-
Belum cukup ilmu harap tidak membaca artikel ini dan bab-bab sebelumnya.Allah bertahwil (berubah keadaan) dalam segala rupa.
Salah
seorang guru saya membuka masalah ini dengan kata-kata ” tidak mustahil
bagi Allah mewujudkan sifatNya dalam rupa mahkluk, tetapi mustahil
mahkluk sama dengan Allah “.
Zat
dan sifat Allah tidak pernah dan tidak kan berubah-rubah. Namun
bertahwilnya Allah s.w.t. adalah urusan Allah sendiri dan kehendaknya
sendiri.
” Maa Sya’allahu Kaana Wamaa Lam Yasya’ Lam Yakun”
Artinya :
” Apa saja yang Allah kehendaki jadi, dan apa saja yang tidak dikehendaki Allah tak akan jadi “.
Mungkin
kata “Tahwil” ini yang diartikan oleh Buya Hamka dengan kata “jelma”
dalam tulisan beliau yang menyangkut faham Ibnu Araby, halaman 146
Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya.
Andai
kata Allah itu bertahwil pada segala rupa dan keadaan sebagaimana akan
terjadi di hari Kiamat, kemudian kita tidak mengkuinya sebagai Tuhan
dengan ucapan ” A’udzubillahi Minka” (Aku berlindung kepada Allah dari
pada engkau) maka hal tersebut tidaklah dipersalahkan. Yang tidak
diterima itu adalah “rupa dan bentuknya” bukan ain wujudnya.
“Dunia sebagai sesuatu ” sedikit dari yang sedikit, orang yang mengasyikinya adalah hina dari segala hina “
Yang
paling ramai dibicarakan golongan Sufi adalah masalah dunia dan sikap
hidup terhadapnya. Hampir semufakat mereka untuk menolak dunia dan
keduniaan ini dengan bermacam-macam cara dan laku, dengan riyadhoh dan
latihan, uzlah dan zuhud, berhaus berlapar perut, bertongkat mata
diwaktu malam.
Apabila
kita bertanya kepada mereka “kenapa anda berbuat emikian,
berpayah-payah berlemas badan, cekung mata karena begadang, kapan lagi
anda berjuang ?. Mereka menjawab dengan pandangan mata lurus kedepan
“inilah namanya perjuangan payah kami ini, namun segar nyaman pasti
mendatang – Inna ma’al usri yusran – dibalik kepayahan mengiringi
kesenangan, lapar kami hari ini, besok kami akan kenyang, cekung mata
hari ini, besok ia bertambah terang dan cemerlang, biarlah kami… biarlah
kami..
Menurut
adat dan kebiasaan, dipandang dari segi lahir dan kenyataan, bagaimana
nanti nasib umat jika mereka terus menerus demikian. Mana lagi orang
berzakat, mana lagi kegiatan membangun masjid, mana lagi perjuangan, dan
bermacam tanya yang diajukan.
Ada
yang mencela sikap mereka, dianggap hanya mengurus dirinya sendiri
tidak lagi menghiraukan perjuangan dan kepentingan masyarakat banyak.
Namun mereka tetap begitu dan terus begitu.
Tapi
ada yang ganjil dan istimewanya. Sepatah kata dari mereka yang keluar
dari mulut mereka untuk membangun jiwa ummat, ternyata lebih berharga
dari seribu ucapan dan pidato seribu pejabat negeri.
Terdengar
kabar dan berita, raja dan menteri datang bersujud dan sungkem kepada
mereka memohon restu dan doa, apa katanya takut dilanggar, apa
nasehatnya disimak dan didengar. Ini suatu kenyataan.
Betapa pengaruhnya ucapan dan kata panggilan Yang Mulia Tuan Guru H.Anang ‘Ilmi Martapura
terhadap gerombolan Ibnu Hajar, sewaktu beliau hidup, tanyakanlah
kepada bekas pengikutnya Ibnu Hajar yang masih ada sekarang ini.
Sebelum
ada panggilan Tuan Guru, beribu kata dan himbauan, ratusan motir dan
ribuan peluru yang dilepaskan, mereka tetap bertahan, Si Tuan Guru yang
sederhana itu, berdoa dengan khusuk kepada Allah agar mereka kembali ke
pangkuan Ibu Pertiwi, Doa Yang Mulia Tuan Guru berhasil, kesatuan
gerombolan datang berbondong-bondong kembali kekampung halaman dan
keluarga.
Tapi
sayang sungguh sayang. Masih ada yang mencemoohkan, apalah artinya
panggilan dari seorang sederhana demikian, memanggil dan berdoa tidak
menghabiskan sepiring nasi, yang berhasil itu hanyalah usaha lahir jua.
Sekarang
timbul pertanyaan pada diri, apakah harus mengikuti jejak mereka dengan
cara dan latihan yang demikian beratnya – namun besar manfaatnya –
ataukah ada suatu sistem lain dengan tidak meninggalkan prinsip bahwa
kehidupan akhirat jauh lebih berharga dari pada kehidupan dunia ?
Untuk
menjawab pertanyaan itu, kita hendak melihat dahulu ciri-ciri khas ”
hidup keduniaan ” dan ciri-ciri khas ” hidup keakhiratan atau
kemalaikatan “. Laksana tanda tanda lalu lintas mana tanda yang harus
kekanan, mana pula tanda yang harus kekiri, mana tanda boleh parkir
kendaraan dan mana yang tidak.
Sesuai
dengan ajaan Rasulullah, bahwa selama hidup di dunia, banyak
tuntutannya untuk dapat menerapkan kehidupan keakhiratan, bahkan pernah
beliau berpesan kepada dua sahabat beliau tersayang ( S. Umar dan S. Ali
r.anhuma) agar kelak menemui seorang yang bernama Uwais Al-Qarni, seorang yang diberi gelar oleh Rasulullah, seorang manusia penduduk langit.
Arti pesan itu jelaslah bahwa ada jalan menempuh ” hidup keakhiratan ” selagi masih hidup dan di permukaan bumi ini.
Hidup
keakhiratan yang kita maksudkan dapat pula disebutkan ” kehidupan alam
malakut ” yang dengan sendirinya memperhatikan bagaimana hidupnya para
malaikat.
Lebih Menarik Lagi:


