Blog Legenda Tauhid: Sastra Sufi
Tampilkan postingan dengan label Sastra Sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra Sufi. Tampilkan semua postingan

Esensi Pantun

0 komentar

Pantun merupakan salah satu akar khazanah
perpuisian Indonesia. Meski jejak tersebut
kini sulit ditemukan pada persajakan
kekinian, seperti sajak Abdul Hadi WM,
Ahmadun Yosi Herfanda, Zawawi Imron, Soni
Farid Maulana, maupun Acep Zamzam Noor.
Namun demikian, nuansa rima yang ketat
tetap ada dan menjadi ciri perpuisian mereka
sehingga secara morfologis, sampiran dan isi
sudah tidak ada lagi sehingga yang ada
hanya isi.
Ini tentu saja melanggar pengertian pantun
seperti yang diungkap oleh Markasan dalam
Hadi dkk. yang menyatakan bahwa pantun
memiliki unsur sampiran dan isi, masing-
masing terdiri dua baris, yang satu di awal
dan yang lain di akhir. Selain itu, berpola ab
ab yang menjadi ciri khas dari pantun (2012:
73).
Dalam perkembangannya pantun dalam
kehidupan masyarakat melayu menjadi
tradisi lisan. Oleh karena itu pantun
digunakan oleh semua umur, baik anak,
remaja, maupun orang tua. Hal inilah yang
membuat pantun terbagi menjadi berbagai
jenis. Menurut Yuli, pantun anak-anak
memiliki jenis-jenis seperti, pantun
berdukacita dan pantun bersukacita. Adapun
pantun remaja atau anak muda terdiri dari
pantun perkenalan, pantun berkasih-kasihan,
dan pantun perpisahan. Sedangkan pantun
orang tua terdiri dari pantun nasihat, pantun
adat, pantun budi, pantun kepahlawanan, dan
pantun agama. Selain pembagian
berdasarkan usia tersebut, pantun juga
terbagi dalam pola, yakni pantun jenaka dan
pantun teka-teki (2013).


Setan Berubah Menjadi Malaikat

0 komentar

Kerana cinta duri menjadi mawar
kerana cinta cuka menjelma anggur segar
Kerana cinta keuntungan menjadi mahkota
penawar
Kerana cinta kemalangan menjelma
keberuntungan
Kerana cinta rumah penjara tampak bagaikan
kedai mawar
Kerana cinta tompokan debu kelihatan seperti
taman
Kerana cinta api yang berkobar-kobar
Jadi cahaya yang menyenangkan
Kerana cinta syaitan berubah menjadi bidadari
Kerana cinta batu yang keras
menjadi lembut bagaikan mentega
Kerana cinta duka menjadi riang gembira
Kerana cinta hantu berubah menjadi malaikat
Kerana cinta singa tak menakutkan seperti tikus
Kerana cinta sakit jadi sihat
Kerana cinta amarah berubah
menjadi keramah-ramahan


Gelombang Cinta

0 komentar

Cinta adalah lautan tak bertepi
langit hanyalah serpihan buih belaka.
Ketahuilah langit berputar karena gelombang Cinta
Andai tak ada Cinta, Dunia akan membeku.
Bila bukan karena Cinta,
Bagaimana sesuatu yang organik berubah menjadi
tumbuhan?
Bagaimana tumbuhan akan mengorbankan diri
demi memperoleh ruh (hewani)?
Bagaimana ruh (hewani) akan mengorbankan diri
demi nafas (Ruh) yang menghamili Maryam?
Semua itu akan menjadi beku dan kaku bagai
salju
Tidak dapat terbang serta mencari padang ilalang
bagai belalang.
Setiap atom jatuh cinta pada Yang Maha
Sempurna
Dan naik ke atas laksana tunas.
Cita-cita mereka yang tak terdengar,
sesungguhnya, adalah lagu pujian Keagungan
pada Tuhan.


Dosa pencinta

0 komentar

Pembual tak bernama, tak berumah
Adalah aku legenda cinta itu
Hari-hari hidupku gembira

Malam hari sedih bukan kepalang
Dan di ranjang batu aku telentang

Tiada laron kenal hangus macam aku
Tiada orang gila diremuk kejemuan macam aku

Semut-semut punya sarang buat bernaung
Ular-ular punya ilalang
Tapi atap tiada bagi

Bumi keras adalah bantalku
Udara adalah selimutku
Satu - satunya dosaku adalah jadi pencinta
Adakah semua pencinta-Mu
Merasakan duri seperti yang telah aku rasakan ??


Tangan Ilahi

0 komentar

Bukan ini atau itu yang membuatku takut
Dalam semua tangan kusaksaksikan Ilahi
Hatiku remuk sudah, otakku butaterbalut
Tak kupunya lagi tenaga iman  dan pikiran.
Kungkungan kuat yang kudengar dari-Mu
Lebih manis bagiku dibanding hidup
Ialah yang kupilih hanya
Pernahkah kutolak cinta-Mu
padaku ?
Ampuni aku, kumohon
Jika ingin - Mu membunuhku
Jangan biarkan tangan - Mu yang menyilau perak
Yang pernah menggenggamku erat-erat, mengoyakku
Tiada berhala lain yang kupuja selain cinta, hiburan dan kebiasaan lamaku
Karena aku mati oleh derita-Mu
Jangan sesali aku yang tak berdaya ini.


Andrias bukaleng orang Iriani

0 komentar

Andrias Bukaleng di dalam makkah
Mencari Allah Baitil Ka'bah
Dari Duma ke Gresik terlalu payah
Akhirnya dijumpa di dalam rumah

Andrias bukaleng miskin orang Iriani
Seperti Ismail menjadi qurbani
Bukannya Ajami lagi Arobi
Senantiasa washil dengan yang baqi

Andrias bukaleng asalnya iriani
Mendapat wujud di tanah jawi
Beroleh irfan ilmu nan sejati
Dari muwahid lagi Sufi

Rahasia Ilahi tak di ketahui
Sulit dijangkau serta mimpi
Apalagi dengan relasi duniawi

Gali dan dekati walau disabili
Tak perlu takut pada
provokasi
Adat duniawi selalu disalahi.

Andrias bukaleng terlalu hapus
Bagai kayu sekalian hangus
Asalnya laut tiada berarus
Menjadi kapur di dalam barus

Wahai segala kamu anak alim
Jangan bersahabat dengan yang dzolim
Menghalangkan kita sekalian qodim

Jalan-jalan ke kotabaru
Tak lupa ke siring laut
Wajib insan mengenal diri
Sifat Allah pada Adami

Andrias bukaleng terlalu karam
Di dalam laut yang maha dalam
Berhenti angin ombak pun padam
Menjelma Sultan kedua alam




PADAMU JUA

0 komentar

Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malap gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu

Satu kekasihku
Aku Manusia
Rindu rasa
Rindu rupa

Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati

Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai

Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu - bukan giliranku
Mati hari - bukan kawanku ...

Oleh : Andrias Bukaleng Legenda Mualaf


Doa

0 komentar

Amir Hamzah

Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekashku ?
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik, setelah menghalaukan panas payah terik.

Angin malam mengembus lemah, menyejuk badan melampung rasa menayang pikir, membawa angan kebawah kursimu.

Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya.

Qolbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap malam menyirak kelopak.

Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi badanku dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu !


Berdiri Aku

0 komentar

Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang

Angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun alun di atas alas

Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
Dimabuk warna berarak-arak

Dalam rupa maha sempurna
Rindu sendu mengharu qolbu
Ingin datang merasa sentosa
Mencecap hidup bertentu tuju

GOR - Kotabaru 16-11-2014


Mi'roj Ke Arsy Allah

0 komentar

Ahlut Tauhid mi'roj ke Arsy Allah dalam sekejap
Petapa memerlukan waktu sebulan untuk satu hari perjalanan

Bagi petapa sehari adalah besar nilainya, namun bagaimana sehari perjalanan bisa sama dengan lima ribu tahun ?

Dalam hidup Muwahid setiap hari adalah lima ribu tahun di dunia ini.

Mahabat dan isyiq pun adalah sifat Allah
Takut adalah sifat hamba debu dan ruh halus.

Cinta punya 5000 sayap dan setiap sayap mencapai bumi melalui keluasan semesta

Petapa yang pemalu lari dengan kaki
Pecinta Allah terbang cepat melebihi cahaya.

Semoga rahmat Allah membe
baskan kau dari pejalan sesat ini ! Tak seorang kecuali elang raja menemukan jalan menuju Sang Raja


Yang Mutlak

0 komentar

Kami dan keberadaan kami bukanlah wuju: Kaulah yang mutlak menampak dalam pakaian kefanaan.

Yang mengerakkan kami adalah rohmat-Mu: seluruh wujud kami adalah ciptaanNya.

Telah Kau tunjukkan keindahan wujud kepada yang bukan wujud, setelah kau bikin yang bukan wujud jatuh cinta pada-Mu

Jangan jauhkan nikmat kemurahan-Mu: jangan jauhkan pencuci mulut, anggur dan cawan

Namun jika dijauhkan, siapa menanyakan Kau ? Adakah lukisan tercapai dari pelukisnya ?

Jangan kami yang dilihat pandanglah pesona cintaMu sendiri dan kasih sayangMu !

Kami bukan itu: kami tak memerlukannya. Namun kemurahanMu mendengar doa diam kamu dan memangil kami menuju keberadaan.

Di majlis Tuhan semua yang tak berdaya seperti kain sulaman di depan jarum

Dia bikin gambar setan, lalu Adam: Dia beri kegembiraan,lalu kesedihan.

Tak seorang dapat mengangkat tangan membela diri; tak seorang berani mengucapkan sepatah katapun mengenai dan untungnya.


Esrefoglu

0 komentar

Sajak 1

Memberi dunia tanpa meng
harap imbalan adalah cinta
Menghidangkan madu di ta-
nganmu untuk orang lain dan
racun dimakan sendiri adalah
cinta

Wabah jauh dari langit seper-
ti hujan lebat
Menegakkan kepala meng-
hadapinya adalah cinta

Alam semesta ini adalah lau-
tan api membara
Mengkaram diri ke dalam-
nya adalah cinta
Andrias bukaleng legenda mualaf, kenalilah-
hakikat ini
Menjadikan tubuh fana adalah cinta


Dzikir

0 komentar

Ibnu Atha

Dzikir bermacam-macam,
diliputi cinta dan rindu dendam melahirkan ingatan

Karenena nafsu tercampur olehnya
Nafsu menjadi lemah dan terkendali
Jiwa terpengaruh, derita enyah

Nafsu baik tersebar olehnya, sebab sadar atau tidak,dzikir dapat menggulung hawa nafsu dan dapat mencereikannya
Serta menghapuskannya, kemudian memulihkan kekuatan penglihatan dan pikiran sehingga meninggi sebagai mahkota atas kepala
Dzikir adalah jalan mengenal Dia, Melalui kerlingan mata
Dzikir menanamkan keyakinan dalam qolbu
Hingga dpt  menyaksikan Dia
Memisahkan tirai antara kita dengan-Nya


Asketisme dan Ahli Makrifat

0 komentar

Ahli makrifat adalah jiwa agama dan kesholehan
Makrifat adalah hasil zuhudnya di masa lalu

Zuhud adalah menanam benih
Makrifat adalah pertumbuhan dan panennya.

Ahli makrifat diwajibkan berbuat dan menjadi kebenaran itu sendiri
Penyingkap rahasia ataupun yang memperoleh rahasia

Dia adalah raja kita hari ini dan esok:  kulit luar adalah seorang hamba semata-mata terhadap isi.


Kesadaran Kosmik

0 komentar

Anggur dalam ragi adalah pengemis yang memohon ragi kepada kita: Langit yang berputar adalah pengemis yang meminta kesadaran kita.

Anggur mabuk oleh kita, bukan kita yang mabuk olehnya; tubuh maujud karena kita, bukan sebaliknya

Kita adalah lebah, dan tubuh adalah sarang madunya: kita cipta tubuh sel demi sel, seperti lilin.


Antara Dua Dunia

0 komentar

Haci Bayram Veli

Antara dua dunia Tuhanku membangun sebuah kota
Di tiap perkembangan kehadiran-Nya terasa

Sampai di sana, kulihat lantai pualamnya terbentang
Aku juga, dari batu dan tanah
yang sama dicipta

Murid-murid memecahkan batu  yang akan ia kukuhkan
Di setiap kepingan batu nama-Nya tertulis

Panah yang di lepas dari tembok ini akan melayang jauh
Orang bijak memborong kata-kata mereka di kedai ini

Inilah kota hati, tiada kejinakan atau kebuasan
Suluruh jalannya bersimbah dara orang suci

Si pandai tahu, kekeliruan harus dienyahkan
Atas menara masjid Bayram berseru, terpujilah Tuhan


Lurus

0 komentar

Lurus mengacu ke depan hati seorang insan
Bagai timbunan salju mendatarkan gunung-gunung

Seperti hening malam mengenyahkan hiruk pikuk siang
Sejuk bagai irama air sebuah pancuran

Tak akan seseorang menjadi sesat jalan
Jika di hatinya bersemayam sebuah ucapan:

Hanya pada Tuhan kuletakkan kepercayaan
Dialah cuma yang bisa menunjukkan jalan


Karam

0 komentar

Mataku membanjir rinduku kehendaknya
Hatiku membakar di api nafsunya
Dalam semua aku hapus
Dalam banjir karam dalam api hangus


Tarian Jiwa

0 komentar

Jiwa pencinta riang menari
Waktu angin mengembus rampak mawarmu

Tak pernah hatimu mencair, beku selamanya bagiku
Dan batu hatiku berat dam karam
Dalam danaumu yang teramat tenang

Hidup adalah sajian kecil
Yang lain mudah parah padamu
Mereka tak butuh seni pelukis
Buat menghiasi dindinya:
Kau sendirilah yang membuatnya ajaib mempesona

Sakit akan lebih baik, begitupun mati
Di kakimu daripada hidup tanpa kau
Berziarah ke makam cinta yang keramat

Apa pedulimu, di bawah langit luas kerontang
Betapa duri ketiadaan dapat melukaimu


Kawanku

0 komentar

Jami

Kawanku seharusnya bagai cermin cemerlang
Memantukan cermin kelemahanku dari depan

Tiada rasa dipendam jauh di dalam
Bukan seperti sisir bergigi ratusan
Menyelip, menyikat kesana kemari

Menyikap, menyatakan kelemahanku dari belakan
Seraya berlindung mencemoohku seorang demi seorang.