Belum cukup ilmu harap tidak membaca artikel ini ! | Blog Legenda Tauhid

Belum cukup ilmu harap tidak membaca artikel ini !


14.33 |

  • Belum cukup ilmu harap tidak membaca artikel ini dan bab-bab sebelumnya. 
    Allah bertahwil (berubah keadaan) dalam segala rupa.
Salah seorang guru saya membuka masalah ini dengan kata-kata ” tidak mustahil bagi Allah mewujudkan sifatNya dalam rupa mahkluk, tetapi mustahil mahkluk sama dengan Allah “.
Zat dan sifat Allah tidak pernah dan tidak kan berubah-rubah. Namun bertahwilnya Allah s.w.t. adalah urusan Allah sendiri dan kehendaknya sendiri.
” Maa Sya’allahu Kaana Wamaa Lam Yasya’ Lam Yakun”
Artinya :
” Apa saja yang Allah kehendaki jadi, dan apa saja yang tidak dikehendaki Allah tak akan jadi “.
Mungkin kata “Tahwil” ini yang diartikan oleh Buya Hamka dengan kata “jelma” dalam tulisan beliau yang menyangkut faham Ibnu Araby, halaman 146 Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya.
Andai kata Allah itu bertahwil pada segala rupa dan keadaan sebagaimana akan terjadi di hari Kiamat, kemudian kita tidak mengkuinya sebagai Tuhan dengan ucapan ” A’udzubillahi Minka” (Aku berlindung kepada Allah dari pada engkau) maka hal tersebut tidaklah dipersalahkan. Yang tidak diterima itu adalah “rupa dan bentuknya” bukan ain wujudnya.
“Dunia sebagai sesuatu ” sedikit dari yang sedikit, orang yang mengasyikinya adalah hina dari segala hina “
Yang paling ramai dibicarakan golongan Sufi adalah masalah dunia dan sikap hidup terhadapnya. Hampir semufakat mereka untuk menolak dunia dan keduniaan ini dengan bermacam-macam cara dan laku, dengan riyadhoh dan latihan, uzlah dan zuhud, berhaus berlapar perut, bertongkat mata diwaktu malam.
Apabila kita bertanya kepada mereka “kenapa anda berbuat emikian, berpayah-payah berlemas badan, cekung mata karena begadang, kapan lagi anda berjuang ?. Mereka menjawab dengan pandangan mata lurus kedepan “inilah namanya perjuangan payah kami ini, namun segar nyaman pasti mendatang – Inna ma’al usri yusran – dibalik kepayahan mengiringi kesenangan, lapar kami hari ini, besok kami akan kenyang, cekung mata hari ini, besok ia bertambah terang dan cemerlang, biarlah kami… biarlah kami..
Menurut adat dan kebiasaan, dipandang dari segi lahir dan kenyataan, bagaimana nanti nasib umat jika mereka terus menerus demikian. Mana lagi orang berzakat, mana lagi kegiatan membangun masjid, mana lagi perjuangan, dan bermacam tanya yang diajukan.
Ada yang mencela sikap mereka, dianggap hanya mengurus dirinya sendiri tidak lagi menghiraukan perjuangan dan kepentingan masyarakat banyak. Namun mereka tetap begitu dan terus begitu.
Tapi ada yang ganjil dan istimewanya. Sepatah kata dari mereka yang keluar dari mulut mereka untuk membangun jiwa ummat, ternyata lebih berharga dari seribu ucapan dan pidato seribu pejabat negeri.
Terdengar kabar dan berita, raja dan menteri datang bersujud dan sungkem kepada mereka memohon restu dan doa, apa katanya takut dilanggar, apa nasehatnya disimak dan didengar. Ini suatu kenyataan.
Betapa pengaruhnya ucapan dan kata panggilan Yang Mulia Tuan Guru H.Anang ‘Ilmi Martapura terhadap gerombolan Ibnu Hajar, sewaktu beliau hidup, tanyakanlah kepada bekas pengikutnya Ibnu Hajar yang masih ada sekarang ini.
Sebelum ada panggilan Tuan Guru, beribu kata dan himbauan, ratusan motir dan ribuan peluru yang dilepaskan, mereka tetap bertahan, Si Tuan Guru yang sederhana itu, berdoa dengan khusuk kepada Allah agar mereka kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, Doa Yang Mulia Tuan Guru berhasil, kesatuan gerombolan datang berbondong-bondong kembali kekampung halaman dan keluarga.
Tapi sayang sungguh sayang. Masih ada yang mencemoohkan, apalah artinya panggilan dari seorang sederhana demikian, memanggil dan berdoa tidak menghabiskan sepiring nasi, yang berhasil itu hanyalah usaha lahir jua.
Sekarang timbul pertanyaan pada diri, apakah harus mengikuti jejak mereka dengan cara dan latihan yang demikian beratnya – namun besar manfaatnya – ataukah ada suatu sistem lain dengan tidak meninggalkan prinsip bahwa kehidupan akhirat jauh lebih berharga dari pada kehidupan dunia ?
Untuk menjawab pertanyaan itu, kita hendak melihat dahulu ciri-ciri khas ” hidup keduniaan ” dan ciri-ciri khas ” hidup keakhiratan atau kemalaikatan “. Laksana tanda tanda lalu lintas mana tanda yang harus kekanan, mana pula tanda yang harus kekiri, mana tanda boleh parkir kendaraan dan mana yang tidak.
Sesuai dengan ajaan Rasulullah, bahwa selama hidup di dunia, banyak tuntutannya untuk dapat menerapkan kehidupan keakhiratan, bahkan pernah beliau berpesan kepada dua sahabat beliau tersayang ( S. Umar dan S. Ali r.anhuma) agar kelak menemui seorang yang bernama Uwais Al-Qarni, seorang yang diberi gelar oleh Rasulullah, seorang manusia penduduk langit.
Arti pesan itu jelaslah bahwa ada jalan menempuh ” hidup keakhiratan ” selagi masih hidup dan di permukaan bumi ini.
Hidup keakhiratan yang kita maksudkan dapat pula disebutkan ” kehidupan alam malakut ” yang dengan sendirinya memperhatikan bagaimana hidupnya para malaikat.


Lebih Menarik Lagi:


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar