertanya:
Apakah perahumu pernah
mengalami kerusakan dimana
saat itu tidak ada perahu
lain yang dapat
menyelamatkanmu dan kamu
pun tidak dapat berenang?.
Pemuda menjawab: Ya wahai
putera Rasulullah sunguh
kejadian ini telah aku alami.
Imam melanjutkan: apakah
pada saat itu terlintas di
benakmu bahwa ada sesuatu
yang mampu
menyelamatkanmu dari
kematian?
Ya, jawabnya.
Imam bersabda: Sungguh
yang kamu rasakan Dialah
Tuhan yang Maha Kuasa
yang dapat
menyelamatkanmu dan
memenuhi kebutuhanmu
saat tidak ada sarana lainnya
yang mampu menolongmu.
Dalam kesempatan ini ada
baiknya kalau kita mengutip
ucapan sebagian ilmuan
besar.
John Jacque Rousseau
mengatakan: Jalan mengenal
Tuhan tidak hanya terbatas
pada metode rasional, atau
rasa ragu dan khayalan, akan
tetapi kecenderungan fitrah
merupakan jalan terbaik
untuk membuktikan masalah
ini.
Kecenderungan beragama
merupakan elemen asli yang
permanen dan merupakan
tabiat ruh manusia,
meskipun dengan diterpa
berbagai propaganda, bagian
intinya tidak akan
mengalami perubahan.
Kecenderugan fitri secara
tidak disadari muncul dari
batin seseorang yang paling
mendalam, dan ia
merupakan dimensi keempat
ruh manusia yang memiliki
indepedensi sebagaimana
tiga dimensi lainnya.
Pascal mengatakan:
Masyarakat umum tidak
dapat memahami bahwa
yang menyadari keberadaan
Tuhan adalah hati bukan akal.
Alexis Carrel mengatakan:
Dorongan religius merupakan
getaran yang muncul dari
kedalaman fitrah kita, sudah
merupakan tabiat manusia
sebagaiman ia butuh makan
dan minum, ia pun butuh
kepada Tuhan.
Pascal mengatakan: Hati
memberikan kesaksian akan
keberadaan Tuhan bukan
akal dan iman, dengan jalan
inilah Dia dapat digapai.
Will Durant mengatakan:
Keimanan merupakan perkara
yang alami dan dapat
menumbuhkan sejumlah
kecenderungan dan
dorongan yang kita miliki.
Paul Colorants Abrasively
mengatakan: Kemampuan
manusia dalam merasakan
kehadiran Sang Pencipta
yang berada di luar
pemahaman dan
kesadarnnya, merupakan
bukti yang kongkret akan
keberadaan Tuhan.
Dari sejumlah ucapan di atas
jelaslah bahwa ruh manusia
memiliki dimensi yang
disebut dengan
kecenderungan beragama,
dorongan religius atau
dorongan mencari Tuhan.dan
seluruh individu manusia -
menghendaki atau tidak-
dengan sendirinya ia akan
tergiring ke arahnya sesuai
kadar kekuatan fitrah yang
dimilikinya. Dorongan ini
tidak akan muncul kecuali
dari diri dan tabiat manusia
itu sendiri dan segala
konklusi yang dihasilkannya
sama sekali tidak berpijak
pada kaedah ilmiah,
argumentasi dan rasio
bahkan pada hukum
kausalitas -yang biasa
difahami kalangan umum-
sekalipun. Oleh karena itu
kita harus membedakan
antara Tauhid Fitri dan
Tauhid Istidlali yang
berpijak pada argumen-
argumen rasional dan ilmiah,
meskipun banyak ahli teolog
yang menyamaratakan dan
tidak membedakan kedua
macam Tauhid ini.
Motivasi Manusia Dalam
Mencari Tuhan
Apakah yang memotivasi
manusia dalam mencari
Tuhan, agama dan segala
yang metafisikal? Pertanyaan
inilah yang biasanya
dilontarkan oleh orang-orang
materialis. Para pakar
psikologi dan sosiologi
mencoba untuk menjawab
pertanyaan tersebut dengan
menyebutkan sejumlah faktor
yang ada, yang akan menjadi
obyek kajian kita saat ini.
Setelah mengkaji akan
kecenderungan beragama
secara luas, jawaban dari
pertanyaan di atas akan
terasa sangat jelas, karena
kesadaran manusia untuk
mencari dan mengkaji
permasalahan religius
semacam ini, -tidak lain-
dibangkitkan oleh dorongan
fitrahnya yang bersumber
dari batinnya yang paling
mendalam.
Pertanyaan ini mirip dengan
pertanyaan kita Mengapa
manusia memiliki
kecenderungan untuk hidup
bermasyarakat? atau Sejak
kapan manusia memiliki
kecintaan terhadap dirinya,
jabatan, kekayaan dan
lainnya?, pertanyaan-
pertanyaan ini memiliki
jawaban yang sama yaitu,
kecenderungan terhadap hal
tersebut merupakan naluri
dan fitrah manusia yang
telah menjadi bagian dari
penciptaannya. Oleh
karenanya selama manusia
tetap ada, dengan segala
macam pola, kesadaran
terhadap hal-hal seperti ini
akan selalu ada dalam
dirinya.
Selain itu, ada faktor lain
yang tidak kalah besar
pengaruhnya dalam
memotivasi manusia untuk
mencari Tuhannya, faktor
tersebut adalah rasio dan
akal dimana dengan berpikir
secara sederhana, seseorang
dapat membuktikan
keberadaan Tuhan. Contoh
kongkritnya adalah kaidah
rasional yang mengatakan
segala sesuatu tidak akan
terjadi tanpa sebab dari
kaedah sederhana ini
manusia dapat membuktikan
bahwa keberadaan dirinya,
alam semesta beserta isinya,
mengharuskan adanya
penyebab yang memiliki
pengetahuan dan kekuasaan
mutlak, Dia tidak lain adalah
Tuhan yang Maha Kuasa.
Dengan kata lain, selain
kecenderungan bergama ada
kecenderungan lain yang
mendorong manusia untuk
menemukan Tuhannnya, ia
adalah rasa ingin tahu yang
dimiliki manusia yang telah
mendorongnya untuk
mengkaji dan menganalisa
segala fenomena alam dan
kehidupan, dan yang telah
menjadikan sejumlah ilmuan
meninggalkan kehidupannya
yang mengasyikkan untuk
mengahabiskan umurnya di
dalam lab-lab dan pusat-
pusat penelitian guna
menyingkap sejumlah rahasia
alam semesta.
Seseorang biasa menyaksikan
pepohonan yang tumbang
atau tercabut akarnya
dikarenakan hembusan angin
yang kencang, disaat ia
menyaksikan hal semacam
ini berkali-kali, maka akan
muncul di benaknya sebuah
kaedah rasional yang
sederhana Bahwa
tumbangnya pepohonan
tidak akan terjadi begitu
saja tanpa sebab. Dengan
menyakini kaedah ini, ia
akan berfikir sesuatu yang
lebih luas lagi, apakah
mungkin keberadaan alam
semesta ini tidak ada
Penyebab yang Maha Kuasa -
sebagai sumber kehidupan
dan seluruh keberadaan-
yang telah menciptakan alam
ini beserta isinya?.
Benak seorang anak kecil
selalu dipenuhi oleh
berbagai soalan dan
pertanyaan, dan rasa ingin
tahunya ini tidak akan
terpuaskan kecuali setelah ia
mendapatkan jawaban dari
pertanyaan yang biasa
dilontarkan kepada kedua
orang tuanya. Dari segi
pemahaman, pemikiran dan
kecerdasan, masyarkat
primitif pun tidak kalah
dengan anak kecil zaman
sekarang yang berusia enam
tahun. Dapat dipastikan
bahwa dalam benak mereka
pun terlintas pertanyaan-
pertanyaan seputar
keberadaan dirinya dan alam
semesta, dimana pada
akhirnya mereka akan
memuaskan rasa
keingintahuannya dengan
menyakini keberadaan Sang
Pencipta.
Sepanjang sejarah perjalan
ilmu pengetahuan berbagai
teori yang keliru
bermunculan silih berganti,
jika kesalahan teori yang ada
telah terungkap, maka teori
baru pun akan segera
mencuat. Tidak ada yang
memungkiri bahwa
kecenderungan manusia
untuk mengkaji wacana-
wacana ilmiah seperti ini
baik yang keliru atau benar-
didorong oleh rasa
keingintahuan yang
dimilikinya, dan tidak ada
seorang ilmuan pun yang
mengatakan bahwa
kecenderungan ini
disebabkan faktor lain selain
pikiran dan akal manusia.
Jika bermunculannya teori-
teori ilmiah kita katakan
sebagai akibat dari rasa
keingintahuan manusia, dan
tidak menganggapnya
sebagai akibat dari kondisi
psikologis atau sosiologis,
lantas mengapa berkenaan
dengan kajian akan asal-usul
penciptaan dan awal
keberadaan, kita tidak
mengatakan seperti itu?
Orang-orang yang
mengingkari akal dan pikiran
sebagai faktor munculnya
keyakinan manusia terhadap
Tuhan, agama dan segala
yang metafisik, selalu
berusaha menafsirkan faktor
kemunculannya sesuai
dengan pandangan sebagian
sosiolog dan psikolog, dan
mengatakan bahwa
kemunculan keyakinan diatas
sama sekali bukan
dikarenakan faktor akal,
pikiran dan fitrah manusia,
akan tetapi ia merupakan
akibat dari kondisi psikologis
dan sosiologis seseorang.
Pandangan di atas sama
sekali tidak dapat
dibenarkan kecuali jika
memang yang menjadi
obyeknya adalah sejumlah
keyakinan dan pemikiran
yang tidak rasional yang
muncul akibat kondisi
psikologis atau sosiologis
penganutnya yang sama
sekali tidak berakar pada
akal dan fitrahnya.
Contohnya, kenyakinan akan
suatu yang dapat membawa
keberuntungan, hari-hari
sial, ramalan keburukan yang
disimpulkan dari hewan atau
satu kejadian dan berbagai
takhayul lainnya. Keyakinan-
keyakinan seperti ini sama
sekali tidak bersandarkan
pada akal, pikiran dan fitrah
manusia, jika para psikolog
dan sosiolog ingin mengkaji
sebuah pemikiran umat atau
masyarakat tertentu, maka
hanya ruang-ruang inilah
yang dapat dijamahnya.
Masalah-masalah ini
merupakan lahan bagi para
psikolog dan sosiolog untuk
mengutarakan gagasannya
dan menelusuri penyebab
kemunculannya, dan dengan
menganalisa dengan teliti
niscaya faktor
kemunculannya pun akan
segera terungkap.
Adapun keyakinan-keyakinan
yang sesuai dengan hati
nurani dan menyatu dengan
hakikat dan ruh manusia
yang berbasis logika dan
rasional, sama sekali tidak
ada kaitannya dengan ilmu
sosiologi dan psikologi, oleh
karena itu para pakar di
bidang ini tidak memiliki
ruang untuk mengutarakan
pandangannya.