Blog Legenda Tauhid: Mutiara lokal
Tampilkan postingan dengan label Mutiara lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara lokal. Tampilkan semua postingan

Apakah Pancasila itu Agama?

0 komentar

Apakah Pancasila itu Agama?

Pancasila bukanlah agama apalagi keimanan,namun pancasila payung terbaik yang memayungi semua agama dan etnis sangat beraneka ragam.

Karena Indonesia bukanlah negara agama tertentu maka jalan terbaiknya adalah pancasila, dimana pancasila itu di ambil dari saripati keberagaman agama yang ada di Indonesia.

So sudah pasti semua Manusia Indonesia terpayungi. Bagi Anda yang meragukan pancasila berarti Anda miskin akal dan miskin agama.Segera lah mencari,mendekati dan senantiasa berhubungan dengan Allah,Tuhan pemilik semua agama..!


MIMPI SI ANAK BAJAU

0 komentar


by Big Buddy

Gersang, kumuh, bau menyeruak seperti anyir, rumah bersusun sangat rapat, sehingga kalau dibuka jendela rumahku langsung tubrukan dengan jendela kamar tetangga. Bahkan, malaikat pun pasti tersesat kalau jalan-jalan di kampungku. Bagi yang baru ke kampungku di desa Rampa Lama Kabupaten Kotabaru mungkin tidak akan betah.
“Ditabung separuhnya…!” Ibuku mengingatkan setiap pagi-pagi sebelum ke sekolah.
“Bagaimana mau menabung, sarapan tidak, uang jajan cuma seribu. Ah…!” gumamku.
“Di sekolahku itu seperti milik orang tua kami, terserah mau datang jam berapa, jam 7, 8, 9, 10 bahkan tak datang ke sekolah juga tak apa-apa.” Pikiranku semakin kusut melihat kondisi pendidikan yang katanya tambah maju ini hingga para pemimpin kami mendapatkan penghargaan yang aku pun tak tahu itu ditujukan untuk siapa.
Guru-guruku pasti aktif atau bisa dikatakan sok aktif apabila ada oknum tertentu atau ada pihak dari Dinas Pendidikan yang melakukan pengawasan setiap setengah semester. Tak boleh inilah, itulah. Kamuflase! kami selalu dijadikan sapi perah untuk mengangkat nama dan jabatan mereka. Tapi hari ini sedikit berbeda, karena Bapak-bapak dari DIKNAS akan membagi-bagikan uang beasiswa. Mereka menjanjikan jaminan buku gratis, tas, sepatu, baju, pokoknya yang bersangkutan dengan sekolah akan digratiskan untuk dua orang di setiap sekolah.
“ Benarkah bantuan itu mengalir pada yang membutuhkan?” gumamku lagi.
Hatiku terhenyak, diam, tak dapat bicara. Di sini mencapai kelas tiga SD saja sudah membanggakan, karena bagi orang tua kami tak penting sekolah, yang lebih penting bisa membaca, bisa menulis.
Tubuhku terasa terbakar. Aku harus mendapatkan beasiswa itu.  Walaupun para “sesengot” itu menyuruhku mengambil koin di dasar Selat Makasar ini, aku akan melakukan. Apapun yang terjadi. Aku tak boleh menyamakan nasibku dengan kedua orang tuaku. Mereka boleh menjadi nelayan tradisional yang bermodalkan punggawa dan rimpa. Hanya berpegang dengan cuaca, iklim dan percaya dengan hitungan bulan dan bintang. Tapi aku tidak. Aku harus mengubah semua itu. Tak ada lagi ramalan. Aku akan menjadi nelayan professional.
“Bon..Bon..Bone…!” teriak ibuku.
Tak terasa sama sekali kakiku sudah menginjak susunan kayu lapuk rumah.
“Ya, Mak… !” sahutku.
“Susul Bapakmu di gudang Abbas! Bantu dia menaikkan drum dan rimpanya!” kata ibuku dengan lantang.
“Tapi Bone belum makan, Mak…!” Jawabku
“Tidak ada makanan, kau minta saja di gudang, pasti ada kue-kue bekas kawan Bapakmu. Cepat berangkat, nanti kau dibanting Bapakmu lagi kalau lambat.!” Jelas Ibuku
Lagi-lagi aku terhenyak. Diam. Kejadian lima hari yang lalu masih terekam kuat di benakku. Bapak membanting tubuhku ke laut dengan sekuat tenaganya. Tubuhku bergetar hebat. Bukan tidak bisa berenang, tapi kemarahan Bapak yang membuat degup jantungku terdengar oleh seluruh ikan di laut, hanya karena terlambat mengantar makanan dari ibu. Kawan-kawan Bapak puas mentertawakanku, tubuh kecilku ingin sekali membungkus mereka dengan jala dan melemparinya dengan Ikan Tongkol, enak saja mereka cekikikan tertawa tanpa merasakan luka hatiku.
Aku langsung meluncur ke gudang, berlari tanpa menggunakan alas apapun. Terik matahari memanaskan urukan batu kerikil tajam yang belum sempurna menambah pijatan gratis di kakiku. Kalau  musim kemarau, mungkin aku akan mereguk cucuran keringat di tubuhku. Setibanya di gudang aku langsung menghampiri Bapakku dan membantunya menaikkan drum dan rimpa. Bapak tak melepaskan lototan matanya kepadaku, terus mengawasi. Aku tak berani menoleh kepadanya. Bulu kudukku akan berdiri jika melihat kilatan cahaya matahari yang dipantulkan oleh kulit legamnya. Matanya merah saga  karena tak pernah tidur malam dan selalu berkubang dengan air laut.
“Kau belum makan..?” kata bapakku yang langsung membuyarkan lamunan. Tak tahu mengapa. Seperti mimpi saja, tak pernah kalimat itu kudengar dalam hidup. “Belum Pak…!” Jawabku penuh ragu.
“ Kau ambil kue di kapal, makan, terus bantu aku lagi..!” perintah Bapak.
Aku langsung sergap berdiri mengambil kue yang diperintahkannya, kulahap tanpa jeda, karena cacing perutku belum makan dari tadi pagi. Bapak tak seperti biasanya, hari ini dia penuh perhatian, walau tampangnya sangar tapi aku tahu dan yakin kalau ia mempunyai hati yang lembut. Aku merasa ada yang tak beres. Tapi, Bapakku memperlihatkan gigi kuningnya yang bertumpuk-tumpuk. Aku langsung refleks membalasnya. Kalau  tidak, pasti ia akan menguras kue yang telah aku makan dan mengembalikannya kebentuk semula, karena dianggap anak yang tak patuh.
Aku  membantu bapak memperbaiki rimpanya yang kusut. Entah kenapa mulutku ingin menceritakan kejadian penting yang terjadi di sekolahku tadi pagi.
“Pak,. di sekolah Bone akan mengikuti tes beasiswa,..” kataku pelan. Bapak melirik tanpa respon apa-apa. Bulu kudukku mulai bergerak.
“Jatah setiap sekolah hanya dua orang Pak. Doakan  Bone supaya dapat beasiswa..!” pintaku.
“Hemm…!” Desis Bapakku seperti baru melumat ubur-ubur secara hidup-hidup. Aku  terus saja melanjutkan ocehanku, tak peduli  orang menganggapku gila, pemimpi tengil. Aku  seolah bicara sendiri, sehingga lagi-lagi ditertawakan. Aku  manganggap biasa, karena Bapakku tak meresponi seluruh kata-kataku. Bapak memegang kepalaku dan menyandarkan di bahunya. Damai, hangat, aku seperti anak yang baru menemukan orang tuaku karena bertahun-tahun dibuang ke laut.
“Mengapa kau tidak ikut Bapakmu ini mencari ubur-ubur? Ini  sudah musimnya! Kita  cari uang sama-sama, tinggalkan sekolahmu dan kita cari ubur-ubur bersama,”lanjut bapakku.
“Tidak..... tidak mungkin Pak, Bone ingin dapatkan beasiswa itu,” teriakku
“Percuma Bon…!” lanjut bapakku.
“Aku benci bapak! Bapak sama saja dengan Mama! Tak pernah mau tau impianku selama ini!” jelasku.
“ Impian yang bagaimana?” tanya bapak.
“ Aku ingin jadi nelayan yang sukses! Tentunya dengan sekolah, bukan hanya mengandalkan otot Pak!” kataku.
“ Tapi untuk orang seperti kita, percuma sekolah Bon!” sahut bapak.
Aku langsung melepaskan pelukan bapak dan lari meninggalkan gudang. Aku berteriak. Tak tahu mengapa.
“Mengapa tak ada yang mengerti perasaanku? Mereka hanya mementingkan dirinya sendiri. Kapan kampungku mau berubah kalau semua beranggapan sekolah itu percuma?” Gumamku.
Aku berlari. Berteriak. Namun teriakanku mengundang amarah seorang warga. Aku dibentaknya. Aku terdiam. Gugup. Ocehannya panjang sekali. Ingin sekali wajah orang tua ini kucelupkan ke laut. Kualat. Aku pulang.
Aku menyelinap masuk. Terdengar tangisan Ibuku. Aku tak tahu mengapa. Perasaan ingin tahu keadaan Ibu menyelimuti. Tapi langsung tertutupi oleh rasa gatal yang teramat sangat di tubuh karena aku belum membersihkan diri. Aku mengendap-ngendap agar tak memancing kemarahan ibu. Mandi.
Aku lahap seluruh buku yang ada di rumah untuk menghadapi tes beasiswa besok. Aku tak boleh mengecewakan kedua orang tua walau setiap hari kusantap juga ocehannya.
“Sial..! mati lampu!” gerutuku.
Di tengah kobaran semangat, mengapa PLN selalu mematikan listrik dua hari sekali di perkampungan ini. Apakah mereka menganggap dengan matinya listrik mati juga semangatku? Tidak akan. Aku belajar sampai terlelap, sambil membayangkan jadi orang sukses di kampung. Di dalam tidur, aku bermimpi bertemu dengan bapak lagi. Dia senyum. Sangat lama. Entah mengapa hatiku gusar. Dan ia lagi-lagi berkata,
“Pecuma Bon…!”
Aku ingin menggapai dan memberontak bapak karna dia tak pernah mengerti perasaanku. Namun lenyap di tengah kabut tebal. Aku mencarinya tapi percuma. Aku terbangun dari tidur. Ternyata masih jam 4 subuh. Aku langsung mandi dan belajar tapi terus diliputi perasaan aneh yang aku tak tahu perasaan apa ini.

“Mak.. Bone minta doa restunya, Bone hari ini ikut tes beasiswa, kemarin Bone sudah minta restu dari Bapak..!”Kataku, sambil mencium tangan Ibu, dan ia meneteskan air mata di kepalaku.
“Aku tahu. Kata-kata itu pasti sudah meluluhlantakkan batin Mama dan ia pasti bangga punya anak sepertiku. He he he…” cekikikanku. Karena ketawa sendiri kepalaku dipukul dengan telapak tangannya.
“He… maaf  Mak… pokoknya doakan Bone ya…!”
Tegasku lagi
“Percuma Bon…!”Lagi-lagi kata itu yang kudengar. “Buyutmu, Kakekmu, Bapakmu, semuanya nelayan, jadi untuk apa kau sekolah tinggi-tinggi, hanya buang uang dan waktu saja. Kau terlahir di laut, makan dari laut, belajar pun di laut, laut adalah jiwa suku kita Nak, Suku Bajau.” Jelas Ibuku
“ Tapi kan Bone masih kecil Mak! Masih banyak waktu! Bone punya hak belajar! Bone harus jadi orang sukses. Titik!” Jelasku.
“ Berani sekali kau membentak Mamamu!” Teriak ibu. Aku terkejut.
Aku berlari dengan sekuat tenaga ke sekolah. Meninggalkan ibu. Aku tak berani menjawab apa yang dilontarkannya. Pasti nanti tangan ibu yang seperti centong mendarat di pipiku yang mulus.
Matahari mulai meninggi.hanya beberapa anak yang datang. Aku lelah belajar, dan diajak teman-teman main bola. Kugantung tas di pagar sekolah. Sangat lama aku bermain. Tak terasa, bajuku basah dan kuning oleh peluh. tapi gugu-guru belum ada yang datang. Aku meneruskan permainan. Bola terus menggelinding. Posisi bola di kaki temanku, Anan. Dia menendang bola sekuat tenaganya hingga mengenai tasku dan menghamburkan seluruh isinya ke laut. Aku pun berteriak.
“Kerongo.. bangsat kam ni..e..” bentakku ke Anan.
Anan hanya menunjukkan rentetan pagar hitam yang terjejer di gusinya. Dadaku  terbakar emosi, aku menyerangnya tanpa ampun. Ronde pertama aku yang menguasai pergulatan, entah mengapa aku merasa sangat kelelahan sehingga banyak peluang yang didapatkan Anan. Kami bergulat sampai akhirnya aku terlempar ke laut. Anan sangat puas melihatku.
“ Andai saja aku pegulat internasional, akan kubantai Anan itu sampai muncrat darah di matanya, karena lelah menangis minta ampun kepadaku, Ho ho ho, tapi itu mustahil badannya kan lebih besar daripada badanku!” gerutuku.
Saat aku masih mengapung di laut, bapak-bapak dari DIKNAS datang. Mereka langsung ambil posisi di kelas kami.
“Sial. Apa mereka tidak kasihan denganku? Melirik sedikit pun tidak. Lihat saja kalau aku sudah jadi orang sukses. Akan kutaklukkan para ‘sesengot’ itu.” gumamku lagi.
Di tengah lamunanku, ternyata Si Tengil Anan itu membantuku untuk naik ke atas. Aku masih sangat kesal. Tapi melihat kegigihannya membantu naik ke atas aku jadi terharu. Bajunya juga basah.
“Anan…Anan…walaupun kau menjengkelkan, tapi kau tetap sahabat terbaik.” Gumamku. Aku naik ke atas dengan basah kuyub.
Para peserta antri satu per satu untuk melakukan registrasi. Anak-anak yang lainnya lolos. Tinggal aku dan Anan. Ternyata kehadiran kami ditolak, karena kami kotor dan tidak mempunyai perlengkapan yang wajib dibawa. Aku pun bingung bukan kepalang. Aku memohon-mohon kepada panitia dan guru-guru yang ada di sana namun mustahil, kami disuruh pulang. Aku tak tega melihat perjuangan Anan, sebenarnya dia masih diberi kesempatan untuk mengikuti, tapi ia bersikeras.
“ Kalau Bone tak masuk, aku juga.!” Tegas Anan
Aku merasa sangat malu dengan Anan. Aku terus memaksanya untuk ikut tapi ia tetap tidak mau.
“ Kenapa kau tadi menolongku…?” tanyaku ke Anan,
“ aku tidak tahu,” sahut Anan dengan tololnya,
“ Maaf ya, gara-gara aku, kau jadi tidak ikut tes beasiswa juga.” Kataku
“ Oh….” Jawab Anan
“ Ya Tuhan…. Kenapa aku punya teman sebodoh kamu..!” teriakku
Teriakkanku tak diresponi apa-apa oleh Anan. Sudahlah. Mungkin ini memang takdirku. Menghadapi sahabat sepolos ini. Aku pulang bersama Anan. Harapan kami telah musnah bersama gelombang.
“Sebenarnya aku ingin sekali membakar sekolahku itu.” Kataku ke Anan.
“ Nanti malam saja kita bakar, supaya tidak ketahuan.” Jawab Anan polos.
“ Ya Tuhan............!” keluhku.
Karena  ada Anan hatiku sedikit terhibur. Bercanda. Namun. Hatiku tersusupi badai hitam yang langsung melemahkan kakiku.
“Ada apa ini?” tanyaku.
Aku sampai ke rumah. Ibu dan bapak menyambutku,
“Gimana Bon...?” Tanya mama dengan tatapan sinis,
“Gagal Mak...!” sahutku
Mereka langsung tertawa terpingkal-pingkal. Aku benci melihat tingkah laku mereka, bukannya menghiburku, malah puas mentertawakanku.
“Kan sudah aku bilang.. lebih baik kau ikut aku sore ini mencari ubur-ubur...!” jelas bapak.
“Tidak Pak.. Bone besok sekolah dan seterusnya akan sekolah..!” jelasku
“Liat...! liat anakmu yang badung ini..! diberi tahu malah melawan.” Bentak mama kepada bapak.
“Bone tidak melawan. Bone Cuma ingin sekolah. Bone harus punya ilmu. Kapan kita mau maju kalau Bone harus berhenti sekolah..!” kataku.
“Kau ini anak siapa ? kenapa nakal sekali, aku sudah memutuskan kau harus ikut aku ke laut. Berhenti sekolah...!” bentak bapak.
Aku sangat terkejut. Urat-urat leher bapak keluar semua. Aku mundur. Mereka mengurungku. Aku berteriak. Mereka memukuliku tanpa ampun. Kulitku rata membiru karena cubitan dari ibu. Belum lagi bapak. Dia mengangkat tubuhku dan langsung membanting. Seluruh amarah ditumpahkannya.
“Ampuuun Maaaaaak........!” jeritku
“Tidak ada ampun untuk anak kurang ajar sepertimu!” teriak ibuku
Akhirnya aku pingsan. Mereka gugup. Aku merasa mereka membawaku ke rumah sakit. Aku sadar. Tapi tak ingin bangun. Aku mati ketakutan. Di perjalanan Anan mengikutiku, aku memberikan isyarat kepadanya, syukurnya ia langsung mengerti. Aku di periksa beberapa dokter. Aku dibiarkan beberapa saat istirahat di ruang gawat darurat. Anan menghampiri ranjang yang kutiduri. Dagingku ingin terlepas dari dari tulang-tulangnya. Aku harus bertahan. Apapun yang terjadi aku harus menggapai mimpiku. Bersama Anan.
“Aku ingin pergi....!” lirihku ke Anan.
“Sabar ya...!” hibur Anan
Kedua orang tuaku keluar ruangan untuk menebus obat.
“Ini adalah kesempatan kita...!” kataku dan langsung merangkul Anan.
“Mau kemana...?” tanya Anan
“Terserah...! yang penting bawa aku pergi jauh dari sini..!” jelasku.
“Oke...!” jawab Anan.
Kami pergi meninggalkan rumah sakit. Anan menepuk-nepuk kepalaku.Ia senyum.


THE END


Catatan
Sesengot          : pria yang berkumis tebal (sebutan pejabat terkenal).
Punggawa        : sejenis perahu besar untuk membantu nelayan mencari ubur-ubur.
Rimpa              : sejenis alat untuk menangkap ikan.
Kerongo          : sebutan kasar anak-anak Bajau.

oleh Big Buddy
(Tri Budiyarni)


Melukis Waktu

0 komentar

KAWAN saya sempat bersungut-sungut
saat tahu parkir di warung kopi ini
sekarang berbayar. Kabarnya, tempo
hari ada kepala polisi setempat yang
mampir sekadar untuk bilang kalau
parkir berantakan.

Tak lama berselang hari, seorang paro
baya dengan rompi biru khas
bertuliskan juru parkir mengklaim
sebagai "penguasa" parkir. Berdalih
ingin merapikan. Bermodal peluit, tanpa
karcis yang jelas.
Kalau ada sepeda motor datang, dia
menyemprit. Peluit seharga tak lebih
dari Rp 2.000 itu seperti ngomong
"Jangan lupa, nanti kalau pulang cari
saya. Bayar pajak parkirnya pada
saya,". Demikian, kira-kira peluit yang
juga berbunyi saat kami akan beranjak
pergi. Seperti berkata, "Hei, bayar dulu
ya. Kan tadi pas mau parkir sudah saya
ingatkan,"
Tapi toh, seruwet apapun perpajakan
parkir liar ini tak membuat kami surut
mengopi.

Di warung kopi, kami
melupakan semua kepenatan. Kami
menggigit langit, menengadahkan cita-
cita yang tak pernah kami pedulikan
apakah akan tercapai atau tidak.

Omong kosong. Tak usah membuat
susah hidup dengan keinginan yang
sulit dicapai, teman.
"Sekarang parkirnya seribu. Sebulan
dua bulan lagi pasti dua ribu. Kalah
parkir di mall," kata seorang kawan
lantas menyulut rokok. Dia, aku, dan
tiga kawan lain, masing-masing
menghadapi kopi segelas kecil seharga
Rp 2.500.

Kopi kental hitam pekat dan
berampas. Pahitnya pas sehingga
mengesankan kalau gula hanya
aksesoris. Berapa takaran sendok dan
gulanya, kami tak mau ambil pusing.

Mungkin diaduk selama satu kali
bacaan alfatihah atau ayat kursi, kami
tak mau perhatikan sangat.
Tapi kami pernah membahasnya,
membahas sekenanya: iseng.
"Sesendok gula dan sesendok kopi
dengan air secukupnya. Diaduk 33 kali
seperti jumlah biji tasbih," tuding salah
satu teman.

"Satu setengah sendok
kecil kopi dan sesendok kecil gula
ditambah sejumput, sejumput sekali,
garam. Buat syarat, seperti kata dukun-
dukun asal tapal kuda. Diaduk sambil
membaca ya rozak ya rozak ya rozak
21 kali," ungkap kawan yang doyan
klenik.
Kami hanya ingin bercengkerama
dengan beragam cerita yang kadang
tidak ada maksud dan tujuannya.

Jauh dari semangat penelitian dosen-dosen.
Jauh dari ucapan-ucapan indah
sastrawan di buku puisi yang tak bisa
dicerna. Tapi indah.

Dan karena indah
itu, makna dikesampingkan. Tapi kami
tak peduli.
segelas kecil kopi baru habis empat
jam KAMI benar-benar kecanduan warung
kopi. Kecanduan berada di sini.

Di kota
yang menghargai pahlawan selayaknya
nabi. Di kota yang makam dua wali
setanah dengan bekas lokalisasi
prostitusi yang pernah jadi terbesar di
asia tenggara ini.
Nyaris di setiap sudut jalan, ada
warung-warung kopi. Yang ramainya
tak kalah dengan kafe pada gedung
jangkung pusat perbelanjaan.

Sepertinya para pencakar langit itu
tidak peduli pada gerobak atau PKL
kopi yang sewaktu-waktu bisa kena
gusur. Digusur demi keindahan kota.

Demi menjaga perasaan pelanggan mall
yang borjuis agar selalu senang saat
melintas di jalanan.Kami datang jam
sembilan malam.

Setelah kami
menuntaskan pekerjaan kami yang penat. Dan ada pula kawan yang habis
mengerjakan tugas-tugas kuliah-
tepatnya skripsi, yang molornya minta
ampun. Sudah tujuh tahun, sobat, dan
skripsimu masih daftar isi! Betapa
lamban, aduh, tapi aku tidak mau
mengurus urusan itu di warung kopi ini.
Tak usah mengurus urusan yang bisa
membuat kawan-kawan kita sumpek
mendengar topik-topik menohok.
Menyudutkan. Atau apapun istilahnya
itu. Di tempat yang segelas kecil kopi bisa
baru habis setelah tiga atau empat jam
ini, kawan-kawan sesekali membaca
koran. Berita luar negeri, gambar pemandangan negeri seberang yang
elok. Iklan ke luar negeri.

Iklan tamasya
dengan pesawat yang sungguh pun
sudah dipromosikan murah, tetap saja
mahal bagi kami. Bagi kami yang suka
minum kopi sambil nyemil krupuk udang
sebungkus lima ratus ini, angka di koran
itu fantastis.

Tidak, kami memang tidak peduli. Kami
tidak sedang dalam keinginan menjajal
tanah atau negeri orang. Biarkan orang
bermimpi keliling dunia, dan kami hanya
memikirkan bahwa semua kawan harus
diundang saat menikah nanti. Betapa
senangnya bersilaturahmi dalam
suasana yang bahagia itu. "Tolong
kasih undangan ini pada kawan-kawan
kita yang tertulis di sana," ujar salah
satu kawanku yang sudah lama ingin
kawin dan beruntung akhirnya keturutan
juga.

"Masya Allah. Untung kamu lagi mau
menikah. Jadi, aku akan menghargai
perintah ini. Tugasmu ini cukup berat
bagi saya, tapi tak mengapa," sahutku
saat melihat sepuluh undangan yang
dititipkannya padaku. Semua beralamat
luar kota. Bahkan luar provinsi. Satu
lembar untuk kawan yang sudah
merantau ke luar pulau!
Toh, tak bakal semua aku sampaikan
langsung. Paling juga ku-sms saja
mereka semua. Tapi aku pura-pura
mengeluh. Biar kena pisuh. Dan
memang beberapa kawan mengumpat
keluhanku. "Halah, kamu kan cukup
sms aja kalau undangan untuk mereka
ada di tanganmu. Sampaikan kapan
waktu pernikahannya, selesai. Pakai
sok keberatan segala. Tai kucing," kata
salah satu rekan.
Aku sengaja mengeluh. Biar kena pisuh.

Biar suasana di meja kami yang ringkih
ini menjadi lebih hidup. Saat malam
terus beranjak naik dan menyebarkan
kesakralan.

Orang-orang masih sesekali melintas di
jalan besar yang kami hadapi. Yang
nyaris tak berjarak dengan sudut terluar
meja kami. Jalanan masih
mengantarkan orang berpacaran di atas
sepeda motor. Muda-mudi. Atau bujang
lapuk dan perawan tua.
Saat perempuan memeluk mesra sambil
menyandarkan kepala di punggung
lelakinya.

Perempuan yang berkaos
ketat. Dengan celana ketat pula. Yang
bokongnya sedikit terlihat. Yang
rambutnya sedikit pirang. Yang matanya
sedikit tertutup seolah ingin tidur sambil
memeluk lelaki.

Tapi berhubung di
kamar kost-nya, atau di kamar
rumahnya, orang-orang akan memarahi
kalau dia tidur bersama lelaki, akhirnya
dia memilih pura-pura tidur di atas
sepeda motor dengan memeluk lelaki
dari belakang.

Perempuan-perempuan, masih
beberapa yang lalu lalang di jalan
besar. Yang bila ada yang berkulit putih
bertubuh sintal, berwajah yang
kekusamannya tersamarkan gelap
malam dan tersapu warna remang
lampu jalan, salah satu dari kami
mengatakan, "Enaknya kalau malam-
malam begini bisa kencan dengan
perempuan semacam itu," celetuknya.
Dan malam terus menanjak. Kami
berbincang sekenanya sesuai yang kami
inginkan. Tidak peduli untung atau rugi.

Ini soal keinginan, juga kepuasan.
kami tak peduli pada pengkhotbah
SAYA, dan sepertinya juga kami, tak
peduli dengan uraian khotbah pemuka
agama. Yang kadang, di kota ini,
mereka mengkritik soal banyaknya
orang nongkrong di warung kopi.
Menghabiskan waktu berjam-jam
dengan segelas kecil kopi. Betapa

percuma dan menyia-nyiakan umur!
Itulah kata salah satu dari mereka
dengan intonasi geregetan.
Kami justru mempertanyakan
kredibilitas pengkhotbah yang
tampaknya dari tahun ke tahun
tubuhnya semakin subur itu. Semakin
gemuk setelah sering tampil di acara
TV lokal, bahkan nasional. Lha
bagaimana kami-atau mungkin hanya
saya-percaya dengan orang yang
mengatakan pengikut nabi, kalau
secara model badan saja dia tidak
sevisi dengan orang suci.
Sebentar, sebentar, jangan lantas
berpikir bahwa pengikut nabi harus
berwajah, bertinggi badan, atau
berpostur sama dengan nabi. Tapi
paling tidak, nabi tidak gemuk dan
bertambah gemuk seperti dia.

Apalagi buncit!
Ingatkah saat dua sahabat yang mengikatkan batu di perut karena
menahan lapar datang ke rumahnya.

Minta barang sebiji dua biji kurma
karena sudah terlalu kosong perut
mereka. Dan mereka mendapati nabi
tersenyum. Membuka kain penutup
perutnya dan terlihat kalau batu yang
terselip di sana lebih banyak dari batu
yang mereka ganjalkan di perut
mereka?
Ya, soal perut ini sensitif bagi kami jika
dikaitkan dengan agama. Kami pernah
berbincang dan sepakat, selama
pemuka agama memikirkan perut, maka
ucapan mereka tidak bisa dipercaya!
Selama orientasinya wanita, khutbah
mereka adalah sampah! Mendinglah
kami yang tak pernah berdalil ini, biar
bertubuh tambun, biar jelalatan melihat
perempuan.

Apalagi saat dia berkhutbah hari Jumat,
dua puluh menit bermonolog dan pesan
yang disampaikan membosankan.

Selama itu pula banyak jamaah yang
mengantuk. Oh, betapa menyedihkan.
Sementara salah satu saksi yang kami
imani mengatakan, jumlah kalimat
khutbah jumat nabi bisa dihitung, saking
pendeknya!
Jadi, apakah kami lantas harus
terganggu dengan kritikan pengkhutbah
macam itu? Tentu tidak.
Dan kami akan tetap berbicara soal
sepak bola.

Dengan analisis lisan yang
kami pikirkan sekuat tenaga berdasar
referensi seadanya. Dari koran-koran
atau website olahraga. Dan tidak
seperti mereka, para komentator di
televisi yang dibayar, pasti tidak ada
yang sudi membayar ocehan murahan
kami ini. Tapi sekali lagi, kami senang
melakukannya. Ini soal kepuasan.

Misalnya saat seorang teman bilang
bahwa seorang pemain yang dibandrol
mahal tidak maksimal di klub baru.

Tidak seperti saat dia main di tim
papan tengah negeri yang berbeda.
Atraktif dan inspiratif. Lalu teman itu
berbicara tentang persoalan psikologis.

"Pemain berwajah kotak itu terlalu
membawa beban di pundaknya saat
berlari menyusuri lapangan hijau,"
ujarnya.
Ada lagi teman yang mengatakan, salah
satu tim inggris terkaya selalu merekrut
pemain asia. Paling tidak ada satu
pemain asia yang tinggi badannya tidak
sepadan dengan eropa di starting
eleven.

Alasannya tak lain adalah
kapitalisme. "Orang-orang barat adalah
kaum materialis. Semua adalah soal
menambah pasar untuk jual
merchandise di asia dan mengisi
kantong para pemodal," kali ini kawan
lain ngomong soal kapitalisme.

Apapun kami omongkan di meja yang
dikitari meja-meja lain yang sama
kusam ini. Meja-meja yang selagi
malam berlanjut di pertengahan, tak jua
sepi pengunjung. Kadang kami saling
tuding dengan telunjuk atau jari tengah.

Kadang terkekeh atau malah
menancapkan mata pada mata-mata
yang lain dengan serius.
Kami juga menyinggung soal pemain
lokal dari kota ini.

Yang memilih hijrah
ke negeri jiran. Seorang kawan yang
sejak SD sudah gemar menonton bola
di tengah malam mengatakan. Ini
adalah bentuk ketidakpuasan pada
sistem. Betapa tidak, pemain itu
memang merasa diakali soal gaji di klub
lokal.
"Dia sedang berjuang untuk
persepakbolaan kita. Perjuangan itu
tidak hanya dengan teriakan atau
perlawanan. Kadang, perjuangan
dilancarkan melalui pembangkangan,"
ungkap laki-laki yang gagal dalam tes
fisik klub sepak bola lokal karena paru-
parunya terlalu terkontaminasi asap
rokok itu.

Hingga pada pukul 01.00, salah seorang
dari kami berdiri, pamit pulang dan
menjabat tangan kami satu-satu.
"Selamat istirahat kawan, yang ingin
beristirahat seperti saya setelah ini.

Yang ingin tetap di sini, selamat
menikmati suasana warung kopi,"
ujarnya dengan senyum tipis. Rokok
disulutnya seraya melangkahkan kaki
ke sepeda motornya.

Beberapa menit berlalu, ganti aku yang
bangkit. Pamit pulang dan menjabat
tangan mereka satu-satu. "Aku duluan,"
kataku singkat disambut anggukan
mereka yang maknanya seperti magis.
Kulangkahkan kaki ke sepeda motor.

Seorang juru parkir datang. Aku tak
pedulikan dia karena sejurus aku
sedang ingin melihat langit dengan
taburan bintang. Kutarik nafas dalam-
dalam, kulepaskan sambil terbatuk.

Besok, kehidupan berjalan seperti biasa Bersama Dzat Yang Maha Luar Biasa


42 Falsafah Kejawen

0 komentar

Ketuhanan
1. Pangeran iku siji, ana ing ngendi papan
langgeng, sing nganakake jagad iki saisine, dadi
sesembahane wong sak alam kabeh, nganggo
carane dhewe-dhewe. (Tuhan itu tunggal, ada di
mana-mana, yang menciptakan jagad raya
seisinya, disembah seluruh manusia sejagad
dengan caranya masing-masing)
2. Pangeran iku ana ing ngendi papan, aneng
siro uga ana pangeran, nanging aja siro wani
ngaku pangeran. (Tuhan ada di mana saja, di
dalam dirimu juga ada, namun kamu jangan
berani mengaku sebagai Tuhan)
3. Pangeran iku adoh tanpa wangenan, cedhak
tanpa senggolan. (Tuhan itu berada jauh namun
tidak ada jarak, dekat tidak bersentuhan)
4. Pangeran iku langgeng, tan kena kinaya
ngapa, sangkan paraning dumadi. (Tuhan itu
abadi dan tak bisa diperumpamakan, menjadi
asal dan tujuan kehidupan)
5. Pangeran iku bisa mawujud, nanging
wewujudan iku dudu Pangeran. (Tuhan itu bisa
mewujud namun perwujudannya bukan Tuhan)
6. Pangeran iku kuwasa tanpa piranti, akarya
alam saisine, kang katon lan kang ora kasat
mata. (Tuhan berkuasa tanpa alat dan pembantu,
mencipta alam dan seluruh isinya, yang tampak
dan tidak tampak)
7. Pangeran iku ora mbedak-mbedakake
kawulane. (Tuhan itu tidak membeda-bedakan
(pilih kasih) kepada seluruh umat manusia)
8. Pangeran iku maha welas lan maha asih,
hayuning bawana marga saka kanugrahaning
Pangeran. (Tuhan Maha Belas-Kasih, bumi
terpelihara berkat anugrah Tuhan)
9. Pangeran iku maha kuwasa, pepesthen saka
karsaning Pangeran ora ana sing bisa
murungake. (Tuhan itu Mahakuasa, takdir
ditentukan atas kehendak Tuhan, tiada yang bisa
membatalkan kehendak Tuhan)
10. Urip iku saka Pangeran, bali marang
Pangeran. (Kehidupan berasal dari Tuhan dan
akan kembali kepada Tuhan)
11. Pangeran iku ora sare. (Tuhan tidak pernah
tidur)
12. Beda-beda pandumaning dumadi. (Tuhan
membagi anugrah yang berbeda-beda)
13. Pasrah marang Pangeran iku ora ateges ora
gelem nyambut gawe, nanging percaya yen
Pangeran iku maha Kuwasa. Dene kasil orane
apa kang kita tuju kuwi saka karsaning
Pangeran. (Pasrah kepada Tuhan bukan berarti
enggan bekerja, namun percaya bahwa Tuhan
Menentukan)
14. Pangeran nitahake sira iku lantaran biyung
ira, mulo kudu ngurmat biyung ira. (Tuhan
mencipta manusia dengan media ibumu, oleh
sebab itu hormatilah ibumu)
15. Sing bisa dadi utusaning Pangeran iku ora
mung jalma manungsa wae. (Yang bisa menjadi
utusan Tuhan bukan hanya manusia saja)
16. Purwa madya wasana. (zaman awal/
sunyaruri, zaman tengah/ mercapada, zaman
akhir/ keabadian)
17. Owah gingsiring kahanan iku saka karsaning
Pangeran kang murbeng jagad. (Berubahnya
keadaan itu atas kehendak Tuhan yang mencipta
alam)
18. Ora ana kasekten sing madhani pepesthen
awit pepesthen iku wis ora ana sing bisa
murungake. (Tak ada kesaktian yang menyamai
takdir Tuhan, sebab takdir itu tidak ada yang
bisa membatalkan)
19. Bener kang asale saka Pangeran iku lamun
ora darbe sipat angkara murka lan seneng gawe
sangsaraning liyan. (Bener yang menurut Tuhan
itu bila tidak memiliki sifat angkara murka dan
gemar membuat kesengsaraan orang lain)
20. Ing donya iki ana rong warna sing diarani
bener, yakuwi bener mungguhing Pangeran lan
bener saka kang lagi kuwasa. (Kebenaran di
dunia ada dua macam, yakni benar menurut
Tuhan dan benar menurut penguasa)
21. Bener saka kang lagi kuwasa iku uga ana
rong warna, yakuwi kang cocok karo benering
Pangeran lan kang ora cocok karo benering
Pangeran. (Benar menurut penguasa juga
memiliki dua macam jenis yakni cocok dengan
kebenaran menurut Tuhan dan tidak cocok
dengan kebenaran Tuhan)
22. Yen cocok karo benering Pangeran iku ateges
bathara ngejawantah, nanging yen ora cocok
karo benering Pangeran iku ateges titisaning
brahala . (Kebenaran yang sesuai dengan
kebenaran menurut Tuhan, itu berarti tuhan yang
mewujud, namun bila tidak sesuai dengan
kebenaran menurut Tuhan, berarti penjelmaan
angkara)
23. Pangeran iku dudu dewa utawa manungsa,
nanging sakabehing kang ana iki uga dewa lan
manungsa asale saka Pangeran. (Tuhan itu
bukan dewa atau manusia, namun segala yang
ada (dewa dan manusia) adanya berasal dari
Tuhan.
24. Ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi
saka karsaning Pangeran. (Keburukan dan
kebaikan merupakan satu kesatuan, semua itu
sudah menjadi rumus/kehendak Tuhan)
25. Manungsa iku saka dating Pangeran mula
uga darbe sipating Pangeran. (Manusia berasal
dari zat Tuhan, maka manusia memiliki sifat-
sifat Tuhan)
26. Pangeran iku ora ana sing Padha, mula aja
nggambar-nggambarake wujuding Pangeran.
(Tidak ada yang menyerupai Tuhan, maka
janganlah melukiskan dan menggambarkan
wujud tuhan)
27. Pangeran iku kuwasa tanpa piranti, mula
saka kuwi aja darbe pangira yen manungsa iku
bisa dadi wakiling Pangeran. (Tuhan berkuasa
tanpa perlu pembantu, maka jangan menganggap
manusia menjadi wakil Tuhan di bumi)
28. Pangeran iku kuwasa, dene manungsa iku
bisa. (Tuhan itu Mahakuasa, sementara itu
manusia hanyalah bisa)
29. Pangeran iku bisa ngowahi kahanan apa wae
tan kena kinaya ngapa. (Tuhan mampu merubah
keadaan apa saja tanpa bisa dibayangkan/
perumpamakan)
30. Pangeran bisa ngrusak kahanan kang wis ora
diperlokake, lan bisa gawe kahanan anyar kang
diperlokake. (Tuhan mampu merusak keadaan
yang tidak diperlukan lagi, dan bisa membuat
keadaan baru yang diperlukan)
31. Watu kayu iku darbe dating Pangeran,
nanging dudu Pangeran. (Batu dan kayu adalah
milik zat Tuhan, namun bukanlah Tuhan)
32. Manungsa iku bisa kadunungan dating
Pangeran, nanging aja darbe pangira yen
manungsa mau bisa diarani Pangeran. (Di dalam
manusia dapat bersemayam zat tuhan, akan
tetapi jangan merasa bila manusia boleh disebut
Tuhan)
33. Titah alus lan titah kasat mata iku kabeh
saka Pangeran, mula aja nyembah titah alus
nanging aja ngina titah alus. (Makhluk halus dan
makhluk kasar/wadag semuanya berasal dari
tuhan, maka dari itu jangan menyembah makhluk
halus, namun juga jangan menghina makluk
halus)
34. Samubarang kang katon iki kalebu titah kang
kasat mata, dene liyane kalebu titah alus.
(Semua yang tampak oleh mata termasuk
makhluk kasat mata, sedangkan lainnya
termasuk makhluk halus)
35. Pangeran iku menangake manungsa senajan
kaya ngapa . (Tuhan memenangkan manusia
walaupun seperti apa manusia itu)
36. Pangeran maringi kawruh marang manungsa
bab anane titah alus mau. (Tuhan memberikan
pengetahuan kepada manusia tentang eksistensi
makhluk halus)
37. Titah alus iku ora bisa dadi manungsa lamun
manungsa dhewe ora darbe penyuwun marang
Pangeran supaya titah alus mau ngejawantah.
(Makhluk halus tidak bisa menjadi manusia bila
manusia tidak punya permohonan kepada Tuhan
agar makhluk halus menampakkan diri)
38. Sing sapa wani ngowahi kahanan kang lagi
ana, iku dudu sadhengah wong, nanging
minangka utusaning Pangeran. (Siapa yang
berani merubah keadaan yang terjadi, bukanlah
sembarang orang, namun sebagai “utusan”
tuhan)
39. Sing sapa gelem nglakoni kabecikan lan ugo
gelem lelaku, ing tembe bakal tampa
kanugrahaning Pangeran . (Siapa saja yang
bersedia melaksanakan kebaikan dan juga mau
“lelaku” prihatin, kelak akan memperoleh
anugrah tuhan)
40. Sing sapa durung ngerti lamun piyandel iku
kanggo pathokaning urip, iku sejatine durung
ngerti lamun ana ing donyo iki ono sing ngatur.
(siapa yang belum paham, lalu menganggap
sipat kandel itu sebagai rambu-rambu hidup,
yang demikian itu sesungguhnya belum
memahami bila di dunia ini ada yang mengatur)
41. Sakabehing ngelmu iku asale saka Pangeran
kang Mahakuwasa. (Semua ilmu berasal dari
Tuhan yang Mahakuasa)
42. Sing sapa mikani anane Pangeran, kalebu
urip kang sempurna. (Siapa yang mengetahui
adanya Tuhan, termasuk hidup dalam
kesempurnaan).