Memahami kehidupan | Blog Legenda Tauhid

Memahami kehidupan


13.38 |

Mungkin
diri yang
terlalu dini
dalam
memahami
berbagai
makna
hidup
dalam
lingkaran
hukum
alam sebagai landasan dalam perjalanan
menggapi titik kebenaran, akan tetapi sebagai
awal dari sebuah renungan tiadalah salah jika diri
ini mencoba mengalir dalam bait-bait hakikat
untuk menyelaraskan perjalanan syariat.
::: Hidup adalah suatu keindahan yang harus
diterima dengan keindahan maka perjalanan
sesuatu yg indah akan selalu indah
::: Hidup adalah sebuah anugerah yang harus
tersadarkan pada makna dari anugerah itu sendiri
sehingga apapun rotasi dalam hidup senantiasa
menemukan titik ridho dalam makna jiwa.
::: Hidup adalah sendagurau yang harus dijalani
dalam ruang jiwa yang membiaskan energi
kemerdekaan dalam keterikatan dengan segala
sendi tatanan dan struktur sosial hidup hingga
bermuara pada kebahagiaan dan syukur yang
hakiki.
::: Hidup haruslah paham akan muara hidup
sehingga sadar jika hidup hanyalah untuk Tuhan
semata.
Didalam keindahan hidup, akan mekar kuntum
anugerah yg cemerlang dengan bias energi
kedamaian sehinga senda gurau dapat dilakoni
dalam tatanan kesadaran lalu memahami akan
tujuan dan muara hidup.
Tuhan adalah Muara hidup, Ia sandingkan
keindahan pada tatanan kehidupan agar kita
dapat bersenda gurau dalam menikmati hidup
sebagai makna anugerah, namun kadang kita
tidak menyadari dan keliru untuk melakoni hidup.
Bahkan kadang kita sering salah dalam ber-
Tuhan namun kita tidak sadar akan kesalahan
tersebut. Kita hanya mampu memandang, namun
tak melihat secara utuh pada setiap falsafah
hidup yang kita lalui, kita hanya bisa bicara
namun tak mampu membahasakan dengan
sempurna akan makna terdalam yang mengalir di
balik jiwa.
Yang kita lakoni hanyalah sebatas syukur dibalik
ketidak sempurnaan lakon syukur yang kita
persembahkan. Kadang aku mendengar mereka
bicara tentang berbagai falsafah hidup, ada yang
memahami karena mereka mengalami, ada yang
sebatas mendengar karena baru melangkah ke
gerbang pemahaman, namun ada yang begitu
banyak bicara walau tak menyadari jika
sesungguhnya Ia belum memahami sedikitpun
falsafah hidup yang sesungguhnya. Falsafah
hidup bertajuk syukur adalah sebuah
implementasi hidup yang melibatkan Tuhan dalam
setiap irama hidup secara total dan mutlak
adanya, sehingga hidup adalah hidup yang
seirama dengan anugerah keilahian yang
senantiasa mengalir setiap saat lalu mengarah
pada kesempurnaan esensi hidup dalam rasa
yang tak terdefinisikan maknanya.
Kita akan membaca segala kehendak Tuhan yang
mengalir dari balik jiwa kita, lalu kitapun menjadi
penonton akan berbagai lakon hidup kita dalam
menjalani kehendak Tuhan, lakon itu begitu nyata
dan kita pahami dengan kesadaran hati yang
sempurna, kita merasa begitu bahagia
menjalaninya. Kadang jika ada ketidak
sempurnaan lakon itu maka Tuhan menghadirkan
lakon-lakon yang dibawa oleh orang lain untuk
melengkapinya dan kita berada pada posisi
manajerial akan lakon tersebut karena kita
memahaminya, dan akhirnya kita membuktikan
dengan nyata akan segala kesempurnaan firman
Tuhan. (maka nikmat Tuhan mu yang manakah
yang kamu dustakan?)
Dan ini sangatlah berbeda jika kita tidak sampai
pada pemahaman yang sempurna, kita hanya
berada pada elemen terendah dalam falsafah
hidup, namun kita merasa sudah sempurna dalam
memahami ; memahami tentang hidup dalam
syukur padahal sesunggunya tidak demikian.
Syukur yang terpatri masihlah bersifat egosentris,
dimana ketika jiwa memancarkan ego sebatas
menerima hal-hal yang dipandang baik dan
enggan menerima hal-hal yang kurang baik.
Untaian syukur dilakukan sepenuh hati namun
sebatas pada lantunan dan ucapan syukur dalam
rangkaian kalimat do’a tulus. Dan tidak pada
taraf kesadaran akan lakon diri dalam makna
syukur.
Ketika diperhadapkan pada sebuah fenomena
hidup, ego kembali muncul dalam merangkai do’a
untuk menepis apa yang ada agar secepat
mungkin berlalu, disinilah jiwa kehilangan
kesempatan dalam membaca dan melakoni
dengan sempurna akan makna hidup. Dan semua
ini terjadi lantaran kita salah dalam memahami
kehendak Tuhan, kita keliru mengerti makna
hidup, bahkan kita cenderung SALAH DALAM
BER-TUHAN.
Kita menempatkan Tuhan sebagai sosok yang
lebih untuk di takuti dari pada untuk dicintai,
akhirnya segala evolusi hidup kita sebatas pada
takut akan kekejaman Tuhan dengan berbagai
siksaan. Kita takut pada Tuhan lalu kita pun
terjebak untuk membayar ketakutan kita dengan
nilai ibadah yang mengandung konsekwensi pada
kenikmatan syurga dan beranggapan Tuhan telah
menerima kita.
Pada tatanan ini kita merasa paham tentang
“apa itu Tuhan?” Yang maha pengasihkah..?
padahal itu baru sebatas sifat-sifat Tuhan. Yang
maha Memelihara.? Padahal itu baru sebatas
perbuatan Tuhan. Lantas apakah itu Tuhan.?,
yang dimanapun wajah dihadapkan disitu terlihat


Lebih Menarik Lagi:


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar